Pemahaman yang benar selalu datang terlambat, tetapi tidak ada kata
terlambat utuk bertobat dan membeberkan kebenaran supaya lebih berkembang
kebaikan dan kebenaran untuk mencegah tindakan keji yang melebihi orang2
yang (justru) dicap kufar.
Sesungguhnya tidak akan bermanfaat kegiatan agamamu apabila tindakanmu tidak
lebih baik dari pada orang2 yang kamu sebut kufur.

Wassalam.

On 3/6/07, ---=GuN=-- <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

  Salam,Silakan dibaca penuturan Fauzi Isman, Mantan Napol dan Aktivis
Kelompok Warsidi Talangsari Lampung. Perubahan ideologi dan sikap Fauzi
Isman ini menunjukkan akhir ideologi kekerasan. Dan sebenarnya, bila
pemerintah serius ingin melawan terorisme--yang tidak hanya melulu dengan
kekuatan senjata--maka perlu meluaskan wacana dan contoh seperti Fauzi Isman
ini.

-GuN-


http://islamlib.com/id/index.php?page=article&id=1217
Mengapa Saya Berubah? Oleh Fauzi 
Isman<http://islamlib.com/id/index.php?page=archives&mode=author&id=208> Kolom
| 05/03/2007 Tapi setelah menjalani hukuman penjara selama lebih kurang 10
tahun, fakta menunjukkan kepada saya bahwa doktrin agar lebih mengutamakan
jamaah, Amir atau Imam daripada orangtua dan keluarga itu sangat perlu
dikoreksi. Mencurigai dan menganggap mereka sebagai *potensi musuh* atau
dalam bahasa jamaah lainnya *sebagai orang yang belum memperoleh hidayah*hanya 
karena mereka belum bergabung ke dalam jamaah, jelas tidak benar dan
menyesatkan.
Satu dari banyak ayat suci Alquran yang sering didengung-dengungkan
sebagai doktrin jihad kelompok Negara Islam Indonesia (NII) dulu dan Jamaah
Islamiah (JI) kini adalah ayat 23- 24 surah At-Tawbah yang berbunyi:
*"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu jadikan bapak-bapak dan
saudara-saudaramu sebagai pemimpin-pemimpinmu, jika mereka lebih
mengutamakan kekafiran atas keimanan. Dan barangsiapa di antara kamu
menjadikan mereka sebagai pemimpin-pemimpinmu, maka mereka itulah
orang-orang yang zalim. Katakanlah: 'Jika bapak-bapak, anak-anak,
saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang engkau
usahakan, perniagaan yang engkau khawatirkan merugi, dan rumah-rumah tempat
tinggal yang engkau sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan
Rasul-Nya dan (lebih utama bagimu daripada) berjihad di jalan-Nya, maka
tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya'. Dan Allah tidak memberi
petunjuk orang-orang fasik." *
Ayat di atas selalu dijadikan dasar indoktrinasi agar aktivis jamaah
NII/JI lebih mengutamakan jamaah, Amir atau Imamnya daripada orangtua,
isteri, anak dan kerabatnya. Terlebih kalau kaum kerabatnya tersebut tidak
bergabung di dalam kelompok jamaahnya, maka mereka akan dianggap sebagai *laisa
minna*—bukan golongan kami. Jangankan meminta pendapat dan restu orangtua
untuk pergi berjihad, menceritakan kegiatan jamaah kepada mereka pun
dianggap sebagai dosa besar dan pengkhinatan.
Ringkasnya, orang tua, isteri, anak dan kerabat, juga dianggap sebagai
"musuh" potensial sampai mereka bergabung ke dalam jamaah. Mereka mengambil
pembenaran dari kisah pengkhianatan putera Nabi Nuh, dan isteri Nabi Luth
untuk menegaskan kebebaran doktrin mereka.
Saat memutuskan "jihad" dengan membentuk kamp latihan militer di
Talangsari Lampung untuk melatih para *mujahid* yang disiapkan melawan
Pemerintahan "Darul Kuffar" (Negara Orang-orang Kafir) Republik Indonesia
pada awal tahun 1989, saya tak pernah membicarakan hal ini, apalagi meminta
restu kedua orangtua saya. Keluarga saya termasuk *laisa minna *dalam
kategori jamaah kita waktu itu. Lebih-lebih, ayah saya adalah pensiunan TNI.
Karena setia pada jamaah, waktu tertangkap lalu dipenjara, saya menolak
tawaran pembebasan yang diajukan dr. Tarmizi Taher, Sekjen Departemen Agama
waktu itu, yang secara implisit mengutarakannya di Markas Badan Intelijen
Strategis. Saya lebih memilih penjara. Saya sama sekali mengabaikan perasaan
dan pendapat orangtua dan isteri saya. Penolakan itu hanya disebabkan saya
mencurigai motif di balik tawaran itu serta khawatir dituduh mengkhianati
perjuangan jamaah.
Tapi setelah menjalani hukuman penjara selama lebih kurang 10 tahun, fakta
menunjukkan kepada saya bahwa doktrin agar lebih mengutamakan jamaah, Amir
atau Imam daripada orangtua dan keluarga itu sangat perlu dikoreksi.
Mencurigai dan menganggap mereka sebagai *potensi musuh* atau dalam bahasa
jamaah lainnya *sebagai orang yang belum memperoleh hidayah* hanya karena
mereka belum bergabung ke dalam jamaah, jelas tidak benar dan menyesatkan.
Jeruji penjara membuktikan kepada saya bahwa isteri, anak dan orangtualah
orang-orang yang paling menderita akibat perbuatan jihad saya. Mereka
jugalah orang-orang yang paling setia dan istiqamah mengunjungi dan
menunggui saya dalam menjalani kehidupan membosankan di balik tembok
penjara. Sementara teman satu jamaah, pergi entah kemana, meninggalkan saya
sunyi sendiri, hanya ditemani lembabnya sel penjara.
Bukan hanya terhadap doktrin jihad di atas penjara mengajak saya untuk
berpikir-ulang. Penjara juga memberikan ruang dan waktu bagi saya untuk
merenungi dan memikirkan kembali, serta mengoreksi pandangan, pemahaman, dan
indoktrinasi atas nama Islam yang selama ini saya yakini kebenarannya.
Penjara juga memberi kesempatan yang luas kepada saya untuk bergaul dengan
napol dari beragam keyakinan ideologis seperti Rewang, Sukatno, H. Ismail
Pranoto, Soebandrio, DR Thomas Wainggai, Xanana Gusmao, Tengku Ahmad
Nasirudin, AM Fatwa, Ir Sanusi, Nuku Sulaiman, dan Budiman Sudjatmiko. Juga
pergaulan dengan *napi white and blue collar crime* seperti Pak De, Slamet
Gundul, Dicky Iskandar Dinata, Eddy Tanzil, Arswendo Atmowiloto, Hartono
(germo Prapanca) dan sebagainya.
Dari mereka saya justru belajar banyak tentang keragaman dan bagaimana
cara beradaptasi dalam keragaman. Di samping hal tersebut, zaman pun kini
telah berubah dan ikut mengoreksi cara pandang saya. Rezim Soeharto yang
represif dan militeristik telah tumbang. Reformasi telah menciptakan iklim
politik yang lebih kondusif sehingga masyarakat dapat mengekspresikan
ideologi dan aspirasi politiknya yang berbeda-beda tanpa rasa takut
diintimidasi apalagi dipenjara.
Memang perubahan tersebut masih jauh dari yang diharapkan. Tapi menurut
saya, dalam kondisi politik seperti saat ini, tidak ada lagi alasan pembenar
bagi siapa pun untuk melakukan cara-cara kekerasan apalagi teror untuk
memperjuangkan ideologi dan aspirasi politik Islam. Bukankah wacana tentang
negara Islam kini bebas dibicarakan dan diperjuangkan melalui cara-cara yang
demokratis?! Itu hal yang amat mustahil dilakukan di zaman Orde Baru.
Seandainya Asmar Latin Sani meminta restu orangtuanya lebih dulu sebelum
melakukan aksi bom bunuh diri di Kuningan, Jakarta, saya yakin peristiwa Bom
Kuningan yang merenggut nyawa banyak orang tak berdosa tersebut tidak akan
pernah terjadi. Bukankah surga terletak di bawah telapak kaki ibu? Bukankah
rida Allah bergantung juga pada rida orangtua—bukan tergantung rida Panglima
Komandemen Wilayah atau Amir Majelis Mujahidin?!
** *Mantan Napol dan Aktivis Kelompok Warsidi Talangsari Lampung*



Mohamad Guntur Romli
Jl. Utan Kayu No. 68H Jakarta
Telp: (021) 8573388 Fax: (021) 851 6868

------------------------------
Be a PS3 game guru.
Get your game face on with the latest PS3 news and previews at Yahoo!
Games. <http://us.rd.yahoo.com/evt=49936/*http://videogames.yahoo.com>

Kirim email ke