kali ini saya sependapat dengan Bung DL,
orang Indonesia kebanyakan memang agak aneh, kadang2 mereka 
cenderung untuk menggampangkan masalah, tapi tak jarang pula mereka 
mempersulit masalah yg gampang...
semuanya kembali lagi bersumber kepada UUD, ujung2nya duit...
makanya ada iklan rokok yg memakai tagline;
"Kalo emang susah kenapa harus dibikin gampang?"
TANYA KENAPA???

hal ini juga terjadi dalam dunia pers, khususnya media cetak..
kadang-kadang karena keterbatasan space, mereka harus membuat 
tagline yg singkat tapi harus bisa menarik minat pembaca ato dlm bhs 
jawanya: eyecatching. Untuk itulah mereka kadang menghalalkan segala 
cara, menabrak rambu-rambu, batasan atau kaidah yg ada. memang 
terkesan tolol, tapi apa mau dikata; duit yg berbicara, bung.
Duit tidak pernah mengenal tata bahasa atau rambu-rambu.

saya sendiri khawatir, mau jadi apa bangsa ini kalo masyarakatnya 
sudah menjadikan duit dan udel sebagai Tuhannya.
mungkin itulah yang menjadi salah satu sebab kenapa bangsa ini tidak 
pernah maju.

cape deeehh

heri hidayat

--- In [email protected], "Danny Lim" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Tempo hari saya pernah memposting artikel wawancara Radio Nederland
> dengan redaksi Tempo. Kalimat-kalimat sang pemimpin redaksi Tempo
> pada wawancara itu adalah "kreasi" sendiri, artinya sama sekali
> tidak mengikuti kaidah tata bahasa Indonesia. Kita tidak tahu mana
> subyek, mana obyek, mana keterangan waktu, mana anak kalimat dll.
> 
> Hal di atas ada kaitannya dengan ke-rese-an orang Indonesia. Kita
> lihat kasus yang aktuil sekarang ini, yaitu poligaminya Ade 
Armando.
> Sesuai UU, jelas poligami diperbolehkan di Indonesia, namun amat
> banyak anggota Media Care yang mengutuk AA Gym dan Ade Armando.
> Tentu saja setiap orang Indonesia berhak kontra poligami, tapi yang
> mesti dihantam adalah KUA yang mensahkan poligami, bukan AA Gym 
atau
> Ade Armando yang tidak bisa berpoligami bila tidak ada KUA.
> 
> Kecendrungan membuat UU sendiri pada mayoritas orang Indonesia itu
> analog dengan kecendrungan orang Indonesia membuat tata bahasa
> sendiri. Belum membudaya buat orang Indonesia untuk PATUH kepada UU
> dan Tata Bahasa, serta peraturan-peraturan lainnya. Korupsi, jam
> karet dan gebuk-gebukan adalah contoh lain kecendrungan orang
> Indonesia melanggar peraturan yang ada.
> 
> Salam hangat, Danny Lim, Nederland
> 
> 
> MOD:
> 
> Oom DL, sekadar info dan koreksi...Mas BHM sudah lama tidak 
menjabat sebagai Pemred TEMPO. Saran saya untuk Ranesi, karena 
wawancara lisan, redaksi/script writer atau apalah namanya kan musti 
mengedit sebelum ditayangkan.
> 
> 
> --- In [email protected], radityo djadjoeri <radityo_dj@>
> wrote:
> >
> > Mohon komentar dari teman-teman untuk serangkaian kalimat di 
bawah
> ini:
> >
> >   "Kapal Terbakar Usai Nonton Titanic"
> >
> >   (judul berita di harian Tribun Timur, Makassar)
> >
> >   Komentar sty:
> >   Rasa-rasanya memang kurang logis, masa ada kapal yang bisa
> nonton. Yang bisa nonton kan penumpang, bukan kapalnya.
> >
> > "Yang membawa sepeda jangan ditempatkan dalam gedung"
> >   (di mesjid)
> >
> > "Yang membawa HP harap dimatikan"
> >   (di mesjid)
> >
> > "Waktu chotib berkhotbah dilarang berbicara"
> >   (di mesjid)
> >
> > "Jangan keluar sebelum diguyur"
> >   (di dalam toilet)
> >
> >
> >   Komentar Anda?
> >
> > sumber: sty -  guyub bahasa
> >
> >
>


Kirim email ke