Komentar:
Kisah bayi tertukar di RS Malaysia, yang dialami Zulhaidi Omar, pemuda 
Malaysia keturunan Tionghoa ini cukup menyentuh hati. Menyangkut masalah 
rasialisme dan agama. Masalah rasialisme didapatnya di kampung orangtua 
Melayu-nya. Karena, rupanya, di lingkungan tempat tinggalnya melulu orang 
Melayu berkulit gelap dibandingkan dirinya, dengan mata sipit dan ciri 
lainnya yang berunsur Tionghoa, dia malah dijadikan bahan ejekan teman2-nya. 
Akhirnya, di samping ketidakharmonisan kehidupan rumahtangga orangtuanya 
itu, dan tidak tahan diejek terus, Zulhaidi Omar melarikan diri dari 
kampungnya.

Setelah 29 tahun berlalu sejak kelahirannya, Zulhaidi "berhasil" bertemu dgn 
orangtua aslinya yg beretnis Tionghoa. Setelah yakin dgn jati diri 
sebenarnya, dia pun bertekad mengubah identitas dirinya pada dokumen negara. 
Untuk ganti identitas etnis dari Melayu ke Tionghoa, tidak masalah. Karena 
sudah pasti dgn adanya bukti tes DNA. Juga tampaknya tidak akan bermasalah 
untuk perubahan nama, dari nama. Dari nama Melayu ke nama Tionghoa.   Namun 
dia terbentur pada masalah identitas agama. Sejak lahir agamanya dicantumkan 
sebagai agama Islam. Sekarang dia hendak mengubahnya menjadi Budha. karena 
memang dia hendak memeluk agama Budha.

Hukum negara Malaysia cukup ketat dalam mengatur hal keagamaan 
warganegaranya, sehingga keinginan perubahan identitas keagaamannya ini 
tidak segampang penggantian identitas Tionghoa-nya. Padahal seharusnya 
masalah agama merupakan hak asasi dari setiap individu warganegara. Dia 
berhak memilih atau pindah agama sesuai dgn keyakinanannya. Bagaimana jika 
Pengadilan Syariah Malaysia ini tidak mengabulkan perubahan identitas 
agamanya? Apakah dia tetap harus memeluk Islam, sementara dia sudah tidak 
meyakininya? Bagaimana haknya sebagai seorang manusia untuk memeluk suatu 
agama sesuai dgn keyakinanya? Beginilah repotnya kalau urusan agama individu 
dicampur oleh negara. Bayangkan saja, bagaimana kalau anda berada pada 
posisi seperti ini? Anda hendak pindah agama, memeluk agama baru sesuai dgn 
keyakinan Anda, tetapi pemerintah melarangnya?

--------------------------


JAWA POS, Senin, 05 Feb 2007,
Drama Penuh Liku Pemuda Malaysia Korban Bayi Tertukar


Baru Bertemu Orang Tua Kandung 29 Tahun Kemudian

Sejak kecil, Zulhaidi Omar merasa ada yang salah dalam dirinya. Secara 
fisik, dia lebih mirip etnis Tionghoa. Padahal, ayah ibunya etnis Melayu. 
Titik terang akhirnya dating saat Omar bertemu seorang perempuan di 
supermarket tempatnya bekerja. Rupanya, Omar korban bayi tertukar di Rumah 
Sakit Batu Pahat di Kota Batu Pahat, Negara Bagian Johor, Malaysia, 29 tahun 
silam.

Saat sedang bekerja di sebuah supermarket sekitar delapan tahun lalu, Omar 
mendapati seorang perempuan etnis Tionghoa seolah terpesona melihatnya. 
Wanita itu terus memandanginya. Tak hanya sehari dua hari wanita Tionghoa 
tadi melakukan itu tapi berhari-hari. Tiap kali datang ke supermarket, ia 
seolah tak bosan-bosan memandangi Omar. Risi, memang. Namun, Omar tak mau 
menegur.

Suatu hari, perempuan Tionghoa itu datang bersama sepasang suami istri, Tao 
Ma Leong dan Lim Sik Hai. "Perempuan itu mengaku kakak saya dan mengatakan 
saya mirip ayahnya," tutur Omar.

Setelah beberapa kali bertemu, keluarga Tao berhasil meyakinkan Omar untuk 
melakukan tes DNA. Hasilnya, Omar benar-benar anggota keluarga Tao yang 
diyakini tertukar saat baru saja dilahirkan di rumah sakit Batu Pahat. 
"Sejak awal, saya memang sangat yakin dia anak kandung saya," ujar Tao yang 
kini berusia 66 tahun. "Saya juga selalu merasa bukan bagian dari keluarga 
melayu saya," timpal Omar.

Sebetulnya, Tao sudah curiga putra kelimanya itu tertukar saat istrinya 
meninggalkan Rumah Sakit Batu Pahat pada 1978. Tao merasa bayi yang 
diserahkan pihak rumah sakit berkulit lebih gelap dan wajahnya tidak seperti 
mereka. Sebulan setelah membawa bayi yang akhirnya diberi nama Tian Fa itu, 
kecurigaan pasangan Tao semakin kuat. Tapi, saat mereka berniat mengecek, 
pihak rumah sakit berkeras bayi tersebut memang anak mereka.

Kondisi fisik Tian yang jauh berbeda dengan pasangan Tao dan Lim sempat 
membuat tetangga menyebarkan gosip Lim berselingkuh. "Saya tidak 
mendengarkan mereka. Saya lebih percaya istri saya. Lagi pula, saya yakin 
anak kandung saya menunggu di luar sana," kenang Tao. Meski yakin Tian bukan 
anak kandungnya, Tao tetap membesarkannya dengan penuh kasih sayang. Kini, 
dia sudah menikah dengan seorang perempuan dari etnis Tionghoa.

Kisah penuh kasih yang dialami Tian jauh berbeda dengan perjalanan hidup 
Omar. "Ayah saya meninggakan saya dan ibu ketika saya masih berusia tiga 
tahun. Setelah itu, ibu menikah lagi beberapa kali. Tapi, saya tidak kerasan 
tinggal dengan mereka. Saat berusia 13 tahun, saya pergi," katanya. Alasan 
lain yang membuat Omar pergi adalah tidak tahan selalu diejek di kampung 
karena sama sekali tidak mirip orang tuanya.

Omar pun memulai perjuangannya untuk menyambung hidup. Berbagai pekerjaan, 
dari pelayan restoran hingga tukang cuci mobil, dia lakoni. Kini, perjuangan 
Omar membuahkan hasil. Dia berhasil menyelesaikan pendidikan diploma jurusan 
Administrasi Bisnis. Bahkan, sesaat sebelum dia bertemu orang tua aslinya, 
Omar ditunjuk menjadi supervisor di supermarket tempatnya bekerja.

Kini, Omar sudah berkumpul dengan keluarga kandungnya. Meski butuh enam 
bulan sebelum bisa memanggil mereka dengan sebutan ayah dan ibu, Omar 
mengaku cukup bahagia. Tapi, ada satu masalah yang mengganjal. Omar ingin 
mengganti namanya dengan nama Tionghoa seperti keluarga kandungnya. Selain 
itu, dia ingin berpindah agama dari Islam menjadi Buddha. Namun, keinginan 
itu tampaknya sulit terwujud. Sebab, Malaysia cukup ketat mengatur perubahan 
identitas warganya. (nst/thestar/any)


JAWA POS, Selasa, 06 Feb 2007,
Tunggu Pengadilan Syariah Ketok Palu
Soal Ganti Agama Bayi yang Tertukar

KUALA LUMPUR - Keinginan Zulhaidi Omar, pria yang tertukar di rumah sakit 29 
tahun silam, untuk mengubah identitas dirinya mungkin segera terpenuhi. 
Menurut Departemen Pengembangan Islam Malaysia (JAKIM), perubahan tersebut 
bakal dipertimbangkan Pengadilan Syariah Malaysia dengan mempertimbangkan 
bukti DNA yang dimiliki Zulhaidi.

"Kalau ingin berubah agama dari Islam ke agama lainnya, Zulhaidi harus 
mendapat persetujuan dari pengadilan syariah," ujar Mustafa Abdul Rahman 
dari JAKIM kemarin.

Sebagai pendukung, Zulhaidi harus membawa hasil tes DNA yang membuktikan 
bahwa dia benar-benar putra pasangan Teo Ma Leong dan Lim Sik Hai. Keduanya 
etnis Tionghoa dan beragama Buddha.

Seperti diberitakan kemarin, Zulhaidi berencana mengubah namanya menjadi 
nama Tionghoa dan melepas agama Islam untuk berganti menjadi pemeluk Buddha. 
Pria berusia 29 tahun itu merupakan korban tertukarnya bayi di sebuah rumah 
sakit di negara bagian Johor, Malaysia, pada 1978.

Zulhaidi dibawa dan dibesarkan orang tua dari etnis Melayu dan beragama 
Islam hingga dia melarikan diri pada usia 13 tahun. Sedangkan orang tua 
kandungnya membawa bayi dari etnis Melayu yang akhirnya diberi nama Tian Fa. 
"Anak yang dibawa pasangan Tao tak perlu dipaksa untuk kembali memeluk 
Islam," jelas Mustafa.(afp/ap/any) 

Kirim email ke