http://www.lampungpost.com/buras.php?id=2007022201092115
Kamis, 22 Februari 2007
BURAS
Memadu Selera Zaman!
H.Bambang Eka Wijaya:
CEKAMAN dingin malam sisa hujan sore sirna oleh kehangatan penonton
wayang kulit oleh dalang Ki Tantut di sebuah desa Kecamatan Tawangsari,
Sukoharjo, Jawa Tengah.
Umar, warga Lampung yang menghadiri pesta itu terpana, mayoritas penonton
kaum muda. "Luar biasa animo kaum muda pada wayang kulit!" celetuknya.
"Karena para dalang berhasil meramu selera zaman, wayang kulit plus
campursari!" jawab Suto, sepupunya. "Lihat itu, gamelan wayang dilengkapi
perangkat band modern plus biduan dangdut berbaju seronok di samping sinden
berkonde besar!"
Saat goro-goro, kaum muda berjoget massal! Lagu yang dimainkan permintaan
penonton lewat ki dalang. "Meriah sekali!" entak Umar.
"Pokoknya, cerita wayangnya bagus, campursarinya nikmat! Semua puas!"
tegas Suto. "Dari segi kaum tua, seni pedalangan juga terus berkembang
antargenerasi! Simak nyanyian sinden, ada 'Ilir-Ilir' dari Ki Narto Sabdo atau
'Pepiling' karya Ki Anom Suroto!"
"Salut buat para dalang, mampu memadu ketatnya pakem wayang dengan selera
zaman!" tegas Umar. "Sedang pemerintah, sebutlah Presiden, cenderung belum
berhasil memadu sekuat itu pakem tugasnya dengan selera zaman! Dalam
memberantas korupsi misalnya, dalam pakem tugasnya Presiden punya jaksa,
polisi, dan beragam intel yang disatukan dalam Timtas Tipikor! Di selera zaman
ada KPK--Komisi Pemberantasan Korupsi! Selain kedua sisi belum terpadu
seharmonis wayang kulit dan campursari, masing-masing sisi juga belum bisa
memuaskan penonton!"
"Semua itu bergantung pada pengaturan ki dalang!" timpal Suto. "Dalang
yang menerima lagu permintaan mendistribusikan secara terbuka ke penyanyi pop
dangdut atau sinden! Dalam praktek pemerintah justru KPK--pengemban selera
zaman--cenderung tak diacuhkan! Sedang untuk sinden--Timtas Tipikor--lagu-lagu
permintaan yang masuk cenderung disortir ki dalang, hingga merebak tuduhan
tebang pilih!"
"Kayaknya begitu!" tukas Umar. "Sementara dari seni pedalangan
antargenerasi selalu mewariskan penyesuaian dengan konteks zaman, seperti
'Ilir-Ilir' dari Ki Narto Sabdo dan 'Pepiling' dari Ki Anom Suroto, di
pemerintah dari zaman Bung Karno, Pak Harto, dan seterusnya tak mewariskan
pemberantasan korupsi yang efektif! Itu sebabnya pergelaran wayang kulit selalu
aktual dengan zaman, sedang pemerintah--dalam pemberantasan korupsi--sering
kedodoran, kehilangan konteks aktualitas zamannya!"
"Simpulnya sederhana, sesuai dengan desakan K.H. Hasyim Muzadi agar
Presiden memegang langsung tampuk komando pemberantasan korupsi, sebenarnya
cukup jika Presiden bertindak seperti ki dalang memaduserasikan dalam
pergelaran semua perangkat yang tersedia, pakem pokok (Timtas Tipikor) dan
campursari--KPK!" timpal Suto.
"Juga menjaga para wiyaga penabuh gamelan--para menteri dan pejabat
lain--tidak merecoki campursari, seperti sedang terjadi!" tegas Umar. "Betapa
kacau pentas wayang jika di belakang ki dalang wiyaga dan awak campursari
saling keprukan!"
bening.gif
Description: GIF image
<<attachment: buras.jpg>>
