Sebuah contoh suatu kebijakan yg penuh sauri tauladan pak sum, saya kerap 
menemukan kecongkakan manusia spt ini, ketika saya melihat seorang lelaki gemuk 
dibelakang kemudi mobil mewahnya yg ber AC mulutnya manyun terus bersumpah 
serapah karena macet, sungguh saya bisa menerka lelaki ini sangat menderita, 
stress dan penuh amarah, perasaan nya sangat tersiksa, lalu saya menoleh 
kesamping saya, dari kaca jendela mobil saya menangkap seorang kusir kuda yg 
sedang tertawa gembira dengan penumpangnya seorang wanita setengah tua, mereka 
sepertinya tidak merasa tersiksa dengan udara yg menyengat serta goncangan2 
pedati dijalanan yg ber lubang2, mereka saling bertukar cerita dan tertawa 
lepas....betapa indah dan lega nya jiwa mereka.
  saya melepaskan nafas panjang, kakak yg duduk disamping saya bertanya " lihat 
apa mie ?"
  " saya lihat potret manusia disekitar kita"
  "potret apaan sih?"
  " potert orang2 yg tidak bisa menikmati hidup karena jiwanya tak pernah 
terbuka utk meng akrabi semua situasi, dan potret orang2 yg gembira karena mau 
belajar utk bersyukur "
  " ah , kamu juga suka ngomel dan maki2 orang, potret apa dong namanya?"
  aduh pertanyaan yg gak disangka akan menghajar saya sendiri, saya mengangkat 
bahu,
  "well, saya maki2 orang yg mereka pikir saya goblok bisa di akali, saya gak 
suka penipu, saya gak suka org malas, saya gak suka org yg tak tau diri "
  :orang yg gak tau diri gimana ?" desak kakak
  "ah, itu contoh nya si amin suami pembantu kita, sudah hidup kembang kempis 
punya nyali kawin lagi, lebih menjengkelkan lagi dia nekad membawa istri 
mudanya kerumah istri tua karena gak mampu beliin atau kontrakin rumah bini 
mudanya "
  " ya ya ya..kamu keterlaluan waktu itu, suami teh ecin itu habis kau maki2, 
padahal kamu istrinya pun bukan hahahahahahhaa" kakak saya tertawa geli
  " kalau dia suami mu kamu gak akan bisa ngakak begitu..bisa2 kau potong pula 
titit nya..aku tau betul perangai wanita batak...hahahahahahahaha"
   
  Anyway, saya cuman kasih contoh bahwa hidup akan lebih mudah di jalani bila 
kita menggunakan nalar yg sehat, tidak menghakimi dan tidak menganggap diri 
lebih baik dari yg lain, saya selalu melatih diri saya utk menghormati setiap 
manusia, tetapi manusia yg tidak ber akhlak baik dan merugikan org lain dan 
sekitar nya itu yg sering memacu kejengkelan.
   
  Terimakasih artikel nya pak sum, I enjoyed it
   
  salam hangat
  omie lubis
   
   
   
  

Sumar Sastrowardoyo <[EMAIL PROTECTED]> 
          

Renungan dari Sang Mahaguru : Menghargai Perbedaan

Suatu waktu, ada seorang mahaguru yang ingin mengambil waktu dari

kehidupannya sehari-hari sebagai akademisi. Akhirnya dia memutuskan untuk

pergi ke sebuah pantai dan meminta seorang nelayan untuk membawanya pergi

melaut sampai ke horizon.

Seperempat perjalanan, mahaguru tersebut bertanya, "Wahai nelayan, apakah

Anda mengenal ilmu geografi?" Sang nelayan menjawab, "ilmu geografi yang

saya ketahui adalah kalau di laut sudah mulai sering ombak pasang, maka

musim hujan segera akan tiba." "Nelayan bodoh!" kata mahaguru tersebut.

"Tahukah kamu bahwa dengan tidak menguasai ilmu geografi kamu sudah

kehilangan seperempat kehidupanmu."

Seperempat perjalanan berikutnya, mahaguru tersebut bertanya pada nelayan

apakah dia mempelajari ilmu biologi dan sains? Sang nelayan menjawab bahwa

ilmu biologi yang dia kenal hanyalah mengetahui jenis ikan apa saja yang

dapat dimakan. "Nelayan bodoh, dengan tidak menguasai sains kamu sudah

kehilangan seperempat kehidupanmu." Kemudian mahaguru tersebut bercerita

tentang Tuhan yang menciptakan umat manusia dengan struktur tubuh, kapasitas

otak yang sama, dan lain-lain. Selanjutnya mahaguru tersebut bertanya apakah

nelayan tersebut mempelajari matematika? Sang nelayan menjawab bahwa

matematika yang dia ketahui hanyalah bagaimana cara menimbang hasil

tangkapannya, menghitung biaya yang sudah dikeluarkannya, dan menjual hasil

tangkapannya agar dapat menghasilkan keuntungan secukupnya. Lagi-lagi

mahaguru tersebut mengatakan betapa bodohnya sang nelayan dan dia sudah

kehilangan lagi seperempat kehidupannya.

Kemudian, di perjalanan setelah jauh dari pantai dan mendekati horizon,

mahaguru tersebut bertanya, "apa artinya awan hitam yang menggantung di

langit?" "Topan badai akan segera datang, dan akan membuat lautan menjadi

sangat berbahaya." Jawab sang nelayan. "Apakah bapak bisa berenang?" Tanya

sang nelayan. Ternyata sang mahaguru tersebut tidak bisa berenang. Sang

nelayan kemudian berkata, "Saya boleh saja kehilangan tiga-perempat

kehidupan saya dengan tidak mempelajari tiga subyek yang tadi diutarakan

oleh mahaguru, tetapi mahaguru akan kehilangan seluruh kehidupan yang

dimiliki."

Kemudian nelayan tersebut meloncat dari perahu dan berenang ke pantai

sedangkan mahaguru tersebut tenggelam. Demikian juga dalam kehidupan kita,

baik dalam pekerjaan ataupun pergaulan sehari-hari. Kadang-kadang kita

meremehkan teman, anak buah ataupun sesama rekan kerja. Kalimat "tahu apa

kamu" atau "si anu tidak tahu apa-apa" mungkin secara tidak sadar sering

kita ungkapkan ketika sedang membahas sebuah permasalahan. Padahal, ada

kalanya orang lain lebih mengetahui dan mempunyai kemampuan spesifik yang

dapat mengatasi masalah yang timbul.

Seorang operator color mixing di pabrik tekstil atau cat mungkin lebih

mengetahui hal-hal yang bersifat teknis daripada atasannya. Intinya, orang

yang menggeluti bidangnya sehari-hari bisa dibilang memahami secara detail

apa yang dia kerjakan dibandingkan orang 'luar' yang hanya tahu 'kulitnya'

saja. Mengenai kondisi dan kompetisi yang terjadi di pasar, pengetahuan

seorang marketing manager mungkin akan kalah dibandingkan dengan seorang

salesperson atau orang yang bergerak langsung di lapangan. Atau sebaliknya,

kita sering menganggap remeh orang baru. Kita menganggap orang baru tersebut

tidak mengetahui secara mendalam mengenai bisnis yang kita geluti. Padahal,

orang baru tersebut mungkin saja membawa ide-ide baru yang dapat memberikan

terobosan untuk kemajuan perusahaan.

Sayangnya, kadang kita dibutakan oleh ego, pengalaman, pangkat dan jabatan

kita sehingga mungkin akan menganggap remeh orang lain yang pengalaman,

posisi atau pendidikannya di bawah kita. Kita jarang bertanya pada bawahan

kita. Atau pun kalau bertanya, hanya sekedar basa-basi, pendapat dan

masukannya sering dianggap sebagai angin lalu. Padahal, kita tidak bisa

bergantung pada kemampuan diri kita sendiri, kita membutuhkan orang lain.

Keberhasilan kita tergantung pada keberhasilan orang lain. Begitu sebuah

masalah muncul ke permukaan, kita tidak bisa mengatasinya dengan hanya

mengandalkan kemampuan yang kita miliki. Kita harus menggabungkan kemampuan

kita dengan orang lain. Sehingga bila perahu kita tenggelam, kita masih akan

ditolong oleh orang lain yang kita hargai kemampuannya. Tidak seperti

mahaguru yang akhirnya ditinggalkan di perahu yang sedang dilanda topan

badai dan dibiarkan mati tenggelam karena tidak menghargai kemampuan nelayan

yang membawanya. Yang jadi pertanyaan kita sekarang, apakah kita masih suka

bertingkah laku seperti sang mahaguru?
. 


[Non-text portions of this message have been removed]






    
---------------------------------
  No need to miss a message. Get email on-the-go 
with Yahoo! Mail for Mobile. Get started.  

 
---------------------------------
It's here! Your new message!
Get new email alerts with the free Yahoo! Toolbar.

Kirim email ke