MERAYAKAN KOMUNITAS, MENGKAJI SELEKTIFITAS 
  
 Sumber: 
http://korantempo.com/korantempo/2007/02/25/Suplemen/krn,20070225,44.id.html 
  
 Sejumlah mailing sastra berulang tahun. Sejumlah acara digelar, sejumlah karya 
didaftar. Belum diyakini memberikan pengaruh penting bagi perkembangan sastra 
nasional. 
  
 SEBUAH pertanyaan terlontar dari mulut cerpenis Damhuri Muhammad. “Saya dengar 
bang Remy masih menggunakan mesin tik dalam menulis naskah, apa betul? Apakah 
karena bunyi mesin tik itu yang menyebabkan abang terus aktif menulis?” tanya 
pengarang kumpulan cerpen Lidah Sembilu itu dengan antusias. 
  
Remy Silado, yang duduk di kursi pembicara, menjawab cergas. “Ah, tidak benar 
soal mitos bunyi mesin tik itu, apalagi supaya tetangga tahu saya masih kerja 
larut malam karena bunyi tak-tok-tak-toknya. Masalahnya sederhana saja, saya 
ini gagap teknologi. Punya lap top, tapi masih nggak berani menggunakan,” Mata 
sastrawan itu menyapu hampir seratusan hadirin. “Saya malah punya cerita lucu 
waktu Harry Roesli menelpon saya. Dengan sedih dia bilang repertoar musik untuk 
sebuah pergelaran tiba-tiba hilang. Saya bilang, makanya kalau nggak bisa 
komputer jangan sok tahu,” lanjutnya disambung tawa pengunjung. 
  
Dialog di atas tidak terjadi di salah satu ruangan Taman Ismail Marzuki, atau 
kantong-kantong budaya yang bertebaran di Jakarta. Percakapan kedua sastrawan 
berbeda generasi itu berlangsung di sebuah ruangan sejuk yang dikelilingi 
lautan buku impor, CD dan pelat rekaman dalam kemasan vinyl menarik, di ruangan 
belakang toko buku ak.'sa.ra, Kemang, Jakarta Selatan. 
  
 Hari itu, Minggu 28 Januari 2007, Remy Silado membagi proses kreatif penulisan 
karya-karyanya, novel maupun puisi, kepada anggota mailing list (milis) 
Apresiasi Sastra – populer disebut Apsas -- yang sedang berulang tahun kedua. 
Remy ditemani Kurnia Effendi, cerpenis yang baru meluncurkan kumpulan cerpen 
terbaru Burung Kolibri Merah Dadu, Rabu dua pekan silam. 
  
 Sejumlah acara lain digelar. Dari bedah buku anggota seperti Lidah Sembilu 
karya Damhuri yang dikupas novelis Ita Siregar; diskusi dua buku kumpulan puisi 
Di Lengkung Alis Matamu (Johannes Sugianto), dan Biru Hitam Merah Kesumba 
(karya kolaborasi Lulu Ratna, Olin Monteiro, Oppie Andaresta, dan Vivian Idris 
yang menamakan diri mereka “perempuan bukan penyair”), sampai musikalisasi 
sajak Sutardji Calzoum Bachri yang dilakukan Iwan Sulistiawan-Rilla Romusha. 
  
Jika sebagian besar nama di atas jarang ditemukan di halaman-halaman sastra 
koran minggu, harap maklum. Ini era sastra internet, bung! Jika ingin mengenal 
mereka lebih jauh, berselancarlah di dalamnya. Maka akan terungkap bahwa Ita 
adalah karyawan Femina non-redaksi, Johannes itu staf kehumasan perusahaan 
tepung terigu terbesar di Indonesia, Lulu adalah distributor film independen 
(yang lebih dulu berkibar namanya di kalangan sineas), Olin merupakan aktivis 
sebuah LSM, dan Vivian mantan publicist sebuah festival film internasional yang 
kini bergerak di industri buku dan musik. Mungkin baru figur keempat, Oppie 
Andaresta yang sudah dikenal secara nasional sebagai penyanyi papan atas. 
  
Kalau daftar di atas masih ingin dilanjutkan, maka Iwan yang lebih suka 
dipanggil Bung Kelinci adalah Kepala Bagian Kemahasiswaan sekaligus dosen 
bahasa Inggris di Sekolah Tinggi Bahasa Asing Lembaga Indonesia Amerika (STBA 
LIA). Beberapa cerpennya pernah muncul di The Jakarta Post, sedangkan Rilla 
adalah ... mantan mahasiswa Iwan! 
  
 Dan, oh ya, salah seorang moderator milis datang dari Bandung. Hernadi Tanzil 
namanya, juga dikenal sebagai peresensi buku yang produktif di dunia maya. 
Pekerjaan resmi? Kepala bagian akunting di sebuah pabrik kertas di Kota 
Kembang. 
  
Jika nama anggota yang berhalangan hadir harus disebut, beberapa di antaranya 
adalah penyair Hasan Aspahani (Batam), novelis Hary B. Kori'un (Pekanbaru), 
pemenang Khatulistiwa Literary Award 2006 novelis Gde Aryantha Soethama (Bali), 
dramawan Ikranagara (Amerika Serikat), esais-pemikir JJ Kusni (Paris), sampai 
sastrawan eksil Sobron Aidit yang baru dua pekan silam meninggal dunia. 
  
 Nah! Keguyuban lintas profesi seperti ini memang khas komunitas yang terbentuk 
di internet. Tapi apakah hanya keguyuban saja yang menjadi tujuan? Anggota 
Apsas membuktikan sepanjang 2006 mereka menelurkan tak kurang dari 50 buku 
berupa novel, puisi, esai-esai catatan perjalanan, sampai cara memilih nama 
bayi! Dan semua karya itu bisa ditemukan di rak-rak toko buku nasional. (Lihat: 
judul artikel Kurnia Effendi, Menuju Institusi Apresiasi Sastra, Mungkinkah?). 
  
 *** 
PERJALANAN yang lebih panjang ditorehkan Forum Lingkar Pena (FLP), komunitas 
penulis yang Sabtu lalu merayakan ulang tahun ke-10. “Ini merupakan fase kedua 
perjalanan FLP. Setelah mengejar kuantitas anggota, kini saatnya berkonsentrasi 
menggarap kualitas anggota,” ujar M. Irfan Hidayatullah, Ketua Umum FLP periode 
2005-2009. 
  
Peringatan satu dekade itu dipusatkan di Perpustakaan Departemen Pendidikan 
Nasional dengan sederet acara, termasuk peluncuran 10 buku karya anggota FLP. 
Mulai dari karya sang Ketua Umum sampai karya Bella, 9 tahun, novelis cilik 
putri Gola Gong. (Tentang profil lengkap dan karya Bella baca sisipan Iqra 
majalah Tempo, edisi 26 Februari – 3 Maret 2007, berjudul Dunia Fantasi Ataka 
dan Kawan-kawannya). 
  
 Perhatian untuk menggarap kualitas anggota itu mestinya bukan slogan di 
awang-awang. Sebab Irfan sendiri adalah dosen yang memegang tiga mata kuliah 
sekaligus di Jurusan Sastra Universitas Padjajaran: Kritik Sastra, Sastra Lisan 
(Folklor), dan Pengkajian Puisi Indonesia. Artinya, secara teknis ia memang 
memiliki kemampuan untuk mendongkrak kualitas karya-karya anggota FLP, yang 
secara berkelakar sering diformulasikan oleh mereka sendiri sebagai “cowok 
berandal bertemu cewek jilbab = insyaf”. 
  
Sadar akan label “sastra Islam” yang melekat begitu kuat pada karya-karya 
anggota FLP, Irfan akan menghela arah komunitas itu ke arah yang lebih luas. 
“Tidak hanya menggeluti tema-tema keislaman, tapi juga kesusastraan nasional,” 
ujarnya. Irfan bermimpi, momen selebrasi untuk merayakan komunitas ini sebagai 
“jalan baru menuju kesusastraan Indonesia” 
  
Jika dilihat secara administratif, komunitas yang didirikan oleh dua kakak adik 
Helvy Tiana Rosa dan Asma Nadia ini boleh jadi merupakan komunitas penulis yang 
paling tertata saat ini. Memiliki anggota sekitar 5.500 anggota tersebar dalam 
48 cabang di seluruh Indonesia, dan 8 wilayah luar negeri (Hong Kong, 
Singapura, Mesir, Sudan, Jepang, Eropa, Amerika Serikat, dan Belanda yang 
menjadi wilayah sendiri terlepas dari Eropa, sejak bulan lalu), barisan penulis 
FLP kini bertambah dengan Habiburrahman El-Shirazy, penulis novel laris 
Ayat-ayat Cinta, yang sudah dicetak belasan kali sejak diterbitkan awal 2004. 
  
 ***  
  
 SELAIN dua milis di atas, beberapa milis lain yang merayakan momen ulang tahun 
sepanjang Januari-Februari 2007 adalah milis penulis sajak Fordisastra (ulang 
tahun pertama), Pasarbuku (ulang tahun ke-7), dan Penulislepas (ulang tahun 
ke-6, untuk lengkapnya lihat tulisan Jonru Ginting, Harta Karun Bernama Milis 
PenulisLepas). 
  
 Menarik disimak kiprah milis Blogfam, yang merayakan ulang tahun ke-3 pada 13 
Januari 2007. Milis yang secara teknis lebih maju -- karena menggunakan fitur 
internet seperti blog (web log) – ini dirancang oleh Labibah Zain, mahasiswi 
doktoral di Universitas McGill, Montreal, Kanada, yang cerpen-cerpennya juga 
semakin banyak tercetak di media cetak nasional pada trimester akhir 2006. 
  
 Salah satu terobosan kreatif anggota Blogfam yang sangat menarik adalah 
membuat kumpulan flash fiction, sebuah fiksi yang lebih pendek dari umumnya 
cerita pendek (short short story). Flash fiction ini seringkali terdiri dari 
hanya ratusan kata. (lihat: artikel yang ditulis Rane ‘JaF’ Hafied, anggota 
Blogfam, 'Kompor' itu Bernama Blogfam).  
  
 Di mata Ibnu Wahyudi, dosen Sastra Bandingan Fakultas Ilmu Budaya Universitas 
Indonesia yang juga pengamat aktif milis-milis sastra, fungsi utama dari 
keberadaan milis-milis ini baru sebagai wadah komunikasi dan medium untuk 
menampilkan identitas. “Saya kira masih belum terlihat kontribusinya bagi 
perkembangan sastra nasional,” ujarnya. 
  
Penyebab pertama adalah karena semua karya bisa tampil tanpa ada otoritas yang 
menyeleksi mana karya yang layak, mana yang belum layak. Campur aduknya 
kualitas karya membuat bobot rata-rata karya dari para “sastrawan internet” ini 
masih harus ditakar dengan seksama. “Bukan berarti tidak ada yang bagus, tapi 
masih lebih banyak yang kurang bagus dibandingkan yang bagus,” tuturnya. 
  
Penyebab kedua, adalah muara keinginan para anggota milis yang tetap memimpikan 
karyanya dicetak seperti karya-karya sastrawan sebelum era internet. “Bagi saya 
ini agak aneh, karena jika penekanannya pada kata maya, seharusnya karya-karya 
itu tidak perlu dibukukan,” ujarnya. 
  
Namun Ibnu Wahyudi masih melihat peluang bagi para anggota milis untuk 
memberikan pengaruh positif bagi perkembangan sastra nasional, “sepanjang unsur 
selektifitas tidak dilupakan,” simpulnya. “Tanpa itu, saya khawatir fungsi 
milis hanya berakhir sebagai sarana silaturahmi.” 
  
Sebuah sinyalemen yang layak diperhatikan para “sastrawan internet” di berbagai 
milis, di tengah keriaan selebrasi masing-masing komunitas. 
  
 AKMAL NASERY BASRAL




 
---------------------------------
Don't be flakey. Get Yahoo! Mail for Mobile and 
always stay connected to friends.

Kirim email ke