uraiannya bagus. hanya kalau kita buka sejarah konflik inggris vs argentina
soal falkland dulu itu adalah bentrokan Inggris sbg sebuah super power, dibantu
fasilitas as (reagan) waktu mbawa bala ngluruk ke kawasan atlantik selatan,
lawan power kelas II lantas ya Inggris dengan segala kehebatan tentaranya
menang dengan cepat. imbangan malaysia dan indonesia tidak demikian. duaduanya
third-rate powers, hanya malaysia serba teratur tidak rawan kkn, ekonominya
kuat, sedang indonesia amburadul, punya raja koruptor, kkn membudaya, sistem
pemerintahnya gado-gado acakacakan,jadinya ya kayak raksasa lunglai dan lapar.
lebih baik jangan prang lawan malaysia, kan sama puak, tambahan lagi kalo babak
belur nyaris kalah kan malunya kayak apa? diplomasi indonesia kanjuga dikenal
kalahan gak punya stamina, bahasa asingnya lemah. apalagi membela pulau,
mmembela tki/tkw yang mau dipancung saja gak mampu. tahun 2005 ratusan orang
yang terlatih tenaga dalamnya pengin diterjunkan ke ambalat,
lah ini mungkin yang "feasible" meskipun hasilnya tidak bisa diprediksi
meskipun indonesia ngirim 100 000 relawan tenaga dalam. mungkin kita menang
karena malaysia bisa kehabisan amunisi ........ peluang kedua mungkin barisan
tukang santet kita lebih unggul ketimbang malaysia! gak tahu lah ...
tapi ki gendheng harus diberi honor besar, ya harus diambillah dari apbn,
kurangi sikit
anggaran pertahanan! biarpun bush tahan disantet, mungkin karena bule,
mungkin kalau sesama puak, santet bisa berhasil. siapa tahu? tapi damai
sajalah, kan malaysia punya pakta pertahanan bersama dengan inggris? nah ini
bisa serius banget.......
sk
darwiniskandard <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Sebelum kita perang dengan Malaysia mari kita lihat kekuatan angkatan
perang Indonesia dengan Malaysia :
MALAYSIA
Militer Negeri Jiran itu bernama Tentara Diraja
Malaysia. Pada awal pembentukannya, peralatan militer
buatan Inggris banyak dipakai negara ini. Kini mereka
menggunakan peralatan dari sejumlah negara, termasuk
pesawat buatan Indonesia.
Kapal Perang
- Satu kapal penyelam dilengkapi meriam 20 mm
- Dua kapal cepat pengangkut pasukan
- Empat kapal patroli buatan Prancis ber-rudal Exocet
MM38 dan meriam Bofors
- 24 kapal perang yang berpangkalan di empat tempat:
Lumut, Sandakan Sabah, Kuantan, dan Labuan. KD
Kerambit yang berada di sekitar Ambalat merupakan
salah satu kapan yang berpangkalan di Sandakan, Sabah.
- Dua kapal patroli buatan Korea Selatan yang
dilengkapi meriam 100 mm Creusot Loire, 30 mm Emerlac,
dan senjata penangkis antikapal selam. Kapal ini
berpangkalan di Kuantan/
- Empat kapal buatan Swedia dilengkapi rudal MM38
Exocet, 57 mm Bofors, dan 40 mm Bofors berpangkalan.
- Empat kapal Frigate, dua di antaranya dibeli bekas
dari Angkatan Laut Kerajaan Inggris.
- Enam kapal Corvette buatan Jerman
- Empat kapal patroli penangkis ranjau buatan Italia
- Dua kapal Multi Purpose Command and Support Ship
buatan Jerman dan Korea Selatan
- Satu kapal Sealift
- Dua kapal Hydro
Pesawat Tempur
- F-5 E
- Hawk MK108 berpangkalan di Alor Setar, Kuantan, dan
Labuan
- Hawk MK-208 berpangkalan di Alor Setar, Kuantan, dan
Labuan
- Delapan F/A-18D berpangkalan di Alor Setar
- Mig-29 berpangkalan di Kuantan
- SU-30 berpangkalan di Kuantan
- F-28 berpangkalan di Kuala Lumpur
- Falcon berpangkalan di Kuala Lumpur
- Beech 200T berpangkalan di Kuala Lumpur
- C-130H berpangkalan di Kuala Lumpur
- CN-235 berpangkalan di Kuala Lumpur
- S61A-4 berpangkalan di Kuala Lumpur, Kuching, dan
Labuan
- AS61N-1 berpangkalan di Kuala Lumpur
- S70A-34 berpangkalan di Kuala Lumpur
Personel
- Jumlah prajurit semua angkatan: 196.042 (2002)
- Anggaran militer per tahun: US1,69 triliun (2,03
persen GDP)
INDONESIA
Embargo pembelian peralatan militer dari Amerika
membuat rontok sejumlah peralatan militer Indonesia.
Pesawat tempur terbaru, Sukhoi SU-27 SK dan SU-30 MK
buatan Rusia, pun masih ompong tak punya senjata.
Adapun dari 12 pesawat tempur "andalan", F-16, dua di
antaranya sudah jatuh dan hanya delapan siap terbang.
Pesawat dan Heli
- Delapan Hawk MK 109 berpangkalan di Pekanbaru,
Pontianak
- 32 Hawk MK 209 berpangkalan di Pekanbaru, Pontianak
- Enam CN235 berpangkalan di Halim
- Delapan F27-400M berpangkalan di Halim
- SF260MS/WS berpangkalan di Halim
- B707-3MIC
- Tujuh pesawat F27-400M
- F28-1000/3000
- L100-30
- C-130H-30 berpangkalan di Halim
- NAS332L1
- L100-30
- EC-120B
- 12 unit Heli Bell 47G-3B-1 berpangkalan di Kalijati
- Lima F-16A berpangkalan di Madiun
- Lima F-16B berpangkalan di Madiun
- F-5E berpangkalan di Madiun
- F-5F berpangkalan di Madiun
- Hawk Mk53 berpangkalan di Madiun
- dua Su-27SK berpangkalan di Makassar
- dua Su-30MK berpangkalan di Makassar
- NC212M-100/200 berpangkalan di Malang
- Ce 401A berpangkalan di Malang
- Ce 402A berpangkalan di Malang
- 10 Pesawat Bronco OV-10F di Malang
Kapal Perang
- 114 armada berbagai jenis (sepertiganya untuk
operasi rutin, sepertiga untuk latihan, dan sisanya
untuk pemeliharaan)
Personel
Jumlah prajurit (semua angkatan): 250 ribu orang
Anggaran militer per tahun: US$ 1 triliun (1,3 persen
GDP)
Sumber: www.scramble.nl, www.nationmaster.com, TDLM
Namun jika dilihat dari kondisi yang ada, keempat F-16
itu adalah sebagian dari 8-10 buah F-16A/B Fighting
Falcon yang dimiliki Angkatan udara Indonesia.
Sisanya, adalah kekuatan pesawat yang sudah uzur,
yaitu 12 buah F-5E/F "Tiger II", 17 buah A-4E "Sky
Hawk" (keduanya generasi pesawat tahun 1960 s.d.
1970-an), disamping pesawat tempur ringan yang masih
modern, yaitu 35 buah Hawk 100/200, 9 buah Hawk Mk-53,
didukung pesawat generasi perang Vietnam (1960-an),
yaitu 9 buah OV-10 "Bronco". Belum diketahui, empat
buah pesawat F-16A/B yang dipersiapkan TNI-AU itu
benar-benar sudah siap menghadapi pesawat-pesawat
tempur Malaysia.
Yang jelas, tampaknya pengerahan F-16 oleh Angkatan
Udara Indonesia itu dilakukan dengan mengoptimalkan
kekuatan yang ada. Pasalnya, walau Indonesia sudah
memiliki empat buah pesawat tercanggih buatan Rusia,
Su-30 dan Su-27, namun belum sepenuhnya dapat
diandalkan. Tinggal kepada kekuatan F-16, yang itu pun
menghadapi dilema persoalan suku cadang karena yang
tersedia kini tinggal delapan buah dari sebelumnya 12
buah.
Persoalannya, dengan mengerahkan kekuatan "ala
kadarnya" itu, pasukan Indonesia siap untuk
"menghajar" pesawat-pesawat Malaysia? Apalagi, jika
kemudian terjadi bentrok besar-besaran dengan Malaysia
yang secara nyata memiliki pesawat tempur yang lebih
memadai jumlah maupun teknologinya.
Namun mengutip keterangan Asrena Kasau, Rukma Susetya,
dalam sebuah terbitan Buletin Litbang Dephankam,
berbagai pesawat tempur itu secara umum hanya dengan
kesiapan rata-rata 25 pesawat atau jika
dipersentasikan hanya 28 persen.
Berdasarkan catatan "PR", Malaysia juga memiliki
pesawat paling canggih buatan Rusia, Su-30 sama
seperti yang dimiliki Indonesia. Bahkan, jumlah yang
dimiliki Malaysia sebanyak 18 buah, didukung sejumlah
pesawat modern lainnya, MiG-29 Fulcrum juga buatan
Rusia. Karena "koceknya" lebih banyak, tentunya
Malaysia lebih kuat dalam anggaran perawatan dan
pembelian suku cadang.
Ini belum termasuk F/A-18D Hornet buatan AS yang
merupakan generasi tahun 1989-1990. Pesawat-pesawat
itu kelasnya sudah di atas F-16A/B yang dimiliki
Angkatan Udara Indonesia berasal dari generasi tahun
1970-an.
F/A-18D diketahui merupakan generasi yang sebenarnya
tandingan Su-27/Su-30 milik Indonesia, namun dalam
ketegangan di Ambalat ternyata belum siap diandalkan.
Malaysia boleh lebih berbesar hati, karena mereka baru
saja melakukan latihan bersama pasukan udara AS (US
Airforce), sekaligus mendapat pelatihan gres dari
mereka, atas pengoperasian F/A-18F Super Hornet yang
merupakan produk termodern milik AS.
Dalam latihan tersebut, sejumlah penerbang F/A-18D
Malaysia dengan dipandu pelatih dari angkatan udara
AS, mencoba F-18F milik AS dengan melakukan latihan
manuver di perairan sekitar Pulau Tioman. Tampaknya,
latihan inilah yang akan dijadikan bekal oleh berbagai
pilot F/A-18D Malaysia, untuk menghadapi F-16A/B milik
Indonesia.
Kalaupun tidak, tampaknya Malaysia "cukup" mengirimkan
MiG-29 untuk menghalau F-16A/B dari Indonesia. Sebab
secara teknis pun, Malaysia dikabarkan lebih siap dari
suku cadang dan perlengkapan, karena selama ini mereka
tak ada masalah dari biaya pembelian.
Namun dari kekuatan laut, Indonesia boleh lebih
"pede", walau pun armadanya diperkuat seabrek
kapal-kapal perang tua, plus dua buah kapal selam yang
sedang kerepotan suku cadang. Pasalnya, Malaysia pun
diketahui kondisinya cukup mirip Indonesia, karena tak
mempunyai kekuatan laut yang memadai. Malaysia
tampaknya "tak begitu mementingkan" kekuatan laut,
karena letak geografisnya tak sebesar Indonesia.
Jadinya, Malaysia kini cenderung lebih memikirkan
kekuatan udara, ketimbang kekuatan laut.
Sedangkan kekuatan kapal laut Indonesia yang kini
menjadi andalan, yaitu tiga buah perusak kawal rudal
kelas Fatahillah, sebuah kelas Ki Hajar Dewantara,
serta 4 kapal cepat roket kelas Mandau (termasuk di
antaranya KRI Rencong), dua buah kapal cepat torpedo
(KCT) kelas Ajak, dua buah buru ranjau kelas Pulau
Rengat.
Kapal tempur milik Indonesia unggul kuantitas, walau
pun produknya hampir semuanya barang bekas. Malaysia
memang kalah jumlah, namun memiliki kapal generasi
modern.
Kekuatan laut Malaysia kini hanya bertumpu kepada dua
buah fregat generasi tahun 1990-an, yaitu Lekiu dan
Jebat. Namun kedua kapal itu dilengkapi sistem data
tempur modern, sehingga dalam pendeteksian kapal lawan
dikabarkan lebih unggul. Selain itu, Malaysia juga
dilengkapi fregat generasi tahun 1980-an, disamping
korvet kelas laksamana yang merupakan generasi tahun
1995.
Secara umum, sistem persenjataan kapal laut yang
dimiliki Indonesia tak berbeda jauh dengan Malaysia.
Misalnya, peluru kendali Exocet II, kanon otomatis
Bofors 57 mm, dll. Sisanya sama seperti Malaysia,
memiliki kapal pendarat tank, yang biasanya digunakan
jika pasukan marinir mulai masuk perang ke pulau.
Namun untuk "perang pembukaan", tentunya mengandalkan
kapal perang dan pesawat tempur.
Sepintas, jika terjadi perang udara dan laut Indonesia
dengan Malaysia, dengan mengerahkan kekuatan
masing-masing dalam kasus Blok Ambalat, seakan
mengingat kembali pada Perang Malvinas (Falkland)
antara Inggris dengan Argentina.
Jika perang Indonesia melawan Malaysia kemudian
terjadi, tampaknya akan lebih menonjol dari
pertempuran udara, baru kemudian laut. Jika hanya
secara teori, kekuatan udara Malaysia akan lebih
unggul, namun di laut bisa saja Indonesia lebih
unggul.
Kondisi kekuatan Inggris-Argentina tak ubahnya dengan
Malaysia-Indonesia. Akankah kekuatan dan modernnya
pesawat tempur Malaysia menjadi pendukung kekuatan
lautnya kemudian akan menghajar dan melumpuhkan
kekuatan Indonesia yang ibaratnya milik Argentina,
sehingga berhasil merebut Ambalat?
--- In [EMAIL PROTECTED], INDRA QONYEK <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> HaHaHa...kalau saya yang jadi jenderalnya, maka saya kirim 3 orang
prajurit ke malaysia, untuk belajar bagaimana melakukannya :)
HaHaHaHa...jenderal..Jenderal...kerjanya kok cuma tidur siang!!!
>
> Bagya nugraha <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Jenderal!!!!
jenderal lagi ke mana nih?! lagi ngumpet di kamar mandi?
> lihat tuh anak buahnya lagi jaga dan digodain ama Malaysia...eeee si
> jenderal diam doang aja. Komando teritorial? omdo...........hahahaha
>
> http://www.republika.co.id/online_detail.asp?id=284376&kat_id=23
>
> Rabu, 28 Februari 2007 8:29:00
> Kapal Perang Malaysia Kembali Langgar Wilayah di Ambalat
>
> Surabaya--RoL-- Setelah kasus pelanggaran wilayah di perairan blok
> Ambalat sempat reda, kini sejumlah Kapal perang dan pesawat Malaysia
> kembali melanggar wilayah perairan dan udara Indonesia.
>
> Kadispen Komando Armada RI Kawasan Timur (Koarmatim), Letkol Laut (KH)
> Drs Toni Syaiful di Surabaya, Selasa menjelaskan, kasus pelanggaran
> wilayah laut dan udara terjadi berulang-ulang sejak 24 Februari 2007
> lalu.
>
> "Kasus Ambalat di Laut Sulawesi yang merupakan perbatasan Indonesia -
> Malaysia yang pada 2004 lalu sempat ramai dan kemudian reda,, kini
> kembali tercoreng dengan ulah beberapa kapal perang dan pesawat udara
> negeri jiran tersebut yang kembali melanggar wilayah NKRI," katanya.
>
> Ia menjelaskan, pelanggaran pertama terjadi pada 24 Februari 2007
> pukul 10.00 WITA, yakni kapal perang Malaysia jenis patroli KD
> Budiman-3909 melintas dengan kecepatan sepuluh knot memasuki wilayah
> NKRI sejauh satu mil laut.
>
> "Pelanggaran kedua terjadi sore harinya pukul 15.00 WITA, kapal perang
> jenis patroli KD Sri Perlis-47 kembali melintas dengan kecepatan
> sepuluh knot memasuki wilayah NKRI sejauh dua mil laut. Setelah
> dibayang-bayangi KRI Weling, kedua kapal berhasil diusir keluar
> wilayah RI," katanya.
>
> Dikatakannya, peristiwa yang membuat emosional para prajurit TNI AL
> itu kembali terulang yang ketiga kalinya, yakni pada 25 Februari 2007
> pukul 09.00 WITA KD Sri Perlis-47 memasuki wilayah NKRI sejauh 3.000
> yard.
>
> "KD Sri Perlis-47 akhirnya diusir keluar wilayah RI oleh KRI Untung
> Suropati-872. Pada hari yang sama, sekitar pukul 11.00, satu pesawat
> udara patroli maritim Malaysia jenis Beech Craft B 200 T Superking
> melintas memasuki wilayah NKRI sejauh 3.000 yard," katanya.Empat kapal
> perang TNI AL, masing-masing KRI Ki Hadjar Dewantara, KRI Keris, KRI
> Untung Suropati dan KRI Weling yang tergabung dalam operasi "Balat
> Sakti", hingga saat ini masih melaksanakan patroli pengamanan
> perbatasan di wilayah tersebut.
>
> "Sebenarnya pelanggaran yang dilakukan kapal perang dan pesawat udara
> Malaysia tidak terjadi saat ini saja. Tahun 2006 lalu Gugus Tempur
> Laut Koarmatim mencatat 35 kali pelanggaran telah dilakukan Malaysia.
> Namun demikian, kapal itu selalu dihalau oleh kapal-kapal perang TNI
> AL yang rutin menggelar operasi," katanya.Karena itu, pihaknya menilai
> perlunya perhatian yang serius dan tindakan nyata dari pemerintah
> Indonesia berupa komplain diplomatik yang berisi protes keras terhadap
> tindakan Malaysia itu.
>
> "Berdasarkan 'Rule of Engagement' (Aturan Pelibatan) yang berlaku saat
> ini, yaitu Surat Keputusan Panglima TNI Nomor : Skep/158/IV/2005
> tanggal 21 April 2005, pada masa damai, unsur TNI AL di wilayah
> perbatasan RI-Malaysia harus bersikap banyak mengalah," katanya.
> Menurut Kadispen, dalam aturan itu TNI AL hanya boleh melepaskan
> tembakan setelah diawali keluarnya tembakan dari pihak Malaysia
> terlebih dahulu. Sedangkan prajurit Koarmatim menginginkan revisi
> aturan tersebut dimana, personel KRI diperbolehkan mengeluarkan
> tembakan terlebih dahulu sebagai tindakan peringatan. Antara
>
> yto