KEMBALIKAN MEREKA!!!

"Kalau masih hidup, dimana dia disembunyikan. Kalau sudah tiada, di mana
jasadnya dikuburkan," ujar Sipon dengan suara bergetar. Wajar jika ibu
dua anak ini merasa terombang ambing dalam ketidakpastian. Sebab sampai
detik ini, Widji Tukul, sang suami, tak kunjung pulang.

Widji Tukul, bersama sejumlah aktivis lainnya, pada kurun waktu 1997
sampai 1998 hilang lenyap bagai ditelan bumi. Penyair yang kerap
mengecam Orde Baru itu mendadak raib tak tentu rimbanya. "Ada yang
bilang pernah melihat suami saya sudah gila dan menggelandang di
jalanan," tutur Sipon.

Perasaan tak menentu juga dialami keluarga para aktivis yang hilang itu.
Oetomo Raharjo, misalnya, mengaku yakin anaknya, Petrus Bimo, masih
hidup. "Sebab saya dan istri belum diberi tanda-tanda anak saya sudah
meninggal," ujar pria asal Jawa Tengah ini.

Petrus Bimo, aktivis Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi
(SMID) ini raib pada 31 Maret 1998. Sebelum itu, mahasiswa Universitas
Airlangga Surabaya ini pernah ditahan di Polda Metro Jaya karena
menggalang aksi Mega Bintang pada Pemilu 1997.

Nasib Suyat, aktivis yang dituduh terlibat peledakan di rumah susun
Tanah Tinggi, Jakarta, mungkin sedikit lebih jelas. Sebab sebelum
hilang, sejumlah orang tak dikenal mendatangi rumahnya di Sragen, Jawa
Tengah, dan membawanya pergi di depan mata kakak kandungnya.

"Waktu itu rumah saya didobrak. Beberapa orang masuk dan menanyakan
Suyat. Mereka pikir saya Suyat. Saya sempat disiksa," ungkap Suyatno,
kakak kandung Suyat. Tak tahan disiksa, Suyatno akhirnya menunjukkan di
mana Suyat berada. "Sejak itu adik saya tidak kembali."

Setidaknya ada 13 aktivis yang sampai saat ini hilang tak tentu
rimbanya. Diduga mereka diculik berkaitan dengan pengamanan Sidang Umum
MPR 1998.

Di antara mereka yang diculik, ada juga yang dilepas. Antara lain Pius
Lustrilanang, Haryanto Taslam, dan Mugiyanto. Mereka tampil di Kick Andy
untuk mengungkapkan pengalaman mereka selama diculik.

"Mata saya ditutup dan dibawa ke suatu tempat. Di sana saya disetrum dan
disiksa," ungkap Mugiyanto, yang diculik 31 Maret 1998 di rumah susun
Klender. Jebolan sastra UGM ini kemudian dilepas 6 Juni 1998. "Saya
sempat dibawa ke pematang sawah untuk dihabisi."

Sementara Pius dan Haryanto juga mengalami tekanan mental karena selama
diculik, mata mereka ditutup dan diinterogasi tanpa henti. "Bayangkan,
setiap hari diancam akan disetrum, tapi tidak juga dilakukan. Secara
mental saya down," ungkap Haryanto Taslam. Pada saat diculik, mobilnya
ditabrak lalu dia ditodong pistol dan dibawa pergi dengan mata tertutup.

Haryanto, yang waktu itu menjabat sebagai wakil sekjen DPP PDI Megawati
itu diculik 2 Maret 1998 dan baru dilepas 19 April 1998. Sementara Pius,
disergap sekelompok orang tak dikenal di depan RSCM Jakarta 13 maret
1998. Aktivis yang waktu itu menjabat sebagai Sekjen Solidaritas
Indonesia untuk Amien dan Mega (Siaga) ini dilepas 4 Februari 1998.

Betulkah mereka yang hilang itu masih hidup? Jika sudah tiada, di mana
jasad mereka? Pertanyaan itulah yang sekarang menjadi agenda utama para
keluarga korban. Dalam perkara ini, Komnas HAM mengeluarkan rekomendasi
yang salah satunya meminta Presiden SBY harus mencari dan menemukan
mereka yang hilang itu.



Tayang setiap Kamis pukul 22.30 WIB dan Minggu pukul 15.05 WIB



Kirim email ke