Dear All,

Saya melihat kasus bajir cukup kompleks, karena melibatkan pemerintah
(pembuat aturan, pembuat rancangan kota), aparat (penegak aturan) dan
masyarakat.

Terkadang masyarakat Jakarta hidup kotor. Lihat saja,
- Ada yang membangun rumah di pinggir kali (sungai) dan membuang sampah di
kali sehingga menyebabkan kali menjadi kotor. Jika hujan lebat, ya otomatis
kali menguap dan terjadilah banjir.
- Pedagang kaki lima yang seringkali berjualan di trotoar dan menybabkan,
saluran pembuangan air di jalanan tertutup (dan juga pembuang sampah
lainnya).
- Banyaknya bangunan ber-semen, sehingga tanah berkurang. Hal ini
mengakibatkan air hujan tidak masuk ke tanah, dan walaupun masuk, -karena
tanahnya tidak luas- menyababkan tanah menjadi cepat jenuh sehingga banyak
air menggenang yang menyababkan banjir. Contohnya, perumahan elit di Kelapa
Gading yang juga kebanjiran :)


So, menurut saya, mencegah banjir memang harus kesadaran masing-masing dan
mendapat dukungan semua pihak,saya juga berfikir, masyarakat kita jago
membuat tapi gak jago maintain sesuatu.
Menurut saya pribadi, tindakan PKS cukup tanggap untuk membantu korban
banjir. Mungkin kedepannya PKS mulai memikirkan gimana caranya agar para
masyarakat (khusunya kadernya terlebih dahulu) agar sadar bahaya banjir dan
mem-push pemerintah & aparat agar lebih tegas dan tanggap dalam menghadapi
banjir. Kan, PKS kandidat kuat juara di pemilu nanti :)







On 2/15/07, Danny Lim <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

  Perduli? What do you mean with perduli? Rakyat 'tuh TIDAK mau
kebanjiran, siapa yang mau ditolong posko banjir? Haiyaa .....
mengarang cerita sendiri nih yee? Uhuk uhuk.

Orang yang perduli adalah orang yang MENCEGAH banjir, bukan jor-
joran di posko banjir. Mencegah banjir adalah filosofi Belanda,
makanya Belanda tidak kebanjiran, posko banjir adalah falsafahnya
banyak orang Indonesia termasuk Ibnu Sudarmono, karenanya
Jakarta/Indonesia kebanjiran. Masing-masing negara merdeka berhak
menentukan sendiri masa depannya, bukan?

Salam hangat, Danny Lim, Nederland

--- In [email protected] <mediacare%40yahoogroups.com>, "ibnu
sudarmono"
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Saya juga berani ngasih 1 kerat teh botol sosro, tahun depan yang
senangnya berteori masih tetep dengan hobinya, yang suka mengkritik,
masih tetap dengan kebiasannya, yang suka mencaci masih tetap dengan
perangainya.
>
> dan yang perduli, akan bertambah ladang amalnya, dan makin banyak
yang di kerjakan.....
>
> ibnu sudarmono.
>
>

Kirim email ke