Mas Ulil, rasanya kata "praktik" sudah resmi menggantikan kata "praktek" dalam berbahasa yang benar. He, he. Salam KM -------Original Message------- From: [email protected] Date: 03/06/07 07:55:49 To: [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [email protected]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED] Subject: [mediacare] Sikap Berbahasa Kita (Ulil A Abdalla) Editorial Sikap Berbahasa Kita Oleh Ulil Abshar-Abdalla 05/03/2007 Ini sekadar "uneg-uneg" tentang peranan dan kedudukan bahasa kita. Saya melihat praktek berbahasa penulis kita saat ini kian lama kian buruk. Maksud saya tentu praktek berbahasa Indonesia. Belajar dari Muhammad Abduh di Mesir gerakan reformis Islam mulanya bukan sekadar untuk memperbaharui (saya lebih suka kata ini, ketimbang "memperbarui", meskipun yang pertama agak sedikit boros huruf) pemikiran, tetapi juga bahasa.
artikel Ulil Abshar-Abdalla lainnya 26/02/2007 Sekularisme Sukarela 17/11/2006 Menjadi Muslim Amerika 14/11/2006 Uluran Tangan Watt 05/09/2006 Masjid dan Peradaban yang Merosot 31/07/2006 Bush, Israel, dan Hezbollah Total 47 artikel Lebih lengkap lihat biodata penulis artikel baru 05/03/2007 Semangat Siasah Lebih Dominan Daripada Takwa 05/03/2007 Fauzi Isman Mengapa Saya Berubah? 26/02/2007 Ulil Abshar-Abdalla Sekularisme Sukarela 26/02/2007 Perlu Dialog Hati ke Hati, Bukan Bibir k e Bibir 26/02/2007 Anick H.T. Roja artikel sebelumnya 05/03/2007 Fauzi Isman Mengapa Saya Berubah? 26/02/2007 Ulil Abshar-Abdalla Sekularisme Sukarela 26/02/2007 Perlu Dialog Hati ke Hati, Bukan Bibir ke Bibir 26/02/2007 Anick H.T. Roja 19/02/2007 Karya Seni Terkadang Memberi Dorongan Spiritual Ini sekadar "uneg-uneg" tentang peranan dan kedudukan bahasa kita. Saya melihat praktek berbahasa penulis kita saat ini kian lama kian buruk. Maksud saya tentu praktek berbahasa Indonesia. Belajar dari Muhammad Abduh di Mesir gerakan reformis Islam mulanya bukan sekadar untuk memperbaharui (saya lebih suka kata ini, ketimbang "memperbarui", meskipun yang pertama agak sedikit boros huruf) pemikiran, tetapi juga bahasa. Kunci kepopuleran majalah al-Manar, corong ide-ide Abduh, bukan saja terletak pada gagasan-gagasan baru yang segar, tetapi juga pada aspek pemakaian bahasa yang terang, tidak pedantik seperti dalam kitab-kitab klasik, tapi juga tetap indah. Kalau memakai teori retorika bahasa Arab, kunci kesuksesan berbahasa adalah fasahah": yaitu bahasa yang jelas, kosa-kata yang terang maknanya, dan dengan demikian pihak pembaca mudah memahami pesan yang ingin disampaikan. Saya kira, aspek fasahah ini yang hilang dalam praktek berbahasa kita. Sejak dulu saya curiga, bahasa yang gelap boleh jadi menandakan bahwa orang yang bersangkutan belum yakin benar tentang apa yang dikatakannya. Dengan kata lain, ide belum matang dan jelas benar di kepala, sehingga orang bersangkutan kesulitan mencarikan "baju" yang pas untuk idenya itu. Memang ada masalah yang menghadang di depan kita. Ide-ide di kepala kaum intelektual memang kerapkali rumit dan berlapis-lapis. Karena itu, mencapai kejelasan artikulasi untuk ide-ide yang rumit bukanlah perkara mudah. Ini berbeda dengan keadaan kaum konservatif di mana di sana tak ada sama sekali unsur baru dalam ide-ide yang dibawanya, tapi hanya mengulang-ulang pakem yang sudah ada. Pada mereka ini, tidak ada kesulitan sama sekali untuk berbahasa dengan terang dan jelas. Itulah sebabnya buku-buku kaum konservatif seringkali lebih mudah dibaca ketimbang buku-buku kaum intelektual pembaharu. Tetapi kejelasan bahasa kaum konservatif dicapai dengan resiko terjatuh kepada klise, yakni mengulang-ulang formula yang sudah ada. Saya menganjurkan kejelasan artikulasi tanpa terjatuh pada klise. Kejelasan berbahasa juga saya anjurkan tanpa mengorbankan usaha untuk mencari artikulasi yang indah. Saya bermimpi bahasa Indonesia menjadi bahasa yang modern seperti bahasa-bahasa dunia lain. Ini semua tidak bisa dicapai jika kaum intelektual yang selalu berurusan dengan bahasa terus berusaha mencari bentuk-bentuk artikulasi yang kian baik, benar, dan indah. Jika saya menganjurkan praktek berbahasa yang benar dan jelas, itu bukan berarti saya menyarankan berpikir sederhana, hitam putih. Kita harus tetap membedakan antara artikulasi yang rumit dan gelap. Artikulasi yang gelap terjadi karena ketidakmampuan berbahasa dengan baik. Artikulasi yang rumit, kadang-kadang susah dipahami, muncul karena memang di sana terdapat ide-ide rumit yang tidak mudah begitu saja disederhanakan. Contoh kasusnya adalah sebagai berikut. Kalau karya Hans Georg Gadamer, Truth and Method," susah dipahami, itu bukan karena bahasa yang jelek, tetapi karena ide yang ia kemukakan memang rumit, berlapis-lapis. Tetapi karya yang jelek dan susah dipahami bisa saja menjadi demikian karena bahasanya yang buruk. Salah satu sumber kegelapan artikulasi, menurut saya, adalah ketidakmampuan mencerna dengan baik ide-ide yang datang dari wilayah kebudayaan lain, sehingga gagal diterjemahkan dengan jelas ke dalam bahasa sendiri. Banyak kalangan intelektual kita yang bersinggungan dengan gagasan-gagasan filsafat garda-depan di Perancis, Jerman, Italia, atau Amerika. Umumnya ide-ide itu rumit dan tidak mudah dipahami. Karena belum selesai mencerna gagasan itu, kaum intelektual kita tidak mudah mencari padanannya dalam bahasa Indonesia, dan inilah yang menimbulkan artikulasi yang gelap. Saya menganjurkan agar kaum terdidik kita bukan sekadar menerjemahkan buku asing, tetapi juga menerjemahkan gagasan. Menerjemahkan buku memang baik, tetapi kurang cukup. Tahap setelah buku diterjemahkan adalah menyerap suatu gagasan yang terkandung dalam buku terjemahan itu lalu mengartikulasikannya ke dalam bahasa kita sendiri. Menerjemahkan buku asing sama dengan melakukan "dubbing" atau sulih suara pada film-film impor, sementara menerjemahkan gagasan adalah memproduksi film sendiri, dengan bahasa sendiri, meski ide-idenya bisa dipinjam atau diilhami oleh ide-ide asing. Selain mengatasi banjir, tampaknya kita juga harus memikirkan dengan sungguh-sungguh praktek berbahasa kita selama ini. [] ^ Kembali ke atas Referensi: http://islamlib.com/id/index.php?page=article&id=1218 Finding fabulous fares is fun. Let Yahoo! FareChase search your favorite travel sites to find flight and hotel bargains.
