Mas Eka Zul, Pendapat Pa Rudi ada benarnya, apalagi biasanya redaksional iklan bukan dari media, tapi dari si pemasang iklan,
sejauh yang saya ketahui, perusahaan pemasang iklan biasanya membatasi jumlah pelamar (krn ngga mau repot?), caranya ya macem-macem, ada yang membatasi umur, ada yang membatasi inilah, itulah,..... kenyataannya yang terpilih ya itu-itu juga, kalo ngga masih sedulur, yang sepupu key person atau apalah.........selain yang benar-benar melalui prosedur yang pernah disyaratkan di iklannya......... santai aja mas, kesuksesan tidak hanya ditemukan di satu tempat, mas juga bisa memilih mau sukses dimana koq, kalo dia pilih alumni IPB, UI, UGM, UNPAD dan UNDIP, mas juga tetap bisa sukses di perusahaan yang ngga ada IPB, UI, UGM, UNPAD dan UNDIPnya, ya toch? Hehehe.............. Salam, "Rudi Antono" <[EMAIL PROTECTED]> Sent by: [email protected] 02/18/2007 03:28 PM Please respond to [email protected] To [email protected] cc Subject Re: [mediacare] Mohon masukan dan saran dari temen-temen jurnalis mungkin tiada maksud seperti dari itu dari media tersebut, coba saja dulu. itu kan masalah kompentensi, jika secara personal kita mampu pasti diterima. sebaiknya media tersebut jangan mengutamakan PT tertentu, utamakan yang terbaik itu baru boleh. Kalo masalah Jilbab, jika Ia Muslim jangan protes lah, tidak suka diam saja. sukses ya eka zulkarnain <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Dua hari yang lalu saya membaca sebuah lowongan kerja di sebuah situs dari sebuah media terkemuka di negeri ini (tidak perlu disebutkan medianya). Media tersebut membuka lowongan untuk reporter. Lucunya di salah satu persyaratannya ditulis: "Pendidikan S1 (lebih disukai lulusan IPB, UI, UGM, UNPAD, UNDIP". Kacamata saya melihat, media tersebut sudah melakukan diskriminasi pendidikan dan penerimaan pegawai. Di dalam kalimat itu tersirat bahwa hanya alumni dari kelima lembaga pendidikan tinggi itu saja yang bisa diterima, sedangkan lembaga pendidikan lain sangat sempit sekali peluangnya atau bahkan tak ada. Saya khawatir, pers sebagai salah satu ornamen penting dalam demokrasi malah menjadi penyokong nilai yang menghambat pertumbuhan demokrasi itu sendiri (atau saya salah karena opini saya ini terlalu berlebihan?). Saya juga berpikir, memangnya dunia pendidikan ini cuma milik IPB, UI, UGM, UNPAD dan UNDIP? Memangnya yang berpendidikan tinggi dan layak jadi wartawan ekonomi itu cuma dari kelima perguruan tinggi itu? Banyak faktor yang menyebabkan lulusan pendidikan menengah di Indonesia tidak mampu menembus perguruan tinggi negeri, khususnya menembus kelima perguruan tinggi di atas. Bukan cuma faktor IQ, bisa jadi ekonomi, bisa jadi faktor luck, bisa jadi faktor akses dan lain-lain. Alangkah lebih baik kalau di persyaratan itu ditetapkan kalimat :Persyaratan S1 lulusan dari IPB, UI, UGM, UNPAD dan UNDIP. Titik. Menurut saya ini adalah salah satu bentuk diskriminasi dalam proses penerimaan pegawai di sebuah perusahaan. Bagaimana dengan pendapat rekan-rekan? Eka Zulkarnain MOD: Yang lebih parah lagi, kini bertebaran iklan yang mensyaratkan wajib berjilbab bagi para pelamar.
