Saat Jibril Mampir di Monas, HB Jassin Masuk Penjara
Coba anda bayangkan, suatu waktu Nabi Muhammad yang ditemani malaikat Jibril
nangkring di pucuk Monas dan juga sampai di lokalisasi di bilangan Pasar Senen.
Kira-kira apa jadinya? Buku Pleidoi Sastra: Kontroversi Cerpen Langit Makin
Mendung Ki Pandjikusmin bisa memberi sebuah kesaksian sekaligus jawaban atas
pertanyaan itu.
Kurang lebih jawabannya begini: Sepucuk belenggu bernama sensor akan mampir di
meja redaksi majalah Sastra. Tapi tak cuma mampir, sensor itu juga membawa dua
biji kado yang baunya agak sengak: (1) majalah itu dibredel kejaksaan dan (2)
sang pemimpin redaksinya dihukum penjara selama satu tahun dengan masa
percobaan dua tahun. Dakwaannya mengerikan: menghina agama Islam dan merusak
akidah umat.
Pertanyaannya, apa benar Muhammad dan Jibril pernah ke Jakarta dan mampir di
Monas dan Pasar Senen? Tentu saja tidak. Sebab, peristiwa mampirnya Muhammad
dan Jibril ke Jakarta hanya ada dalam sebuah cerpen. Cerpen nekat itu
berjudul Langit Makin Mendung. Penulisnya bernama Kipandjikusmin. Cerpen ini
diterbitkan di halaman pertama majalah Sastra edisi Agustus 1968, yang mana
Paus Sastra Indonesia, H.B. Jassin, menjadi Pemimpin Redaksinya. Akibat
pemuatan cerpen itu, majalah Sastra dibredel kejaksaan dan dan H.B. Jassin
sendiri divonis setahun penjara oleh pengadilan.
Siapa sebenarnya Kipandjikusmin? Petunjuk yang bisa menerangkan siapa dia
terlampau sedikit. Ia hanya diketahui berasal dari Yogyakarta. Sejak kasus ini
mencuat, ia tak muncul lagi. Entah jika ia menggunakan nama lain. Akibatnya,
hingga kini Kipandjikusmin masih menjadi misteri. Jassin sendiri di pengadilan
bersitegang leher untuk sekukuhnya menolak membeberkan identitas
Kipandjikusmin: keteguhan sikap yang cukup jadi alasan kita untuk memberinya
standing ovation.
Sebenarnya, seberapa hebat capaian literer Langit Makin Mendung? Pembaca tentu
bisa menilai sendiri. Tapi pendapat Wiratmo Soekito bisa dinukilkan di sini.
Mas Wir, demikian orang memanggilnya, menyebut cerpen itu dengan kalimat
karangannya itu jelek dan merupakan kitsch. (hal. 139). Cerpen ini memang
hanya bisa mengumpulkan bahan-bahan mentah saja. Akibatnya, ia tak lebih dari
sekadar guntingan-guntingan berita surat kabar yang kemudian disulam menjadi
sebuah (pinjam frase-nya Bur Rusuanto) fucilleton editorial yang berpretensi
literer.
Dan memang bukan capaian literer yang membikinnya heboh. Kehebohannya lebih
mirip kehebohan novel The Satanic Verses-nya Salman Rushdie. Banyak yang
bilang, karya Rushdie Midnight Children jauh lebih mentereng untuk soal capaian
literer. Tapi The Satanic Verses heboh mula-mula memang bukan karena
kualitasnya, tapi karena tema dan alur ceritanya yang dinilai menghina Islam,
Muhammad dan al-Quran.
Langit Makin Mendung berkisah tentang Nabi Muhammad yang turun kembali ke bumi.
Muhammad diijinkan turun oleh Tuhan setelah memberi argumen bahwa hal itu
merupakan keperluan mendesak untuk mencari sebab kenapa akhir-akhir ini manusia
lebih banyak yang dijebloskan ke neraka. Upacara pelepasan pun diadakan di
sebuah lapangan terbang. Nabi Adam yang dianggap sebagai pinisepuh swargaloka
didapuk memberi pidato pelepasan.
Dengan menunggangi buraq dan didampingi Jibril, meluncurlah Muhammad. Di
angkasa biru, mereka berpapasan dengan pesawat sputnik Russia yang sedang
berpatroli. Tabrakan pun tak terhindar. Sputnik hancur lebur tak keruan. Sedang
Muhammad dan Jibril terpelanting ke segumpal awan yang empuk. Tak dinyana, awan
empuk itu berada di langit-langit Jakarta. Untuk menghindari kemungkinan tak
terduga, Muhammad dan Jibril pun menyamar sebagai elang. Dalam penyamaran
itulah, Muhammad berkeliling dan mengawasi tingkah polah manusia Jakarta dengan
bertengger di pucuk Monas (yang dalam cerpen itu disebut puncak menara emas
bikinan pabrik Jepang) dan juga di atas lokalisasi pelacuran di daerah Senen.
Lewat dialog antara Muhammad dan Jibril maupun lewat fragmen-fragmen yang
berdiri sendiri, Kipandjikusmin memotret wajah bopeng tanah air masa itu:
negeri yang meski 90 persen Muslim, tetapi justru segala macam perilaku lacur,
nista, maksiat dan kejahatan tumbuh subur. Lewat cerpen ini, Kipandjikusmin
menyindir elit politik Indonesia dengan cara telengas. Soekarno disebutnya
sebagai nabi palsu yang hampir mati. Soebandrio yang saat itu menjabat
Menteri Luar Negeri disindirnya sebagai Durno sekaligus Togog.
Cerpen diakhiri dengan sebuah sindiran halus tapi pedas; sebuah sindiran yang
persis menancap di ulu hati kepribadian manusia negeri ini. Begini bunyinya:
Rakyat Indonesia rata-rata memang pemaaf serta baik hati. Kebohongan dan
kesalahan pemimpin selalu disambut dengan lapang dada. Hati mereka bagai
mentari, betapapun langit makin mendung, sinarnya tetap ingin menyentuh bumi.
Publikasi Langit Makin Mendung betul-betul menjadi pemantik yang melahirkan
prahara sastra yang panjang dan panas. Dikatakan panjang karena polemik itu
berlangsung hampir selama tiga tahun, dari 1968 hingga 1970, dan melahirkan
puluhan artikel di media massa. Polemik itu juga melibatkan nama-nama besar
dari lintas disiplin: Taufik Ismail, A.A. Navis, Goenawan Mohammad, Wiratmo
Soekito, Bur Rusuanto, Bahrum Rangkuti hingga Hamka. Polemik pun menyentuh
banyak aspek. Dari perdebatan sastra, hukum, politik, agama bahkan menyentuh
sentimen nasionalisme (seorang penulis Malaysia yang memihak Jassin membikin
seorang penulis Indonesia merasa tersinggung dan menyebutnya sebagai tamu tak
tahu diri).
Pertanyaannya, apa benar Kipandjikusmin sungguh-sungguh menghina Tuhan, Islam
dan Nabi Muhammad? Bagi faksi yang anti, yang lantas dikukuhkan pengadilan,
Langit Makin Mendung dianggap benar-benar telah menghina Islam. Faksi ini
beranggapan, kebebasan mencipta tak berarti orang bebas menyiarkan pikiran dan
tulisan sekenanya, lebih-lebih jika menyentuh aspek yang sudah nyata-nyata
dilarang.
Mereka berkeyakinan, menggambarkan nabi dan malaikat sebagai haram. Dan
Kipandji dianggap telah melanggar dalil itu dengan lancang melukiskan Muhammad
dan Jibril. Sekadar tambahan, dalam cerpen Langit Makin Mendung, Kipandji
menyebut Muhammad dan para nabi telah bosan tinggal di surga. Jibril yang
mengiring Muhammad juga digambarkan kerepotan mengikuti Muhammad karena
dinilai sudah terlampau renta.
Jassin menganggap tuduhan itu terlampau berlebihan. Langit Makin Mendung bagi
Jassin tak lebih sebagai satire untuk mengkritik keburukan masyarakat. Pendapat
ini didukung oleh, diantaranya, Wiratmo Soekito, A.A. Navis hingga Bur
Rusuanto. Jassin menulis: Pengarangnya hanya menggambarkan ide tentang Tuhan
dan Nabi, bukannya menggambarkan Tuhan atau Nabi.
Dalam pleidoi-nya di pengadilan, Jassin meminta agar kebenaran sastrawi
dibedakan dengan kebenaran agama atau ilmu pengetahuan. Kebenaran sastrawi
berporoskan imajinasi. Dan imajinasi, tulis Jassin, lebih daripada gagasan. Ia
adalah keseluruhan kombinasi dari gagasan-gagasan, perasaan-perasaan, intuisi
manusia. (hal. 111).
Tak cuma memuat puluhan artikel bermutu yang jadi bagian polemik panjang ini,
buku Pleidoi Sastra: Kontroversi Cerpen Langit Makin Mendung Ki Pandjikusmin
ini juga memuat cerpen Langit Makin Mendung yang menjadi pangkal polemik plus
empat cerpen Kipandji lain. Di bagian akhir buku, disertakan pleidoi Jassin di
pengadilan berikut notulensi tanya jawab Jassin dengan hakim dan jaksa. Buku
ini karenanya sayang untuk diabaikan. Ia adalah momento yang patut dimiliki
siapapun yang intens dengan masalah kesusateraan. Ia juga penting, lebih lebih
jika kita hendak merenungkan bagaimana wacana kebebasan mencipta berhadapan
dengan norma-norma agama dan sosial.
Bukan pada tempatnya jika tulisan ini mendukung atau menolak pembredelan dan
pemenjaraan Jassin. Tidak kalah penting kiranya untuk mengkalkulasi, bisakah
terjadi dialog yang jernih diantara yang mendukung dan menampik? Jawabannya
bisa ya, bisa pula tidak. Tapi sejarah bisa berkisah, betapa kubu yang
menampik pembredelan lebih banyak kalah untuk kemudian dinistakan. Dalam
ketakutan dan kebingungannya, kubu yang kalah akhirnya banyak yang menyerah dan
lantas membelenggu dirinya sendiri. Saat itulah, pembredelan dan sensor
ditahbiskan sebagai hal yang pasti benar. Bisa ditebak akhirnya, kita akan
sukar membedakan: sebuah pendapat itu mengganggu ketertiban ataukah mengganggu
tahta seseorang/kelompok yang berkuasa?
Kiranya, paragraf pertama tulisan Goenawan Mohammad di buku ini (hal. 166)
layak kita renungkan. Begini bunyinya: Kita percaya pada kesusastraan: dan di
sini, kita hanya percaya pada kesusastraan yang menentramkan dan bukan yang
menggelisahkan. Itulah. Jadi, jangan terlampau kejut seumpama naas yang
menimpa Jassin itu datang menerpa kita suatu saat kelak.
ZEN RACHMAT SUGITO
Bekerja di Riset Independen Arsip Kenegaraan (RIAK) Jakarta
--zen rachmat
Judul Buku: Pleidoi Sastra: Kontroversi Cerpen Langit
Makin Mendung Ki Pandjikusmin
Penulis: Kipandjikusmin, H.B Jassin, Hamka, dll
Editor: Mujib Hermani, Muhidin M. Dahlan
Penerbit: Melibas, Jakarta
Cetakan: I, 2004
Tebal: 484 halaman
Rating: ****
---------------------------------
Have a burning question? Go to Yahoo! Answers and get answers from real people
who know.