Semakin lemot juga nih otak kiri menanggapi tanggapan rekan-rekan APAKAH AGAMANYA YANG SALAH ???
Boleh saya berlogika seperti AE perusahaan? Tidak ada AE yang bilang service nya jelek, saat orang tersebut pindah ke Co. saingan, dia jelek-jelekin tuch Co. sebelumnya. Bwat saya tindakan diatas sangat MANUSIAWI, why; nyangkut masalah priuk nasi booo.. Tapi untuk agama yang UNIVERSAL, gw jadi binun, why .... ? Ya itu tadi .. Mana ada agama yang ngaku kecap # 2, saking frustasinya, akhirnya cari gampang aja dech. jalan pintasnya...............AGAMA is GAYA HIDUP hhhaaaa .3X Salute, Ch >========= CUT =========== >Setelah merenungkannya dengan mendalam, saya menemukan paling tidak tiga kesalahan pokok dalam memaknai agama. >Pertama, agama sering disosialisasi dalam bentuk ritual semata. Sejak kecil kita belajar shalat, menghafal bacaan dan belajar gerakannya. Yang kita lupakan cuma satu, yakni: kita tak pernah diajarkan mengenai mengapa kita harus shalat. Hal yang sama juga terjadi pada anak saya yang sekarang sedang duduk di sekolah dasar. >Kedua, agama sering diartikan sebagai sebuah "kewajiban" yang bila melakukannya akan diganjar pahala dan surga, sedangkan mengabaikannya akan diganjar dosa dan neraka. Padahal kata "kewajiban" sering pula bernuansa buruk. Kewajiban memberikan konotasi paksaan kepada orang untuk melakukannya. Kewajiban bersifat outside-in (dari luar ke dalam).Ini berbeda dari kebutuhan yang bersifat inside-out (dari dalam keluar). > Padahal perubahan perilaku jauh lebih mudah pada sesuatu yang bersifat> inside-out. Dalam inside-out orang melakukan sesuatu karena kesadaran. Dorongan terhadap hal ini berasal dari dalam. Selama agama masih dianggap sebagai kewajiban bukannya kebutuhan, akan sangat sulitlah untuk berharap bahwa agama bisa mengubah perilaku. > > Kewajiban juga acap kali menjauhkan kita dari kenikmatan. Bayangkan seorang istri yang mengatakan bahwa ia melayani suaminya sebagai kewajiban. Menurut Anda, apakah wanita ini menikmati hubungan dengan suaminya? Saya yakin tidak. > > Ketiga, agama sering ditafsirkan sebagai urusan kita dengan Tuhan. Padahal esensi agama adalah kasih. Bahkan saya berani mengatakan bahwa tanpa kasih tak ada gunanya kita beragama. Bukankah Tuhan adalah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang? Bukankah dalam agama mana pun senantiasa dikatakan, "belum beriman seseorang sebelum ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri"?
