Jadi geli mr Holy kok ikut latah hampir persis Jen Pur Djalal sang Menkominfo.
Kok repot bener sih? Gus Dur dan Megawati sih tenang saja karena ditindas
selama Orba Suharto, tumbuh sebagai demokrat, bisa menghargai pendapat orang
meski nyelekit banget. Parodia ria juga ekspresi seni. Kel cendana milih diam
seribu kata, kalau protes kan semakin kenceng kritik masyarakat sama mereka kan?
Lalu yg di pemerintah sekarang, diwakili sama jen Djalal yang tentu saja
kayak kena sengat tawon karena semuanya kan di didik di Akedemi, di AS segala
untuk meredam kritik masarakat, menumpas protes, biar kekuasaan otoriter jalan
mulus. Buat labanya yg kuasa dan modal LN. mereka juga pada mantan ajudan
Suharto, jadi memang terlatih bener deh
dalam perihal gebuk menggebuk. Buat mereka parodia politica pasti dirasakan
paiit banget, kuping pada meraah banget.
Megawati dan PDIP mustinya niru GD yaitu sediakan pengacara dong, pokoknya
harus membela para seniman tv itu masak hak kemukakan pendapat mau di somasi.
Semua anak didik Pak Harto yang militer dan sipil yang sekarang tetap berkuasa
harusnya disekolahkan lagi ke Amriks belajar pondamen-pondamen demokrasi. Bikin
malu Amriks kan, sudah diberi restu dan dipuji kelangit karena "diplih
langsung" kok kena parodi aja jadi kelimpungan. hahaha ..... Djalal, dan SBY-JK
seluruh pemerintah mustinya mencontoh Hugo CHAVEZ. Biar dimaki, di parodi, di
intrik cia, tetap saja tegar kerja mengentaskan kemiskinan rakyat kecil. Hugo
cuman kolonel loh, sedang ybs itu jenderal semua. Gak ada kerja konkrit, di
parodi sedikit saja terus mau somasi............ Pikiran somasi yang lucudari
Menkominfo ini mudah-mudahan akan jadi tema baru dalam parodi itu!
TCh
Holy Uncle <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
***Rasanya Ibu Mega pernah aduhkan satu majalah kasus fitnah di
pengadilan.
***Acara Republik Mimpi disenangi banyak orang, calon pemilih di pemilu
2009. Tidak aneh Megawati dan Gus Dur Tidak Terganggu Tayangan Parodi di TV.
***Pramono Anung, mengemukakan bahwa Megawati Soekarnoputri menilai
penampilan tokoh Megakarti yang menirukan sosok perempuan Presiden RI
pertama itu dinilai masih dalam batas kewajaran.
***"Batas kewajaran" banyak definisi. Bila perlu, PDIP bisa ambil tindakan
hukum, juga bisa gunakan Metro TV di kampanye yang akan datang.
***PARTI butuh koalisi dengan parpol lain untuk memasuki arena politik
nasional. Somasi si Lieus cuma satu testing, tidak usah bingung. Saya dukung
taktik PARTI.
Megawati dan Gus Dur Tidak Terganggu Tayangan Parodi di TV
Jakarta (ANTARA News) - Megawati Soekarnoputri, Presiden RI periode
2001-2004, dan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang menjadi Presiden RI
periode 1999-2001 secara terpisah menyatakan tidak terganggu atas tayangan
parodi politik di televisi, sekalipun sering menampilkan sosok mirip mereka
masing-masing.
Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Pusat Partai Demokrasi Indonesia
Perjuangan (Sesjen DPP PDIP), Pramono Anung, mengemukakan bahwa Megawati
Soekarnoputri menilai penampilan tokoh Megakarti yang menirukan sosok
perempuan Presiden RI pertama itu dinilai masih dalam batas kewajaran.
"Ibu tidak pernah komentar, dan senyum-senyum saja melihat tontonan yang
menampilkan sosok Megakarti," kata Pramono Anung kepada para wartawan.
Oleh karena itu, ia berpendapat, adanya rencana Pemerintah melalui Menteri
Komunikasi dan Informasi (Menkominfo) melakukan somasi terhadap
penyelenggara tayangan parodi politik di televisi menunjukkan betapa
Pemerintah memiliki telinga tipis, dan tidak siap menerima kritik.
"Ini konsekuensi pemimpin dan pemerintah yang lahir dalam era reformasi,
yang menjunjung tinggi demokrasi dan kebebasan berekspresi. Para pemimpin
itu harus siap menghadapi parodi politik," ujarnya.
Apalagi, ia menilai, parodi yang ditampilkan itu mengungkapkan realitas yang
selama ini dirasakan dalam masyarakat. Oleh karena itu, ia mengemukakan,
jika alasan somasi yang bakal diajukan Pemerintah itu berkaitan dengan soal
etis atau tidak etis, maka sebaiknya masyarakatlah yang memberikan
penilaian.
"Silakan tanya masyarakat, apa betul acara itu tidak etis? Masyarakat itu
sudah pintar dan punya swa-sensor dalam dirinya untuk menentukan etis
tidaknya sebuah tayangan televisi," kata Pramono.
Ia pun menyatakan, somasi yang bakal ditempuh Menkominfo itu sama saja
dengan membesar-besarkan persoalan yang tak bermanfaat banyak bagi
masyarakat luas.
Sementara itu, Gus Dur mengaku terkejut dengan rencana somasi Menkominfo ke
stasiun televisi yang menayangkan parodi politik, seperti Metro TV yang
melibatkan pakar komunikasi politik Effendi Ghazali.
Bahkan, Gus Dur mengemukakan, sudah menyiapkan kuasa hukum dari DPP Partai
Kebangkitan Bangsa (PKB) untuk membela tayangan parodi tersebut, bila
Menkominfo melakukan somasi, demikian keterangan Effendi Ghazali kepada
wartawan seusai membesuk Gus Dur yang menjalani perawatan kesehatan di Ruang
Cenderawasih Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta, Jumat (2/3) siang.
Gus Dur, seperti dituturkan Effendi Ghazali, sangat mendukung acara parodi
politik. "Parodi politik yang merupakan humor politik itu relatif tidak ada
batasnya," ujarnya menirukan Gus Dur.
Selain itu, menurut Effendi, Gus Dur mengatakan bahwa pemimpin dan bangsa
yang kuat adalah mereka yang mampu menertawakan dirinya sendiri.
Menanggapi dukungan yang diberikan Gus Dur, Effendi menyatakan sangat
terkejut, karena awalnya ketika bertemu di rumah sakit tidak membicarakan
soal bantuan kuasa hukum tersebut.
"Setelah pulang dari rumah sakit, tiba-tiba Pak Ikhsan Abdullah SH menelepon
saya, dan menyatakan siap membantu, jika Pemerintah serius melakukan
somasi," kata Effendi. Ikhsan Abdullah selama ini dikenal sebagai salah
seorang penguasa hukum bagi Gus Dur maupun PKB.
Berkaitan dengan dukungan dari berbagai pihak, termasuk dari dua mantan
Presiden RI yang sosoknya sering diparodikan tersebut membuat Effendi Gazali
mengemukakan bahwa dirinya bersama kawan-kawan tetap bersemangat menelurkan
kreativitas yang memberikan proses edukasi dalam melakukan komunikasi
politik di era demokrasi.
"Ini hadiah dari Gus Dur untuk kreativitas, dan dukungan keluarga News.Com
di seluruh Indonesia. Ini betul-betul surprise. Terima kasih patut kami
sampaikan kepada Gus Dur, Ibu Mega dan keluarga Pak Harto yang bisa
memahami, dan menerima tayangan parodi politik itu," demikian Effendi
Gazali. (*)
http://www.antara.co.id/arc/2007/3/3/megawati_dan_gus_dur_tidak_terganggu_tayangan_parodi_di_tv/
__________________________________________________________
Rates near 39yr lows! $430K Loan for $1,399/mo - Paying Too Much? Calculate
new payment
http://www.lowermybills.com/lre/index.jsp?sourceid=lmb-9632-18226&moid=7581
---------------------------------
Expecting? Get great news right away with email Auto-Check.
Try the Yahoo! Mail Beta.