Maaf  nimbrung:
Saya setuju sekali dengan wacana mengubah pola makan seperti yg ditulis Pak 
Tobing
dan Mbak Ati yang lama di USA. Disamping sehat juga kiranya akan dapat menolong
masalah perberasan di Tanah Air. Menarik saya lihat di film2 Hollywood bgmn 
mereka
makan sirloin steak dengan jagung rebus. Dan di Ceko budayanya masih juga
menanam jagung terutama untuk pakan ternak. Padahal jagung sehat untuk jantung.
Juga sweet potatoes (ubi rambat?) sangat banyak mengandung vitamin, mineral dll.

Btw, saya ingat ketika masa kanak2 di Jogja juga enak sekali makan goreng sukun 
(?)
yaitu semacam jackfruit (nangka) yang lebih kecil, sangat gurih.
Gaplek, thiwul dll memang kami makan terutama waktu Jogja jatuh ketangan NICA
1948 dan kurang bahan makanan, ternyata kami punya cadangan gaplek yang awalnya
untuk pakan ayam.

Namun untuk dapat mengubah pola makan itu wacana harus dijadikan gerakan 
nasional
yang tentu harus dipandu dan di manage oleh pemerintah. Seperti ketika Eropa 
mulai
memerangi lemak dll agar penduduknya lebih sehat.

Salam, Bismo DG

  ----- Original Message -----
  From: Tobing Leonard
  To: [EMAIL PROTECTED]
  Sent: Monday, February 19, 2007 2:22 PM
  Subject: Re: [nasional-list] Beras, PhD dan Politikus Pedagang utk Bpk Rudy 
Patirajawane



  Bapak Rudy,
  Kalau mau bekerja keras tidak akan susah dapat beras, baca Kompas, hari ini 
Senin, 19 Pebruari 2007 hal 1 dengan judul "Bekerja Sambilan sebagai Petani" 
Kalau kita kekurangan beras maka ini merupakan kesalahan kita semua karena 
siapapun yg jadi pimpinan untuk menyediakan beras untuk 220 jt orang yang makan 
nasi tiap hari dan 3 x sehari, coba kita hitung berapa banyak beras yg 
dibutuhkan.
  Kita harus belajar makan nasi sekali sehari dan 3 x seminggu dan selebihnya 
makan kentang, jagung, roti, ubi, singkong, kolak pisang, sagu dll maka kita 
tidak akan kelaparan seperti orang Thai, Vietnam, India, Pakistan.
  Apakah Bapak Rudy masih ingat waktu terjadi gagal panen di Yakohimo yang 
dikirim beras dan mie, apa akibatnya mereka bingung bagaimana memasaknya karena 
yang mereka butuhkan adalah ubi (makanan utama mereka). Kesalahan kita orang 
yang biasa makan sagu, jagung, ubi diajari makan nasi. Sepe rti di kampung saya 
orang malu makan ubi (sweet potato) karena makan ubi dikatakan miskin (makanan 
babi) padahal harganya lebih mahal dari beras, inilah kebodohan kita. Di jawa 
sebelumnya tidak masalah makan tiwul (tepung singkong) karena itu merupakan 
makanan pokok tetapi sekarang jadi masalah. Bangsa Eropa kalau tiaphari makan 
kentang dan 3 x sehari mereka juga tidak akan dapat memenuhi kebutuhan 
pangannya, tetapi mereka selain kentang makan nasi, roti, spaghetti dan makanan 
lainnya.
  Kelemahan orang Indonesia kalau belum makan nasi belum makan walaupun sudah 
makan 2 porsi mie goreng. Jadi yang salah itu kita sendiri. Marilah kita mulai 
diversivikasi makanan jangan hanya nasi, maka tidak akan timbul masalah 
masalah. Inilah pandangan saya Pak Rudy, saya bukanlah pendukung SBY tetapi 
dalam hal pakan marilah kita coba berbagai macam makanan.
  Sekian
  Leo Tobing

  Rudy Patirajawane <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
    Apa manfaatnya punya Presiden yang beberapa saat menjelang pilpres 2004 
tiba-tiba meraih PhD di Institut Pertanian Bogor yang prestisius dalam ekonomi 
pertanian kalau pemerintahnya sekarang ini ternyata samasekali tidak punya 
strategi perberasan nasional? Sehingga harga beras melambung.

    Situasi dalam pasar yang sangat peka ini tentu saja serta merta ingin 
dimanfaatkan oleh Wapres sesuai dengan profesi awalnya untuk membuka impor 
beras setiap tahun.

    Apa ini memang disengaja untuk ber pestapora ria mendongkrak maraknya 
keuntungan importir dan para pelanggan komisi?

    Jutaan petani dan keluarganya sedang disandera dan diadu-domba dengan 
masyarakat bukan tani supaya turun temurun sekedar berkubang dilumpur 
persawahan tanpa masa depan apapun.

    Wapres jangan ber argumentasi kosong karena jutaan buruh tani pun akan 
merasakan dampak positif bila harga gabah akan menjadi optimal. Artinya harga 
beras terjangkau oleh
    masyarakat luas dan petani, baik yang punya atau tidak punya lahan, akan 
agak terangkat
    periuk nasinya.

    Pemerintah sangat menghina bangsa ini karena membiarkan perberasan nasional 
menjadi amburadul, memperparah kehidupan petani dengan impor beras dan 
kadang-kadang membagikan raskin agar rakyat miskin berebut bahan pokok ini 
seperti peminta-minta kepada penguasa yang "dermawan".

    RPr

Kirim email ke