Memang Kompas sekarang sudah jauh dari Kompas 10 tahun yang lalu. Memang saya kehilangan "Kompas" yang sesungguhnya. Ada beberapa berita yang kebetulan cukup dekat atau kebetulan saya cukup mengerti kejadian sesungguhnya, namun saya terkaget2 ketika membaca beritanya di Kompas beda banget dg aslinya!
Saya pernah dengar sesumbar seorang lawyer top, bahwa Kompas bisa dia atur. Weleh-weleh, kalau sesumbar pengacara kaya raya ini benar serem juga ya? Katanya ada semacam success fee? Munculnya 2 artikel yang sama di satu terbitan juga bukan sesuatu yang aneh di Kompas, aroma uang tercium di sana. Usul buat Pak Yacob, bagaimana kalau Anda sikat saja para petualang di Kompas yang main duit karungan itu. Saya yakin Anda punya feeling yang kuat siapa2 pemain internalnya kan? Dari pada nama baik Kompas makin hancur. Dijaman reformasi ini semua menjadi sangat transparan Pak. Tapi Anda punya nyali tidak? Karena mereka itu justru yang senior2 lho. Saya kuatir Pak Yacob, kalau Anda (maaf) tiada, Kompas akan jadi bancakkan. Ayo audit setiap anggota tim Anda. Jangan justru mereka yang berani membela kebenaran ditubuh Kompas yang Anda zolimi. Wassalam Doyo --- In [email protected], radityo djadjoeri <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Menurutku, inilah artikel terpendek sepanjang sejarah Harian KOMPAS. Artikel itu tersusun dari 3 kalimat saja, dengan belasan kata. Lalu apa yang bisa didapatkan oleh para pembaca dari secuil artikel basa-basi itu? > > Sementara secara besar-besaran KOMPAS rutin memuat "artikel" soal apartemen kelas atas, mobil mewah, ponsel, Microsoft, peluncuran piranti lunak terbaru, seremonia dan bentuk kemewahan lainnya. Padahal kerap terdengar KOMPAS anti menonjolkan promosi produk, kalau tak mau pasang iklan. Semua ulasan produk itu tak dicantumkan sebagai advertorial, pariwara, dan istilah lainnya. Iklan gelap? Walahualam...... > > Karena cukup banyak berita "basa-basi", lama kelamaan para pembaca KOMPAS ya membacanya hanya sekadar untuk basa-basi belaka. Kalau begitu, saya sarankan Harian KOMPAS perlu mengubah slogan kebanggaannya menjadi "Amanat Hati Nurani Biro Iklan", bukan "Amanat Hatinurani Rakyat". > > > > > =========================================== > > Perempuan Termarjinalkan > > http://www.kompas.co.id/kompas- cetak/0702/24/Politikhukum/3338108.htm > > > Sebanyak 41 peraturan daerah di Indonesia masih diskriminatif terhadap > kaum perempuan serta kelompok minoritas, seperti homoseksual, > transjender, dan transseksual. Aturan itu menyebabkan eksistensi mereka > terus termarjinalkan. Pendiri Arus Pelangi, Widodo Budi Darmo, > mengemukakan itu di Palembang, Kamis (22/2). (lkt) > > > > > > --------------------------------- > Access over 1 million songs - Yahoo! Music Unlimited. >
