Suatu sore di Bogor, hujan baru saja turun ketika SMS masuk ke hp saya. Mba,
Herman meninggal kecelakaan Kapal Levina. Sejenak dahi saya berkerut. Herman
siapa? Satu jam kemudian, dari layar kaca di sebuah hotel yang saya inapi, saya
baru sadar Herman siapa yang dimaksud. Lintasan-lintasan peristiwa berkelabat
di benak saya membawa kenangan masa lalu saat saya masih bekerja di Lativi
sebagai Koordinator Liputan. Saya ingat, ketika Firdaus dan Choirul bilang ke
saya ada lima anak magang untuk kameramen. Mereka adalah Suherman, Angga, Eko
Subiakto, Riki, dan Herdian.
Sebagai anak magang, kelima anak ini cukup lumayan tangguh dan
militian. Bahkan, belakangan saya justru mengandalkan mereka untuk liputan di
medan berat. Mereka tak mengeluh, meski sebagai anak magang, mereka cuma dapat
honor yang tak memadai. Mereka juga selalu siap, meski ditugaskan pagi-pagi
buta dan pulang larut malam. Pendek kata, semangat belajar mereka cukup tinggi.
Kemauan mereka untuk menjadi jurnalis sejati cukup besar. Tanpa ragu, kepada
mereka liputan-liputan akbar saya serahkan, meski kadang terdengar suara
bernada protes dari kameramen senior.
Kelima anak ini juga komunikatif. Apa yang mereka alami, apa yang
mereka rasakan selalu mereka ungkapkan kepada saya. Tugas sayalah yang kemudian
membesarkan hati mereka, agar tak patah semangat, tak pantang menyerah dan tak
mudah putus asa. Saya selalu bilang, seseorang akan dilihat dari hasil mereka
bekerja, tak peduli di mana pun mereka mengabdikan diri. Kelak yang ditanamkan
akan menuai hasil.
Kelima anak magang itu memiliki karakter yang berbeda. Riki pendiam
dan jarang ngomong, Eko S selalu open dan cerewet, Angga juga pendiam tapi
selalu banyak tanya, Herdian pendiam selalu manut saja, Suherman lucu dan
sering protes. Protesnya Herman bukan protes yang krusial, lebih sering
disampaikan lewat candaan. Dari kelima anak itu, yang kerap menjadi objek
kejailan saya ya Herman. Belakangan kalau dia sadar saya kerjain, dia cuma
bilang, Ah, Mba....
Suatu ketika, dia bilang kepada saya, Mba, aku dipasangi dengan
Ayu ya kalau liputan. Alasannya dengan Ayu dia cocok bekerjasama. Tapi
belakangan, Herman punya maksud lain. Apalagi kalau bukan PDKT dengan si manis
Ayu. Belum lagi teman-temannya mendorong dia untuk mendekati Ayu dengan
semangat 45.
Serasa baru kemarin, ketika kebersamaan itu terjadi. Perjalanan
hidup memang sukar diterka. Saya tak lagi bekerja di Lativi. Dan, kini Herman
telah tiada. Terakhir yang saya ingat, saya sedang naik ojek ketika dia
melintas di Jalan Cideng usai liputan. Dengan penuh semangat dia
memanggil-manggil nama saya. Matanya bersinar jenaka, mulutnya selalu cengir
dan saya selalu tertawa menanggapi dia. Selamat Jalan teman.... Kini engkau
berada di Keabadian. Semua orang bisa melihat, bahkan yang tak mengenal dirimu
sekalipun, hasil kerjamu berimbas nyata. Engkau telah menuai hasil yang kau
tanam. Dan, ketika kematian menjemputmu, gelar jurnalist sejati telah tersemat
di dadamu.
Wulandari
Cideng 73
cut desy <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
"Semaaar.....!!!!" kataku sewaktu ku masih di divisi
News.. "Ah,... kok manggil gua Semar sih Des,..."
"Idung lu kayak Semar! Bulet, lebar...!! Bener
deh,..."
Itulah yang teringat, saat Andra, rekanku pertama di
peliputan News Lativi.. memberitakan kabar Herman.
Atau Suherman, Lativi yang kini kalian kenal.
Semar,.. teman, sahabat, dan rekan kerja terbaik bagi
kami semua, (Kang Daus, Nurendro Sukmono, Essu, Riki
Firmansyah, Sintya Rompas, Yudhi... AYU (salah satu
yang dinginkan dalam hidup Herman, yaa.. sempat...)
BEL, LIA, semua yang tak kusebut satu per satu..)
tidak ada lagi "Semaaar..!!!"
Tugas yang diemban, sebagai kameramen. Dia tidak bisa
berenang, tapi meloncat bersama benda mahal, dan
berharga untuk perusahaan. Sudah dikatakan
"Lepaaaasss....!!!" "Enggaaak..." Mungkin tanggung
jawabnya hanya pada kamera. Kemana saja kamera pergi,
disanalah Herman. Wahai Korlip, dia tidak bisa
berenang, mengapa juga kau pinta dia mengarah ke sana?
Semoga dengan pelajaran ini, yang belum belajar dapat
belajar.. Hargai kami yang lusuh, dibalik pengemasan
RATING..!!!
Tidak ada pinta kami,
hanya hargai kami,
Bukan hanya sebagai peluru.
untuk Rating atau Share itu.
Ibunya menatap Semar,
dengan milian tanya.
Dan satu Doa.
Semoga Herman diterima disisimu ya Rob.
Satu hari mata kami menangis,... salah satunya berdiri
tegak dekat jenazah. "Makanya, lain kali dibekali
pelampung atau apa saja," menurut rekanku BEL. "Oh!"
balasku pada BEL. "Sewaktu salah satu gedung di ancam
BOM, Gegana mengenakan pengaman dan aku TIDAK," kataku
pada BEL. "OH... Aku kena DBD setelah liputan DBD,
tidak diganti obat," kata BEL. Ya... kita hanya kuli
tinta, yang hanya bekerja. Setia kita hanya pada jiwa
jurnalis, yang kadang kembang kempis dengan pijakan
yang membuat kami kadang menggeleng.
Kukatakan pada BEL. Semoga Herman berada di sisiNYA..
dan memang, beberapa, bahkan banyak berkata : "Sudah
jalannya seperti ini."
Namun ku masih mengharapkan, kepala-kepala teoritis
yang kritis memahami. Kami yang menjadi gerak
peliputan, memiliki jiwa, bukan mesin yang tidak kau
hargai. Bahkan sulit kau kenali siapa kami.. Pada
layar kaca, kau katakan Almarhumah.. Dia Almarhum..
seorang pria, kameramen, bukan wati.
Sudahlah, tidak habis.. Doa kami selalu untukmu
Herman.. Suherman,... Semar..
Salamku,
Cut Desy.