Bung Iwan,
  Saya rasa, soal mahalnya tiket yang dirasakan sebagian besar peminat  jazz 
memang bukan fenomena fantastis. Jadi, abaikan saja soal mereka  yang 
berteriak-teriak kepingin nonton jazz murah dengan artis sekaliber  Chaka Khan, 
Sergio Mendez dkk. Toh yang mampu beli cukup banyak  sehingga Om Peter dkk 
tidak perlu kebakaran jenggot memangkas bayaran  artis lokal. Seperti misinya, 
Bring the world 2 Indonesia, jadi harus  artis lokal yang dikorbankan bukan? 
Monggo saja.... 
  
  Buat saya, memang bisa tidak makan setengah bulan kalau memaksakan beli  
karcis tersebut. Maklumlah, bung kan tau kalau gaji saya tidak bisa  cukup 
untuk sekedar beli apartemen di Permata Hijau, Kuningan dan  Kemayoran. Soal 
tampang saya yang dibilang mirip salah satu musisi  senior, saya jadi 
tersanjung. Terimakasih ya bung. Ingat-ingat wajah  anda, saya kok merasa 
pernah melihat anda di TV ya, "kembali ke  laptooop..."

  Soal ID Card, malu ah kalao sampe ribut-ribut. Masa even sekelas Java  Jazz 
masih ricuh dan diskriminatif saat membagikan ID Card. Saya sudah  yakin betul, 
beberapa kali penyelenggaraan even akbar ini, panitia  sudah cukup profesional 
dalam menangani soal ID ini. Wong antisipasi  sepinya pengunjung saja dikaitkan 
dengan pemotongan honor artis lokal  Bung (katanya lo ya...) Terbukti kan kalao 
mereka cukup profesional.
  
  Untuk media2 gurem yang tidak punya nama seperti tempat saya bekerja,  
dilirik saja sebagai sebuah media sudah bagus. Saya tidak berharap  muluk2 
untuk dipanggil wartawan, karena saya bukan lulusan sekolah  jurnalistik 
seperti bung yang jebolan sebuah kampus komunikasi di  bilangan Pasar Minggu 
sana. Bagi saya, menulis butuh belajar dan tidak  seperti bung yang pandai 
melawak dan ber haha hihi dalam milis ini.  Apalagi bung Iwan berasal dari 
media besar yang terkenal HOT karena  sering memajang berbagai pose wanita 
seksi. Wah, jadi malu saya kalau  menyebutkan nama media tempat saya bekerja. 
Sungguh, saya tidak  berharap banyak bung.
  
  Sekali lagi, saya berharap agar even jazz besar ini bisa sukses.  Sehingga 
tidak ada yang dikecewakan, baik artis pendukung, penggemar  jazz maupun para 
pengiklan dan sponsor seperti majalah tempat bung  bekerja. Sekian saja bung 
Iwan. 
  
  Maju terus musik Indonesia.
  
  
iwan suci jatmiko <[EMAIL PROTECTED]> wrote:                                    
              
He..he..he..bung yulius nih bisa aja...masa nonton java jazz bisa nggak makan 
setengah bulan...terlalu dramatisir ah...
   
  Barangkali  mahalnya tiket java jazz mengekor dari mahalnya harga beras. 
makanya,  untuk meredam mahalnya harga tiket, mungkin "operasi jazz" sound's  
good...he..he..he..
   
  Btw emang dari  dulu tuh kendalanya pasti di ID card. ya kita sabar2 aja deh. 
Mungkin  anda nggak dikasih ID card, tapi dikasih undangan VIP. soalnya kan  
tampang anda 99% mirip kang Deddy Dores pelantun lagu favorit kegemaran  kita2 
dulu waktu masih di Koran Harian...he..he..he..pisss meen..:p...
   
   
  ISJ
  Tukang Ketik di Majalah
     

---------------------------------
Never miss an email again!
Yahoo! Toolbar alerts you the instant new Mail arrives. Check it out.
      
                                    

 
---------------------------------
Any questions?  Get answers on any topic at Yahoo! Answers. Try it now.

Kirim email ke