http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2007/2/22/o2.htm


Ketimpangan pariwisata Bali saat ini sangat memprihatinkan, Bandara tidak 
berkembang sesuai keperluan. Akomodasi memang berlebihan (bila peluang tidak 
dimanfaatkan), rekreasi, pertunjukan dan hiburan tidak ada yang mengelola 
secara profesional. Tempat-tempat perbelanjaan, penataan dan kebersihannya 
kurang memberikan kenyamanan, ''pemerasan'' pun terjadi nyaris di semua sektor.
-----------------------------

Wisatawan Diundang, Wisatawan Enggan Datang
Oleh N. Gelebet 

PARIWISATA telah menjadi keperluan dalam kehidupan kota-kota dunia yang 
kehilangan alam dan budaya dalam ketersesakan rasa ruang yang semakin 
menghimpit. Pariwisata telah mempekerjakan 600 juta atau sekitar 17% dari 
tenaga kerja global dengan share pariwisata 16% dari GNP dunia. Pariwisata 
dunia tumbuh dengan 6,5% dan Asia Pasifik paling cepat dengan 9,8%.

----------------------------------

Bagi Bali, Australia merupakan pasar utama pariwisatanya. Dalam sepuluh tahun 
terakhir, Australia selalu menempati urutan kedua setelah Jepang sebagai 
penyumbang wisatawan terbanyak ke Pulau Dewata. Sayangnya, sejak bom Bali I, 
kunjungan wisatawan Australia ke Bali terus melorot. Bahkan, tahun lalu jumlah 
kunjungan wisatawan dari negeri kanguru ke Bali hanya 47 persen dibanding tahun 
2005. Akibatnya posisi Australia digeser oleh Taiwan yang menduduki posisi 
kedua setelah Jepang. Inilah antiklimaks dari serangkaian tragedi yang menimpa 
Bali (BP, 19/2).

Proporsional

Membangun kepariwisataan perlu proporsional antarkomponen: bandara, hotel, 
restauran, biro perjalanan, tekreasi, pertunjukan, hiburan, perbelanjaan. 
Masing-masing bersinergi harmonis, dikelola dengan profesional, dapat 
memberikan kepuasan, kenangan keindahan, aman dan nyaman, senantiasa 
beradaptasi aktif dengan tuntutan peradaban yang berkembang. Meningkatkan 
kualitas peran, pesan dan kesan manakala mengharapkan wisatawan berkualitas. 

Ketimpangan pariwisata Bali saat ini sangat memprihatinkan, Bandara tidak 
berkembang sesuai keperluan. Akomodasi memang berlebihan (bila peluang tidak 
dimanfaatkan), rekreasi, pertunjukan dan hiburan tidak ada yang mengelola 
secara profesional. Tempat-tempat perbelanjaan, penataan dan kebersihannya 
kurang memberikan kenyamanan, 'pemerasan' pun terjadi nyaris di semua sektor. 
Bagaimana mungkin pariwisata berkembang proporsional manakala ODTW (Objek dan 
Daya Tarik Wisata) tidak menampilkan yang baru dan yang umumnya masih telantar. 
Dengan sistem bapak angkat untuk perawatan beberapa ODTW memang cukup berhasil, 
namun sentuhan penataannya masih jauh dari harapan 

Gaung promosi recovery mendengung seakan merasuk ke seantero dunia. Namun masih 
saja diragukan kebenaran apa yang telah dilakukan. Survai membuktikan, nyaris 
tidak ada wisatawan yang datang ke Bali karena promosi. Kedatangan mereka 
umumnya dari informasi keluarga atau temannya yang pernah ke Bali, dari media 
cetak maupun elektronik dan program massal bagi wisatawan grup. Dipertanyakan, 
sudahkah sesuai kedatangan wisatawan dari hasil promosi dengan dana yang 
dihabiskan? Masih perlukah dana promosi menguras anggaran yang tersedia, 
sementara OTW, perbelanjaan dan pertunjukan nyaris tanpa sentuhan pembinaan?

Wisatawan diundang, mereka datang, dirancang untuk bertualang. Objek dan daya 
tarik wisata untuk dipandang bukan dipegang. Untuk itu keamanan, kenyamanan dan 
keunikan keindahan untuk kenangan yang dibawa pulang, tentunya perlu dijaga 
kelestariannya, diupayakan peningkatan kualitasnya, dan dimantapkan penataannya 
dengan dukungan sarana pendukung dan penunjangnya yang harmonis selaras 
lingkungannya. Idealnya demikian, faktanya sangat mengecewakan. Sebagian besar 
ODTW menyusui Pemkab yang memanfaatkan sebagai sumber PAD-nya, desa yang 
mewilayahi untuk kontribusinya dan kelompok yang mengelolanya sebagai sumber 
pendapatan.

Wisatawan diundang untuk datang, bukan dipajang di hotel, namun dirangsang 
untuk berpetualang dalam paket-paket wisata dari ODTW ke ODTW lainnya. Mereka 
diupayakan untuk tinggal lebih lama, pulang ke negaranya berpromosi pada 
temannya, dan nantinya datang lagi. Ada kekeliruan persepsi selama ini bahwa 
hotel diposisikan sebagai tujuan berwisata, sehingga ODTW nyaris telantar tidak 
ada yang peduli. Seniman pengerajin dan seniman seni pertunjukan hanya 
dijadikan objek pemerasan sehingga keringat mereka untuk kelegaan mereka yang 
berpeluang atas prestasinya. 

Pemkab yang menjadikan Sad Kahyangan sebagai ODTW untuk sumber PAD-nya, bila 
dilacak perannya dalam lima tahun terakhir, dari penelusuran dokumen APBD, 
tidak ditemukan adanya pos anggaran yang dikembalikan untuk perawatan 
sebagaimana sebelumnya. Ironis memang, masyarakat yang menyerahkan warisan 
leluhurnya sebagai penyertaan modal bagi pembangunan kawasan pariwisata 
eksklusif, kini terlunta-lunta menjajakan jualannya di lahan yang telah beralih 
fungsi super elite. Bahkan ada yang dipandang sebagai mencemari, sehingga perlu 
dikumpulkan untuk dibina. Jelas mereka mengganggu keamanan dan kenyamanan 
wisatawan. Menjajakan dagagangan memang terkesan liar, tetapi itu dilakoni 
karena tidak ada tempat representatif baginya di kelasnya. Dapatkah pemegang 
kebijakan, peraup keuntungan dan mereka yang memegang mandat dan 
mengatasnamakan keberadaan masyarakat itu, untuk berbagi rasa dan berlogika 
rasional menuntaskan masalah hidup dalam kehidupan yang terpinggirkan? 
Seharusnya dibangun tempat yang layak bagi mereka sehingga tidak lagi 
berkeliaran seakan liar. Dengan demikian mereka akan merasa dimanusiakan 
kemanusiaannya. Hakikat kesejahteran adalah kebahagiaan bersama dalam 
kebersamaan.

Selama ini tidak ada keterbukaan sehingga terjadi gugatan dan hujatan yang 
salah arah karena persepsi yang keliru. Badan otorita adalah pelaksana lapangan 
sebatas penugasan Dewan Komisaris yang terdiri dari dua; daerah dan pusat. 
Penguasa dan yang membidangi international consultant pengkaji awal 
terbentuknya kawasan pariwisata ini, merekomendasikan pimpinan lembaga adat 
setempat mewakili kepentingan masyarakatnya yang telah merelakan lahan kawasan 
sebagai penyertaan modal, sebagai anggota Dekom berperan dalam mengupayakanm 
kesepahaman untuk menemukan kesepakatan dalam mengambil kebijakan.

Sayangnya selama seperempat abad posisi tersebut dikosongkan dan kini selama 
lima tahun disesatkan ke orang-orang antah berantah. Sehingga kesejahteraan 
bagi masyaratkan setempat sebagai international pilot project tourist resort 
hanya mimpi yang membuahkan apa yang berulang kali dijadikan objek pembinaan. 
Akibatnya, terdapat sejumlah permasalahan yang belum dan tidak akan pernah 
terselesaikan selama para pihak penyerobot hak lokal tidak mau menyadari 
keberadaannya yang mengada-ada.

Penulis, dosen Fakultas Teknik Unud

---------

* Gaung promosi recovery mendengung seakan merasuk ke seantero dunia, namun 
masih saja diragukan kebenaran apa yang telah dilakukan. 

* Survai membuktikan, nyaris tidak ada wisatawan yang datang ke Bali karena 
promosi. 

* Membangun kepariwisataan perlu proporsional antarkomponen; masing-masing 
bersinergi harmonis, dikelola dengan profesional.


Kirim email ke