Salam
   
  Sebagai pribadi non muslim yang gak terlalu paham bener sama konsep Poligami 
dalam Islam, saya terkesan sekali ketika ending tulisan mas Ade 3 tahun lalu 
mengatakan bahwa dia sangat mencintai istri dan anaknya. otomatis penekanan 
akhir tulisan ini menyiratkan bahwa mas Ade agak alergi sama Poligami dan 
acaranya Puspowardoyo itu, mungkin karena posisi waktu itu gak memungkinkan ya 
mas Ade....
   
  Tetapi kini semua itu berubah...mas Ade ternyata kawin lagi..(berarti gak 
cinta lagi dong ama anak istri....), gimana ni bang....
   
   
  laurens

IKA <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Saya setuju dengan Poligami kalau suami sedang membagi dengan istri 
berikutnta, istri2 pertama dsn berikutnya diliburkan dengan status ' single ', 
artinya ' bebas ' ! 
Soalnya kan susah membayangkan suami sedang menikmati waktunya dengan wanita 
yang bukan dirinya, apslagi kalau wanita ini cuma jadi pengasuh sementara sang 
suami mengajak istri lain untuk ikut 'bisnis trip'. Apa kesibukan para istri 
yang biasanya melayani suami? 

[EMAIL PROTECTED] 

-----Original Message----- 
From: Titiana Adinda <[EMAIL PROTECTED]> 
Date: Mon, 19 Feb 2007 16:01:21 
To:Milis Media <[email protected]>, [EMAIL PROTECTED] 
Subject: [mediacare] Tulisan Ade Armando ttg Anti Poligami 3 tahun yang lalu 


Dear All khususnya Pak Ade Armando, 
 
Benar dibawah ini tulisan Bapak Ade Armando bukan?Aku dapat dari milis 
wanita-muslimah.Ehm manusia ternyata cepat berubah ya.Hanya dlm tempo 3 tahun 
berubah demikian drastis.Lalu dimana dengan pernyataan Pak Ade di artikel ini 
“Saya sendiri? Ya maaf sajalah, saya terlalu mencintai istri dan anak-anak 
saya.”  

Koq bapak berbohong sih?Yang munafik aku atau Bapak?(sesuai perkataan buku 
miring).Sebagai akademisi Bapak seharusnya bisa memberi contoh.Ini lain di 
tulisan lain diperbuatan.Lalu bagaimana dong Bapak kan sudah terbukti melanggar 
PP No.10 ttg Anti Poligami.Bapak kan masih berstatus PNS Kan?Kalo Bapak mau 
bersikap sportif tanggalkan saja status PNS Bapak.Benar juga kata bapak dalam 
alenia pembuka di tulisan itu " Acara kontroversial Poligami Award sudah 
dilaksanakan akhir bulan lalu. Saya rasa pemrakarsanya, Puspo Wardoyo, merasa 
tujuannya untuk mendorong para pelaku poligami lebih berani tampil di depan 
publik mencapai sasaran."Karena buktinya Bapak terdorong untuk berani tampil di 
depan publik.Ha..Ha..Btw,Udah pernah ketemu dgn Pak Puspo Wardoyo 
belum?Sekarang bersahabat dong ya...Kan satu visi dan misi serta sama-sama 
pelaku poligami sekarang.
Terima kasih. 
  
Salam, 
Dinda 
========= 
  
Republika, Sabtu, 09 Agustus 2003
> Resonansi
>
> Masih Soal Poligami
>Oleh:Ade Armando 
 
> Acara kontroversial Poligami Award sudah dilaksanakan akhir bulan
> lalu. Saya rasa pemrakarsanya, Puspo Wardoyo, merasa tujuannya untuk
> mendorong para pelaku poligami lebih berani tampil di depan publik
> mencapai sasaran.
>
> Namun di sisi lain, acara tersebut sebenarnya juga merupakan umpan
> lezat bagi siapa pun yang berniat menjalankan propaganda anti-Islam.
> Dengan kata lain, akan ada banyak pihak yang bisa menggunakan acara
> ini sebagai bukti bahaya penegakan ajaran Islam.
>
> Yang jadi soal, para pendukung acara tersebut tampak dengan keras
> menunjukkan bahwa Poligami Award dilaksanakan dalam rangka menegakkan
> perintah Allah. Mereka yang menentang digambarkan sebagai orang-orang
> yang justru ingin menjauhkan masyarakat dari ajaran Islam.
>
> Tulisan saya di harian ini yang menentang Poligami Award (19/07),
> misalnya, mendapat sejumlah kecaman pedas. Sebuah surat pembaca (30/7)
> menganggap kritik saya sebagai mengumbar pendapat pribadi dan terkesan
> seperti ditulis kaum orientalis yang sering menghujat Islam. Yang
> bermasalah tentu saja bukan perbedaan pendapat itu sendiri.
>
> Yang sangat mengkhawatirkan bagi saya adalah pandangan bahwa yang
> sesuai dengan Islam adalah sikap mendukung poligami karena ada ayat
> Alquran mengenainya, dan karena itu kritik terhadapnya adalah
> manifestasi ketidakislaman si pengkritik.
>
> Dengan begitu, para pendukung poligami ini seperti meniadakan begitu
> saja khazanah pemikiran dunia Islam yang begitu kaya. Penolakan
> terhadap poligami sudah begitu lama disuarakan. Muhammad Rasyid Ridha,
> dalam bukunya Panggilan Islam Terhadap Wanita (Penerbit Pustaka, 1986)
> menunjukkan bagaimana ulama besar Mesir Syekh Muhammad Abduh di awal
> abad ke-20 sangat keras menentang poligami yang dituduhnya merupakan
> sumber kerusakan di Mesir. Abduh bahkan menyatakan bahwa adalah tidak
> mungkin mendidik bangsa Mesir dengan baik sepanjang poligami yang
> bobrok itu dipraktikkan secara luas.
>
> Muhammad Abduh, menurut Ridha, mengupayakan pelarangan poligami atas
> dasar kaidah ushul yang berbunyi mencegah mudharat harus didahulukan
> ketimbang mengambil manfaat (hlm 57). Ridha sendiri bersikap lebih
> lunak, dengan mengakui poligami sebagai pilihan dalam kondisi tertentu.
>
> Namun, ia pun menegaskan bahwa hanya sedikit sekali saat ini pelaku
> poligami yang bisa membebaskan diri dari kezaliman yang diharamkan
> (hlm 55). Ia juga memperingatkan bahwa di zaman modern ini poligami
> terlalu sering dimanfaatkan secara salah oleh kaum pria, sehingga
> menjadi sumber bencana kehidupan rumah tangga dan ketelantaran
> anak-anak (hlm 56). Jadi, penolakan terhadap upaya promosi poligami
> sama sekali tidak bisa dengan gampang disebut sebagai kritik tidak
> Islami. Begitu juga dengan contoh yang saya gunakan dalam tulisan
> tersebut, yang menunjukkan bagaimana Nabi Muhammad mencegah menantu
> sekaligus sahabatnya, Ali bin Abi Thalib, untuk menikah kembali. Bagi
> saya, kisah itu menunjukkan ketidaknyamanan Nabi ketika tahu putrinya
> akan dimadu.
>
> Para pendukung poligami membantah dengan mengatakan bahwa Nabi menolak
> karena yang akan menikah dengan Ali adalah putri musuh Nabi, Abu
> Jahal. Padahal, dalam Ensikplopedi Islam (Ichtiar Baru, 1994)
> dipaparkan bahwa meski Nabi memang pernah marah dengan manuver Abu
> Jahal mendekati Ali, Nabi juga pernah memperingatkan menantunya itu
> tatkala seorang tokoh Quraisy lain berniat menikahkan anak
> perempuannya dengan Ali. Jadi, tampaknya yang tidak bisa diterima Nabi
> bukan sekadar Abu Jahal, melainkan gagasan bahwa putri yang
> dicintainya akan dimadu. Saya bukan ahli agama. Tapi, insya Allah,
> saya tidak asal bicara. Seperti diberitakan Republika (28/7), Rektor
> Universitas Islam As-Syafiiyah, Tutty Alawiyah, juga mengatakan sangat
> kecewa dengan penghargaan itu. Ini melecehkan perempuan dan syariat
> Islam, katanya. Saya kira MUI harus segera mengeluarkan fatwa tentang
> hal ini. Puspo dan kawan-kawan bisa saja menganggap beristri empat
> lebih baik daripa beristri satu. Namun, orang perlu tahu bahwa yang
> berpikiran begitu tampaknya cuma sebagian kecil umat. Saya sendiri? Ya
> maaf sajalah, saya terlalu mencintai istri dan anak-anak saya. (Ade
> Armando) 
  

Kunjungi blog aku di:
http://titiana-adinda.blogspot.com/

----------------
Lelah menerima spam? Surat Yahoo! mempunyai perlindungan terbaik terhadap spam. 
http://id.mail.: 
<http://sg.rd.yahoo.com/mail/id/footer/def/*http://id.mail.yahoo.com/> 
yahoo.com/


         

         
---------------------------------
Looking for earth-friendly autos? 
 Browse Top Cars by "Green Rating" at Yahoo! Autos' Green Center.  

Kirim email ke