Halo Mbak Patricia, anda benar, kelakuan kita bersosial yang seharusnya memiliki sejarah tepa sliro, toleransi, mengapa kok jadi adut-adutan, ya.
anda tepat, mensinyalir hal ini, Negara kita ini kurang empati, kemarin ada yang bilang kita gak perlu pemimpin S3 untuk mengerti penderitaan rakyat, untuk mengerti mana yang salah, ini emailnya: Bikin peraturan malah bikin susah. Operasi pasar yang beli malah tengkulak, ya harganya gak turun-2.( Di Islam jelas tidak boleh menimbun barang, apalagi dengan tujuan agar harga kacau atau harga naik) Jual solar dengan 2 harga ya pasti diakalin . (Di Islam sangat jelas tidak boleh menjual satu barang dengan harga yang berbeda) Dulu harga BBM kita katanya kemurahan, sehingga banyak yang diselundupkan, solusinya malah harga dinaikan. Mestinya yang menyelundupkan yang dibabat, bukan malah rakyat yang disuruh nanggung. Jadi pegawai nyogok ya setelah jadi pegawai pikirannya gimana uang sogokan tsb bisa kembali + bunganya. Mau kuliah saja susah harus punya uang pangkal yang jumlahnya puluhan juta. Mau jadi dokter / Biar pinternya selangit tapi gak punya uang cukup ya gigit jari. Anak tetangga saya, pintar sekali (ranking 1 se Depok), gak bisa masuk kedokteran Unair gara-gara nulis uang pangkalnya lebih kecil disbanding yang lain.(Min 70 jt, bapaknya nulis 80jt, ternyata yang lain nulisnya diatas 100jt) Kalau menurut saya mestinya pendidikan harus murah / disubsidi bahkan gratis. Anak yang pintar tapi miskin akan menjadi sarjana, kemudian bekerja dan bisa membantu keluarganya keluar dari kemiskinan. Demikian seterusnya sehingga dapat mengurangi jumlah rakyat miskin. salam, Goenardjoadi Goenawan --- In [email protected], "Patricia Soetjipto" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Mas Goen, > > Saya sih tidak meragukan sama sekali kemampuan individual bangsa kita ini. Banyak individu2 Indonesia yang berhasil dalam berbagai bidang, nasional maupun Internasional. Akan tetapi, akankah individu2 yang berhasil tersebut disatukan menjadi kelompok superhebat? Jawabannya tidak. Kelompok individu2 tsb jadi memble, karena apa? Karena kebanyakan berantem jadi lupa tujuan utamanya apa, individu2 tersebut berlomba-lomba menjadi yang paling menonjol, egois mau menang sendiri, tidak bisa menerima pendapat orang lain, saling menjatuhkan, sama sekali tidak bisa legowo apabila ada orang yang lebih baik dari dirinya. Itulah sifat bangsa kita sebenarnya. Makanya hanya sedikit sekali ato bahkan tidak ada, kumpulan2 individu Indonesia yang berhasil maupun menonjol. > > Nggak usah jauh2 lihat contoh soalnya di milis ini, individu2 dalam milis ini adalah orang yang pintar, cerdas dan berhasil dalam bidangnya, tapi giliran mereka bergabung dalam milis ini kelihatan deh mau unggul sendiri2. Coba liat di jalanan kalu dah macet mau menang sendiri2, nggak peduli orang terpelajar maupun tidak. Liat tuh dunia olahraga kita yang beregu nggak ada yang unggul, tapi klu individu bisa berprestasi. > > Sampai kapanpun kalau kita tidak berbesar hati mau menerima kelebihan kekurangan orang lain, nggak bisa share, ngak bisa berempati terhadap orang lain, nggak punya tepo seliro ama orang lain saya yakin bangsa ini nggak bakalan maju. > > Saya kemaren dapet pelajaran bagus dari buku cerita anak saya simple aja sih, pesan moralnya mengenai berbagi: > if you share something, it doesn't mean you have only 1/2 fun, but you double your fun. > > Individu2 kita takut klu sampe berbagi, rugi dong gue, nanti dia juga jadi pinter gue tersaingi, rugi dong gue yang dapet proyek kan gue, kalo gue join sama si anu, keuntungannya nanti dibagi dua, dstnya. > > > Regards > Pat > Klu mau muji, pujilah dengan setulus hati, jangan hadijah (hanya di bibir sajah) > ----- Original Message ----- > From: Goenardjoadi Goenawan > To: [email protected] ; [email protected] ; [EMAIL PROTECTED] ; e- [EMAIL PROTECTED] ; [email protected] > Sent: Thursday, February 22, 2007 5:51 PM > Subject: [mediacare] Impian Indonesia > > > Kondisi ekonomi Indonesia saat ini sungguh memprihatinkan, semuanya serba lesu. Kadang kita berpikir, bagaimana caranya kita semua keluar dari lingkaran setan ini? Beberapa teman mengingatkan resiko munculnya Revolusi sosial, namun kita semua mengetahui, bahwa itu resikonya ongkosnya terlalu besar tidak hanya bagi kita semua namun hingga ke anak cucu kita. > > Satu hal yang dapat kita mulai seperti usulan rekan kita adalah Revolusi moral. Ini bisa kita mulai dari satu hal yang paling sederhana. Kita semua harus bisa bangkit dari keterpurukan. Jangan mau bila kita harus terpuruk, dan jatuh, jangan mau. > > Ekonomi Indonesia terpuruk, namun Impian Indonesia masih terus berkibar! Hendy Setiono Kebab Turki baba Rafi saya kenal 10 bulan lalu masih berumur 22 tahun memiliki 25 cabang franchise di Surabaya. Saat ini dalam waktu 2 tahun menjadi The Best Young Entrepreneur of the Year Business Week. Dirinya mampu memajukan dirinya, membangkitkan dirinya untuk maju bersaing secara Internasional. > > Jangan underestimate Impian Indonesia, Delon yang dulunya penyanyi Choir / koor di sebuah gereja, saat ini menjadi bintang tenar di seluruh Indonesia, menjadi idaman banyak remaja putri. Teman saya yang lead singer pada Choir tempat Delon menyanyi sungguh menyesal, bahkan dia merasa lebih baik daripada Delon. > > Kita jangan pernah berhenti berharap, seperti yang ada di American idol season 6, seorang gadis Dog walker, sebuah profesi yang seperti Baby Sitter hanya yang dijaga, yang diajak jalan-jalan adalah anjing, mampu mengangkat dirinya menjadi Top 24. Mampu menyanyi dengan sepenuh jiwanya. > > Jiwa kita ini sungguh berharga, teman saya seorang perempuan lulusan SMA terakhir bekerja sebagai telepon operator, lalu customer service, sekarang mampu menjadi Key account specialist. Lulusan SMA namun mampu tampil kedepan, membusungkan dada, merasa mampu menangani penjualan barang-barang elektronik untuk customer besar [Key Account] dengan target bulanan ratusan juta rupiah, mampu ditangani dengan baik, penuh tanggung jawab. > > Saat ini kita merasa prihatin dengan para SPG [Sales Promotion Girls] mereka kebanyakan pensiun pada umur 31 tahun, saat memiliki anak, atau bersuami, berat badannya meningkat, tak mampu bersaing dengan yang lebih muda, dan pensiun pada usia dini. Ini sungguh mengenaskan, kita harus memiliki rasa berjuang, kemauan keras, untuk meraih Impian Indonesia. Seperti Hendy Setiono kekab Turki Baba Rafi yang hanya lulusan SMA. > > salam, > Goenardjoadi Goenawan >
