Budi betul 100%, semuanya tergantung pada manusianya, biar pun negara RI resmi sudah merdeka tapi orang-orangnya belum siap merdeka. Semua teknologi memang macet di Indonesia.
Seorang teman saya kuliah Safety Management di Jerman, dia belajar bagaimana lampu lalu-lintas otomatis berubah bila ada kebakaran. Misal ada kebakaran di kampung A dan markas brandweer ada di lokasi B, maka semua lampu merah antara B ke A otomatis hijau semua. Beberapa menit kemudian, bila semua mobil brandweer telah melewati lampu LL, baru lampunya beroperasi normal lagi. Selama brandweer lewat itu, kendaraan dari segala jurusan tertib berhenti menunggu sampai lampu merahnya berubah hijau. Di Indonesia mana bisa begitu? Orang Indonesia 'kan rese, di jalan raya pun mereka bikin UU sendiri, bukan? Akhirnya teman saya yang master Safety Engineering itu menjadi manager restoran sate di Kebayoran. Ilmu Safety Engineering-nya paling bisa dipraktekkan di dapurnya agar tidak kebakaran ketika membakar sate. Belum siap mental sudah memaksakan merdeka sih, sampai Soekarno diculik oleh Sukarni cs dipaksa membacakan teks proklamasi tanggal 17 Agustus 1945 tempo doeloe itu. Mengucapkan teks proklamasi sih gampang, sama gampangnya dengan menyerukan Pancasila atau UUD RI, tapi melaksanakannya itu yang syuseeeh sekali, butuh kedewasaan, kesiapan mental, cinta negeri, ber-etos kerja top dll., bukan begitchu? Salam hangat, Danny Lim, Nederland --- In [email protected], [EMAIL PROTECTED] wrote: > > hehehe, > Om Danny, masalahnya bukan disitu, > sejauh yang pernah saya baca, saya melihat > SoFi-nummer memang sudah ter-aplikasi di hampir > semua negara yang sudah maju........ > > hanya saja, jika untuk Indon, usul Om Lim ini jadi > 2 kali musibah : > > - musibah pertama, bakal jadi alasan bagi pejabat terkait > untuk proposal proyek baru, studi banding, dan jual ide > yang ujung2nya ajang korupsi baru .....(hasrat pembodohan)... > > - musibah kedua : setelah di-aplikasikan, banyak 'ogah'nya > bagi petugas negara untuk cross-check & action plan yang > diperlukan, sebagai tujuan utama program ini.....jadinya? > udah mahal2, malah abubakar basyir, eh.......mubasir dech!!! > (hasrat do nothing).... > > kaget gak, high-tech yang sudah men-dunia, 'macet' di Indon.....? > > saya lebih setuju usulan diversifikasi pertanian yang juga pernah > diusulkan oleh Om Lim beberapa waktu yang lalu di milist....... > > > gitu loch Om, salam 'hujan-panas' dari Jakarta > > > > > > "Danny Lim" <[EMAIL PROTECTED]> > Sent by: [email protected] > 02/24/2007 12:52 AM > Please respond to > [email protected] > > > To > [email protected] > cc > > Subject > [mediacare] Re: [KincirAngin] Essay - Sebuah prasangka terhadap teman yang > kebetulan anggota DPR > > > > > > > Haaaah ........ Indonesia negara terkorup nomor 6 di dunia dan anda > bilang SoFi-nummer tidak applicable di Indonesia? Contoh-contoh yang > anda berikan di bawah ini kriminalitas/korupsi dari kelas teri, > sedangkan SoFi-nummer dapat menangkap kriminalitas/korupsi kelas > kakap. Indonesia sebagai negara no. 6 terkorup di dunia, maka > ikannya bukan kakap lagi tapi sudah ikan paus. > > Pantas korupsi di Indonesia cerah meriah, sebab logika orang > Indonesia terbalik, yaitu "bila tidak mampu mendeteksi ikan teri, > janganlah coba mendeteksi ikan paus." Logika di Belanda 'tuh > sebaliknya lho, yaitu "bila anda tidak mampu mendeteksi ikan paus, > janganlah coba mendeteksi ikan teri", sebab kans suksesnya nihil. Di > Belanda mungkin saja ada korupsi/kriminalitas kecil-kecilan, tapi > yang gede-gede 'mah udah terjaring SoFi-nummer atuh. > > Masing-masing negara merdeka, merdeka mengurus negaranya masing- > masing, ihik ihik. > > Salam hangat, Danny Lim, Nederland > > --- In [email protected], budi.sulistiyo@ wrote: > > > > Om Lim, mo nanya dikit...... > > apa SoFi-nummer juga bisa men-detect hal-hal berikut : > > > > - usaha sampingan warung kelontong & besi tua > > - bisnis sampingan jual beli ganja ... > > - hasil makelarin jual beli tanah/ mobil orang lain > > - hasil sumbangan atas nama yayasan fiktip/ tdk terdaftar.... > > - uang hasil ber-gigolo ria > > > > bila bisa, berarti available untuk di-aplikasikan di Indon, > > kalo tdk bisa, ya lupakan saja dululah.... > > tdk semua yg di Belanda aplicable di Indon.... > > > > > > salam, > > > > > > > > > > > > "Danny Lim" <d.lim@> > > Sent by: [email protected] > > 02/23/2007 02:21 AM > > Please respond to > > [email protected] > > > > > > To > > [EMAIL PROTECTED], "mediacare mediacare" > > <[email protected]> > > cc > > > > Subject > > [mediacare] Re: [KincirAngin] Essay - Sebuah prasangka terhadap > teman yang > > kebetulan anggota DPR > > > > > > > > > > > > > > Dengan adanya internet, pembandingan gaji seseorang dengan > mobilnya > > gampang > > sekali. Di Belanda misalnya, Dinas Pajak mencatat di komputernya > berapa > > pajak yang dibayar seseorang, maka akan diketahui penghasilannya > (gaji > > atau > > keuntungan perusahaan). Komputer Dinas Pajak dikopel dengan > komputer > > Polisi > > Lalu Lintas yang punya catatan nomor polisi mobil. Maka orang yang > gajinya > > > > kecil tapi punya mobil Mercedes pastilah menggelapkan pajak atau > mendapat > > uangnya dari praktek kriminal. Pengkopelan database Dinas Pajak > dan Polisi > > > > Lalu Lintas itu legal, diatur oleh UU Belanda. Kuncinya SoFi- > nummer, sejak > > > > mbrojol dari perut sampai gamepoint, seseorang di Belanda memiliki > sebuah > > SoFi-nummer. Pemerintah tinggal mentik SoFi-nummer seseorang, maka > seluruh > > > > riwayat hidupnya akan terbaca di monitor. Misalnya pernah menikah > berapa > > kali dengan siapa, alamatnya di kota apa, bekerja di mana, pernah > dihukum > > atau tidak dll. > > > > Mengapa Indonesia tidak mau mencontek sistim SoFi-nummer Belanda > untuk > > mengganyang korupsi? Walahualam. > > > > Salam kincir, Danny Lim, Nederland > > > > ----- Original Message ----- > > From: "Satrio Arismunandar" <satrioarismunandar@> > > To: "news Trans TV" <[EMAIL PROTECTED]>; "student EMBA" > > <student.emba2005@>; "Begundal Salemba" > > <[EMAIL PROTECTED]>; "PJTV PJTV" > <[EMAIL PROTECTED]>; > > "Cikeas Cikeas" <[EMAIL PROTECTED]>; "mediacare mediacare" > > <[email protected]>; "jurnalisme" > <[EMAIL PROTECTED]>; > > "pantau" <[EMAIL PROTECTED]>; "AJI INDONESIA" > > <[EMAIL PROTECTED]>; "Kincir Angin" > <[EMAIL PROTECTED]>; > > "Forum Kompas" <[email protected]> > > Sent: Thursday, February 22, 2007 11:49 AM > > Subject: [KincirAngin] Essay - Sebuah prasangka terhadap teman > yang > > kebetulan anggota DPR > > > > > Essay - SEBUAH PRASANGKA TERHADAP TEMAN, YANG KEBETULAN ANGGOTA > DPR > > > > > > Prasangka di hati kita terkadang terlalu kuat, dan mempengaruhi > > penilaian > > > kita pada hal-hal yang secara umum dianggap seolah-olah sudah > pasti > > > kebenarannya. Misalnya, anggapan bahwa anggota DPR hampir > semuanya pasti > > > > > korup, busuk, atau menerima uang haram. Padahal prasangka kita > bisa jadi > > > > > sangat keliru, atau minimal tidak seakurat yang kita bayangkan. > > > > > > Hal ini pernah menimpa saya. Sebagai jurnalis dan mantan > aktivis, yang > > > merasa ikut andil dalam gerakan prodemokrasi menumbangkan > kekuasaan > > > Soeharto tahun 1998, saya punya rasa kecurigaan yang tinggi > terhadap > > > mereka yang menjadi pejabat negara, entah itu di pemerintahan > atau pun > > di > > > DPR. > > > > > > Nah, suatu saat ada teman saya aktivis, yang melangsungkan > pernikahan di > > > > > Jakarta (2006). Saya sebagai teman lama seperjuangan tentu saja > > memerlukan > > > hadir. Karena yang menikah ini aktivis yang punya jaringan luas, > maka > > > ramailah acara pernikahan itu dihadiri para mantan aktivis, > termasuk > > yang > > > sudah menjadi pimpinan di partai politik dan mendapat jabatan di > DPR. > > > > > > Salah satu dari mereka, sebut saja namanya XY, datang ke acara > > pernikahan > > > dengan mobil mewah, yang harganya saya taksir pasti di atas Rp > 650 juta. > > > > > Saya kenal akrab dengan XY ketika sama-sama menggalang aksi > mahasiswa > > > pasca sarjana di Universitas Indonesia tahun 1998. Tetapi > sesudah itu > > kami > > > jarang bertemu dan jarang kontak. Saya tetap berkarir di jalur > > > jurnalistik, sedangkan dia memilih terjun ke dunia politik. > > > > > > Saya pun berbisik ke seorang mantan aktivis lain, yang kenal > dekat > > dengan > > > XY. "Apakah XY itu ketika jadi anggota DPR termasuk 'bersih"?" > Dia > > > menjawab, "Yah, di dunia politik seperti ini sulitlah kalau kita > mencari > > > > > orang yang benar-benar 100% bersih. Tapi XY ini masih > lumayanlah..." > > > > > > "Lho, tapi bagaimana dia bisa punya mobil mewah, yang harganya > pasti tak > > > > > terjangkau dengan sekadar gaji anggota DPR?" tanya saya, > penasaran. "Oh, > > > > > dia tidak membeli mobil itu. Dia bernasib baik memenangkan > undian > > > berhadiah mobil dari sebuah bank. Bank 'kan sering bikin undian > untuk > > > memancing nasabah baru," sahut rekan saya. > > > > > > Saya terhenyak. Ternyata prasangka dan kecurigaan saya tidak > terbukti. > > > Saya memang tidak tahu persis, apakah XY betul-betul "bersih." > Tetapi, > > > setidaknya, khusus untuk kasus mobil mewah ini, dia > memperolehnya bukan > > > dari korupsi seperti yang saya duga semula. > > > > > > Sejak saat itu, saya bertekad untuk lebih berhati-hati, sebelum > > > tergesa-gesa menilai atau menghakimi "bersih-tidaknya" orang > lain. > > > Walaupun, kalau sekadar mengikuti pandangan umum yang populer, > dengan > > > mudah pasti kita akan mengatakan: "mayoritas anggota DPR pasti > korupsi." > > > > > > Manila, 22 Februari 2007 > > > > > > > > > Satrio Arismunandar > > > Producer - News Division, Trans TV, Floor 3 > > > > > > http://satrioarismunandar6.blogspot.com > > >
