Di Belanda, Jansen memaki Mohamad saja sudah diskriminasi namanya. 
Maka Jansen akan dicekal polisi dan diajukan ke pengadilan. Lalu 
Jeroen menghina mata A Liang yang sipit, maka Jeroen pun 
diskriminatif dan akan dicekal oleh polisi Belanda dan diajukan ke 
pengadilan. Diskriminasi adalah diskriminasi, yang melakukan 
diskriminasi pasti kena hukuman di Belanda sini, tidak perduli yang 
berbuat diskriminatif itu namanya Jansen, Jeroen, Mohamad, Mustafa, 
A Liong, A Seng, Paijo atau Abidin.

Di Indonesia yang namanya diskriminasi terhadap orang Tionghoa 'tuh 
berjibun jumlahnya, bisa dalam bentuk makian bisa juga dalam bentuk 
pemerasan atau lainnya. Tapi tiba-tiba orang yang bernama Yap Hong 
Gie di bawah ini mendudukkan orang Tionghoa yang menjadi korban 
diskriminasi itu, sebagai pelaku rengek-merengek??? Ho ho ho, Yap 
Yap, be normale guy, be normale please.

Bahwasanya orang Tionghoa di Indonesia ada yang berbuat salah, itu 
betul. Ada yang kelakukannya nol, itu juga betul. Dan itu semua 
harus diperlakukan orang per orang, siapa salah masuk bui atau kena 
denda. Tapi anehnya Yap Hong Gie ini, bila diskriminasi terhadap 
orang Tionghoa tidak boleh digeneralisir sebagai perbuatan seluruh 
orang Indonesia asli, tiba-tiba rengek-merengek orang Tionghoa boleh 
begitu saja digeneralisir sebagai rengek-merengeknya seluruh orang 
Tionghoa di Indonesia? Terhadap cara berpikir ala Yap Hong Gie ini 
Orang Belanda menyebutnya "meten met twee maten" (mengukur dengan 
meteran yang berbeda).

Salam hangat, Danny Lim, Nederland

--- In [email protected], "Yap Hong Gie" <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote:
>
> http://groups.yahoo.com/group/tionghoa-net/message/52882
> 
> 
> "BECKhoo",  Mon Feb 26, 2007
> 
> ---- In [email protected], "HKSIS" <SADAR@> wrote:
> 
> > Dalam kesempatan itu, Presiden minta semua pihak tidak saling 
menyakiti, 
> > mencaci maki atau berkata-kata kasar, dan memfitnah atau 
melakukan 
> > pembunuhan karakter.
> 
> > Setelah mengambil napas dalam, Presiden melanjutkan, "Kita sangat
> > membenci fitnah dan pembunuhan karakter terhadap diri kita. 
> > Untuk itu, janganlah untuk kepentingan tertentu justru kita 
sangat 
> > produktif menaburkan fitnah dan melakukan pembunuhan karakter 
kepada
> > orang lain."
> 
> =========
> 
> Saya kira ada maksudnya SBY menggunakan kalimat2 'bersayap' semacam
> ini. Entah itu ditujukan kepada rival Matakin dlsb, kita hanya bisa
> menduga2.
> 
> Saya ingat, waktu kunjungan ke Presiden Megawati yang diprakarsai
> Murdaya Poo dan diikuti di antaranya tokoh Duarte Inn; Megawati 
juga
> memakai istilah bersayap 'mawas diri'.
> 
> Boleh saja merasa ngga jelas dengan statement SBY, tapi  kata2 
> 'FITNAH' dan 'PEMBUNUHAN KARAKTER' adalah kata2 yang 
> tajam dan tegas, apalagi untuk ukuran SBY. Tidak bisa kita sebagai
> Tionghoa/Cina, kepada statement diarahkan - mau merem saja
> menanggapinya.
> 
> Dalam sehari-hari membaca keluhan para teman2 Tionghoa, selalu
> keluhan klasik itu-itu saja untuk menggambarkan diskriminasi yang
> dialami oleh mereka di negeri ini; yang lama2 sebenarnya lebih 
mirip
> mitos belaka.
> 
> Mitos #1
> Penghinaan dari lingkungan sekitar : rumah, sekolah, kantor; dengan
> istilah2 'Cina loleng, makan babi sekaleng', 'sipit' dll yang 
bernuansa
> etnis. Kalau orang Tionghoa berbuat baik, nama Tionghoanya ngga
> disebut. Kalau berbuat jahat, nama Tionghoanya pasti dicantumkan.
> 
> Mitos #2
> SBKRI sebagai media diskriminasi. Bahkan setelah peraturan dicabut,
> dalam pelaksanaannya masih tetap diminta.
> 
> Mitos #3
> Sebutan Cina bersifat penghinaan (sehingga selalu minta disebut
> Tionghoa).
> 
> Mitos #4
> Kerusuhan Mei 98 adalah kerusuhan terhadap etnis Tionghoa.
> 
> Mitos #5
> Orang Tionghoa didiskriminasikan dari penerimaan Universitas 
Negeri,
> pegawai negeri sipil dan TNI.
> 
> 
> Dalam keluhannya sehari2, gemar sekali kaum Tionghoa ini mengumbar
> kata 'didiskriminasi', bahkan meluas menjadi menuduh negara telah
> melakukan diskriminasi - tanpa memahami bahwa ada perbedaan besar
> antara state discrimination (yang berbentuk UU dan Peraturan
> Pemerintah) dengan implementasi yang diskriminatif oleh oknum2 di
> lapangan.
> 
> Bahkan yang sifatnya olok2 dalam interaksi sosial, dimana racism
> adalah santapan sehari2 : 'padang bengkok', 'batak tukang copet' 
dll
> juga biasa dipakai jika hati menyimpan bibit benci, bukan dipakai
> atas etnis Cina saja; bisa ditarik2 dan diperlebar menjadi
> diskriminasi oleh negara.
> 
> Sementara kebalikannya, dalam mengingkari kesejahteraan yang
> dinikmati di Indonesia - acapkali data2 yang menunjukkan sejumlah
> besar orang kaya, daftar orang terkaya yang didominasi Tionghoa, 
dan
> bagaimana orang2 Tionghoa kaya ini memperlakukan Indonesia seperti
> hotel (baca : 1/3 orang kaya Singapore dengan kekayaan U$ 87 bn :
> message #49580) - disangkal habis2an dengan membawa2 Cina Benteng
> dsb dsb.
> 
> Sesungguhnya semua ini menunjukkan ketidak-jujuran kaum yang suka
> complain tsb di atas - dalam konteks menjadi bagian dari bangsa 
ini.
> Padahal sebagian besar tuntutan sudah dikabulkan oleh Pemerintah :
> pencabutan SBKRI, Imlek sebagai hari libur nasional, pemakaian kata
> Tionghoa, dsb.
> 
> Tapi kata DISKRIMINASI terus-menerus diumbar. Oknum dibilang 
negara.
> Olokan di pasar dibilang penghinaan etnis. Kerusuhan Mei 98 
dianggap
> penderitaan eksklusif etnis, luka2 etnis dan kelompok lain dibilang
> sudah diadili sementara keadilan buat Tionghoa tidak diberikan.
> 
> Terus-menerus, kaum yang pathetic ini merasa kelompoknya yang 
paling
> menderita dan teraniaya. Di antara gelimpangan masalah bangsa dan
> azab yang dialami oleh elemen bangsa lainnya akibat ketidak-becusan
> pengelolaan negara yang dialami rakyat secara merata.
> 
> Negeri ini, yang merayakan imlek secara gegap-gempita di mal2 
dimana
> barongsay disukai berbagai etnis, anak2 pribumi berebut 
menyentuhnya
> bersama anak2 Tionghoa; tidak pernah secara sengaja, sadar dan
> massal membenci dan menyudutkan etnis Tionghoa.
> 
> Mengapa makian akibat perselisihan individu, mesti dibawa2 sebagai
> persoalan diskriminatif ?
> 
> Di Amerika, racist remark terhadap kaum migran dan minoritas sudah
> lazim. Yellow Peril, Ching-Chong Chinaman sudah merupakan olokan
> sering didengar; bahkan disebutkan oleh comedian Rosie O' Donnel di
> National Channel.
> 
> Dulu di Inggris, saya juga acapkali melihat racist remark terhadap
> minoritas Asian migrant. Pernah nonton 'Little Britain' ? Comedy
> sketch tersebut melukiskan dengan gamblang dan menyentil soal
> prejudis kaum ultra-conservative terhadap etnis minoritas, gay,
> transvestive dan orang cacat.
> 
> Di acara Celebrity Big Brother, aktris Bollywood Shilpa Shetty
> diejek2 secara rasis oleh Britain' girl next door seperti Jade 
Goody
> dan Danielle Lloyd dengan istilah 'pompadom', 'black indian' dsb. 
So
> what, karena orang2 juga menyebut Goody dan Lloyd sebagai 'white
> trash'.
> 
> Di Malaysia, istilah 'keling' dianggap penghinaan bagi warga
> Indianya. Atas lobby MIC, kata 'keling' dikeluarkan dari dictionary
> bahasa Melayu (Kamus Dewan). Tapi toh, nama 'keling' tetap dipakai
> dalam nama tempat bersejarah di Penang : 'Masjid Kapitan Keling'
> karena pemakaiannya dalam konteks penghormatan terhadap pendirinya.
> 
> Jadi, istilah yang jelek bisa jadi tidak jelek kalau pemakaiannya
> untuk konteks hormat - jadi mengapa mesti kita persoalkan dipanggil
> apa ? A rose by any other name would smell as sweet, kata
> Shakespeare, bunga bangkai ya berbau bangkai walaupun disemprot
> parfum. Apa ada perbedaan antara konglo hitam Cina dengan konglo
> hitam Tionghoa, pengemplang BLBI Cina dengan pengemplang BLBI
> Tionghoa, juragan narkoba Cina dengan juragan narkoba Tionghoa ?
> 
> Mengapa kita tidak coba jujur pada diri sendiri ?
> 
> Mengapa menyangkal bahwa kaum Tionghoa banyak yang hidup 
> sejahtera di negeri ini; bahwa banyak dari mereka melakukan 
kejahatan -
> penggelapan pajak, mengedarkan narkoba, membajak, menyogok 
> pejabat, mengemplang bank, melarikan duit ke LN memperkaya negara
> tetangga dsb; bahwa memang anak2 etnis kita kurang berminat menjadi
> TNI dan pegawai negeri karena takut mati dan gajinya kecil; bahwa 
etnis2
> lainnya juga sering kita maki secara etnis di belakang mereka 'fan-
> kui', 'hwa-na' sementara kita sewot dipanggil Cina loleng ?
> 
> Mengapa tidak kita coba lihat lebih jernih : negara atau oknum ? 
> Dan seperti tema Imlek : apakah saya lakukan terhadap orang lain, 
apa
> yang saya tidak ingin mereka lakukan pada saya ?
> 
> Kata Presiden adalah benar, di negeri ini tidak ada state 
> discrimination - kalau ada yang masih menuduh demikian, maka itu
> adalah fitnah. Dan kalau masih saja menyama-ratakan bangsa dengan
> oknum, menyebut bangsa ini diskriminatif terhadap Tionghoa dengan
> mitos2 seperti di atas - adalah pembunuhan karakter.
> 
> Tahun Babi Api ini dan tahun2 berikutnya, tidak bisa tidak, adalah
> tahun mawas diri.
> 
> BK
>


Kirim email ke