He he Mbak Anastasia, Kalau mau tahu yang sebenarnya silahkan kirim ke Bung Ade, jangan tanya saya, saya ini hanya mencoba memahami, karena sampai sekarang Bung Ade belum menjelaskan alasannya. Jadi ini hanya observasi, seperti lihat gajah ngamuk.
Saya bilang tingkat keikhlasan dan ketaatan setiap orang berbeda-beda, secara umum average masyarakat keikhlasannya rendah, dibanding dengan Ketua Program Fisip UI [ini asumsi], bukan karena rakyat semua belum poligami, bukan gitu mbak, nanti semua jadi poligami. Keikhlasan yang lebih tinggi, mungkin mendorong seseorang untuk berbagi, kalau benci, kata AA Gym khan itu ada orangnya, hayo silahkan benci. Itu kata AA Gym. Kalau anda penasaran, silahkan sms beliau, Kalau saya sih, anti poligami, bukan berarti keihklasan saya rendah, tentunya, Apapun itu, kita harus bisa memahami, orang pakai Jubah, pakai rosario, pakai dupa, mereka menjalankan ketaatan agamanya. Kalau anda gak setuju dg Poligami, saya juga, mengapa? Karena anak saya 3 tahun lagi umur 18 tahun, dia bisa mengimbangi saya, menyalahkan saya, dan saya tidak mampu menjelaskannya. Seperti saya tidak mampu membuat anda memahami persoalan ini. salam, GG Pada tanggal 07/02/28, anastasia <[EMAIL PROTECTED]> menulis:
wah mas GG ini parah bener, deh.. mosok orang yang anti poligami dibilang egois dan tingkat keikhlasannya rendah, sementara yang setuju poligami diyakini punya tingkat keikhlasan berbagi yang tinggi.. mas GG, kalo cuma masalah ingin berbagi dengan ikhlas, kayaknya gak perlu poligami segala, deh.. kalau merasa punya, ya berbagi aja dengan orang lain yang membutuhkan mau janda, perawan, tua, muda, terserah.. saya rasa statement mas GG sudah merendahkan sekali arti CINTA yang sesungguhnya.. memang, dalam kata CINTA, ada keharusan untuk tulus berbagi.. saya bisa kok, berbagi harta, rasa, maupun raga suami saya, dengan mereka yang membutuhkan.. tapi bukan berarti suami saya boleh selingkuh, apalagi poligami.. - berbagi harta: suami saya boleh mendermakan sebagian dari uang milik kami (walaupun kami belum berkelimpahan), kepada siapa saja yang memang butuh pertolongan - berbagi rasa: suami saya boleh punya rasa iba, peduli, kasihan, simpati, bahkan tanggung jawab pada siapa saja yang memang butuh & layak mendapatkannya - berbagi raga: suami saya boleh dipinjam oleh tetangga, baik nenek-nenek maupun yang masih perawan, jika memang mereka butuh keberadaan suami saya untuk menolong mereka. misalnya saat banjir kemarin. saya ditinggal nyaris seminggu gara-gara suami ingin menolong mereka yang kebanjiran di kp.melayu jadi saya yakin banget, mas, gak perlu poligami kalau hanya ingin menunjukkan sikap ikhlas! (kecuali yang Mas GG maksud itu berbagi alat kelamin!!! itu sih, enak di mas GG sendiri kayaknya) -----Original Message----- From: "goenardjoadi" <[EMAIL PROTECTED]> To: [email protected] Date: Tue, 27 Feb 2007 12:31:15 -0000 Subject: [mediacare] Re: Boikot Ade Armando karena kemunafikannya! Mas Billy, apa gak ada kegiatan boikot lainnya? boikot makan, misalnya karena rakyat banyak yang kelaparan? Kelihatannya Bang Ade Armando sedang menjadi sasaran tirani kelompok [kanibal], semuanya menyerang membabi buta. Saya ingin membahas rasa ingin tahu motif apa dibalik poligami. Pembahasan ini bebas nilai, terlepas dari salah benar, haram-halal. Beberapa alasan yang masuk akal bagi seseorang yang melakukan Poligami adalah sbb: 1. Tertulis di Al Quran, ketaatan kepada yang tertulis di Al Quran, membuat seseorang menjadi bersikap ikhlas, dan melaksanakan secara taat, alasannya bisa berbagai macam pembenaran, sudah dipertimbangkan matang, kasihan, atau untuk melindungi janda, dll. Ketaatan kepada Al Qur'an dilakukan tanpa reserve, karena tertulis. tingkat ketaatan yang berbeda satu orang dengan yang lainnya, ada yang mengatakan benar tertulis, tapi..... ada yang mengatakan ya itu tertulis, tapi jamannya.... ada lagi yang mengatakan itu tertulis, namun konteksnya adalah.... Jadi masing-masing memiliki tingkat ketaatan yang berbeda. 2. Ingin mencapai tahap keikhlasan yang lebih tinggi, bahwa hidup dan pernikahan bukan masalah cinta lagi, namun masalah keikhlasan, termasuk keikhlasan berbagi. Berbagi harta kepad janda yang perlu dibantu, berbagi dengan orang lain, wanita lain. Keikhlasan inilah yang sulit diterima oleh masyarakat yang egois, dan memiliki cinta yang egoistik. bila seseorang sudah mencapai taraf yang secara ekonomi tercukupi rejeki berkelimpahan, akan banyak sekali dorongan untuk bersikap ikhlas berbagi. begitu ter-ekspose di masyarakat umum yang tingkat keikhlasannya rendah, terjadilah culture schock, benturan budaya [gegar budaya]. salam, GG
