Berbicara soal topik di bawah, mengingatkan pada 'sentilan' Pak Haniwar soal
diare..
Bahwa di Indonesia kerap kali kita hanya digiring untuk berhenti setelah
'pengobatan'..
Seolah kalau sudah diobati, JANGAN BANYAK OMONG, KAU.. lantas lupa (atau
dialihkan
oleh PIHAK" TERTENTU - maaf, BAJINGAN), yang tidak ingin AKAR MASALAHnya
dicari
dan dicarikan solusinya bersama..

Bahkan tidak mustahil ada 'kebohongan publik' oleh pihak" tertentu khususnya
penyebab
sebenarnya dari kejadian tersebut.. termasuk upaya penghilangan barang
bukti..

Masih kurangkah peringatan Tuhan soal bisnis+penguasa (petinggi), khususnya
setelah
kejadian Lapindo dan Adam Air? Masih perlukah kita melihat rangkaian
'arisan' kecelakaan
lain? :-(

CMIIW..

Wassalam,

Irwan.K

On 2/24/07, Martin Widjaja <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

  Mas Kukuh dan Mas Bambang ysh,

Saya rasa Pak Menteri kita maupun P SBy [ minimal pembantunya]
sudah baca posting kita, ngerti dan membenarkan yg kita tulis,
ngerti mesti bagaimana, yg nggak bisa adalah bagaimana melaksanakan
nya dan punya malu dan tanggung jawab kalau nggak mampu untuk
mundur aja.
Saya rasa ini adalah akibat pendidikan yg salah , karena ujung2nya
biasanya mereka itu bilang, saya udah banyak instruksi mestinya begini
begitu, saya udah banyak berdoa, jadi yg salah kan bukan saya tapi
anak buah sampai ke Gusti Allah lagi ....[ mereka sangat relijius
biasanya..]

Jelas semua kecelakaan adalah karena tugas dan tg jawab yg
menyelenggarakan
negara [ baca: berkuasa ] tapi diabaikan karena nggak mampu, nggak mau,
KKN , dll , namun dibiarkan dan ditunggu siapa tahu nggak ada apa2 ..
eh ternyata kok terus2an nih KA anjlok, kapal karam, pesawat terbang rusak
[ walau boeing 734 bukan 732 seperti yg jatuh di Medan ..] , bukannya malu

dan mundur karena nggak bisa me manage anak buah dll tapi terus2an ngeyel
melakukan pembenaran diri sampai ke nyalahin Gusti Allah , Insya Allah ...

Yg saya sangat prihatinkan adalah ternyata P SBY nggak bisa melakukan
PERUBAHAN yg beliau janjikan...

Salam , martin - caracas

----- Original Message ----
From: kukuh kumara <[EMAIL PROTECTED] <keykmr%40yahoo.com>>
To: [email protected]<Forum-Pembaca-Kompas%40yahoogroups.com>
Sent: Saturday, February 24, 2007 8:34:19 AM
Subject: Re: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Lagi-lagi Kecelakaan

Benar sekali apa yg dikatakan Pak Bambang, Menteri jangan cuma melaporkan
bla..bla..bla saja. Sudah terlalu banyak kejadiannya dan beruntun dalam
kurun waktu yg sangat berdekatan. Bisa saja menteri nya sudah berusaha
keras, namun kalau tidak menguasai medan kerja..dan tidak bisa menggerakkan
jajarannya ya inilah hasilnya. Saya katakan demikian karena:

Setiap ada kejadian/kecelakaan urut2an nya hampir sama: Media masa
menyoroti Pucuk pimpinan tertinggi dalam hal ini menteri, kemudian jawaban2
klise dikeluarkan, bahwa kapal atau pesawat atau kereta/busnya layak laut,
terbang atau jalan. Ini laporan yg diperoleh menteri dari bawahannya,
misalnya Dirjen, dan dirjennyapun dapat laporan dari bawahannya lagi, dst,
dst... Coba simak dalam kecelakaan KMP Levina I, ada selisih jumlah
penumpang antara manifes dan kenyataannya. ...lalu ada laporan bahwa jumlah
pelampungnya tidak mencukupi, belum lagi sistim pemadam kebakaran di atas
kapal sendiri dan banyak lagi persyaratan2 yg harus dipenuhi agar kapal bisa
dinyatakan layak berlayar.

Kenyataan bahwa ada banyak kekurangan diatas kapal, tetapi kapal tetap
diijinkan berlayar oleh Syahbandar (ini kan bawahannya Menteri), maka
Syahbandarpun punya tanggung jawab berkaitan dengan kecelakaan ini, namun
ini lepas dari perhatian media. Kalau medianya memang "benar" maka ini juga
perlu dikupas, jangan ditarik ke arena politik, atau didramatisir demi
rating, atau tiras.

Contoh lain, soal Adam Air, memang ada sanksi sekarang, tapi sepertinya
terlalu ringan kalau hanya seperti itu. Coba kita tengok berapa banyak
pelanggaran yg dilakukan oleh Adam Air, dari Pesawat kesasar ke Tambolaka,
lalu memindahkan pesawat (barang bukti) yg kesasar secara tidak sah, lalu
Peristiwa hilangnya pesawat Adam Air pada 1 Januari 2007, dan yg terbaru di
Juanda, mungkin belum selesai diselidiki oleh KNKT?? Pesawatnya sudah dicat
putih......masih modal dikit pakai cat dibanding dengan awak bus yg biasanya
menempelkan lumpur ke badan bus kalau terjadi kecelakaan.. ..untuk
menghilangkan jejak?

Singkatnya, adakah komitmen dari seluruh jajaran Departemen Perhubungan
untuk mengatasi masalah itu, atau bisnis seperti biasa, sertifikat kelayakan
tetap bisa dikeluarkan asal ongkosnya cocok, walaupun kenyataan dilapangan
berbeda sekali. Mungkin saja Menteri Perhubungan sudah mengumpulkan seluruh
jajarannya dan menyiapkan program2 untuk menciptakan sistim tranportasi
nasional yg cepat, terjangkau, aman, dan handal dalam waktu yg tidak terlalu
lama.

Usulan yg layak dilakukan saat ini adalah seluruh armada angkutan di audit
oleh badan independen, dan diumumkan hasilnya ke masyarakat. Kemungkinan
besar, sebagian besar banyak alat2 transportasi itu yg tidak layak.
Berangkat dari sana, bisa diketahui berapa biaya yg dibutuhkan untuk
mendapat armada yg layak demi keselamatan penumpang. Akan terjadi defisit
angkutan apabila aturan2 Internasional yg telah ada dan berlaku betul2
diberlakukan secara konsekuen. Ditahap awal dukungan masyarakat diperlukan
dalam bentuk mau mengurangi perjalanan2 yg tidak perlu, serta tidak
memaksakan menaiki alat angkut yg tidak layak.

Itulah sedikit yg mungkin sempat terlintas dipikiran saya.

Salam
Kukuh Kumara
.

Kirim email ke