http://islamlib.com/id/index.php?page=article&id=1216

KH. Mukhlas Syarkun, MA:
Semangat Siasah Lebih Dominan Daripada Takwa 05/03/2007

*Kalangan internal NU dan Muhammadiyah kini mulai meresahkan gejala
perebutan masjid dan sarana-sarana organisasi mereka oleh pihak tertentu.
Apakah keresahan itu beralasan dan berdasarkan fakta? Dan bagaimana
dampaknya terhadap corak keagamaan masyarakat kita? Berikut perbincangan
Jaringan Islam Liberal (JIL) dengan KH Mukhlas Syarkun, MA (Wakil Ketua
Lembaga Takmirul Masajid Indonesia atau LTMI-NU) dan Ahmad Baso (pengurus
Lajnatut Ta'lif wan Nasyr atau LTN-NU), Kamis (22/2) lalu. *

*Pak Mukhlas, beberapa media Islam beberapa waktu lalu merilis keresahan NU
dan Muhammadiyah karena beberapa masjid dan sarananya sudah direbut kelompok
tertentu. **Apakah keprihatinan itu berdasarkan fakta?*

*Mukhlas Syarkun:* Kekhawatiran itu berangkat dari realita. Kenyataanya,
masjid yang dulu dikelola NU secara kultural, kini mulai terancam oleh pihak
luar yang sengaja menggunakan masjid sebagai basis komunikasi sosial,
terutama politik. Karena itu, di NU ada kekhawatiran kalau orientasi masjid
yang mestinya *ussisa alat taqwâ* (dibangun atas landasan takwa) seperti
disebutkan Alquran, berubah menjadi arah menjadi *ussisa alas siyâsah
*(dijadikan
basis perpolitikan)*.*

Selama ini, masjid selalu diasumsikan sebagai tempat pertemuan ruang batin
masyarakat, selain fungsi sebagai *baitullah*. Otomatis, tujuannya untuk
meningkatkan ketakwaan kepada Allah. Namun belakangan, masjid cenderung *ussisa
alas siyasah* (dijadikan lahan berpolitik). Nah, itu yang mengkhawatirkan,
karena telah keluar dari format dan koridor fungsi masjid itu sendiri.

*Apakah masjid NU selama ini tidak memainkan peranan politik?*

Selama ini, masjid-masjid NU lebih *pure* dalam menjalankan
fungsi-fungsi *ussisa
alat taqwa*. Itu *platform* utamanya. Karena itu, dalam rekrutmen
kepengurusan dan lain sebagainya, prosesnya cenderung alamiah dan tidak
didasarkan pada pertimbangan kepentingan politis. Bahkan, tidak jarang
banyak orang yang saling lempar kesempatan untuk jadi pengurus. "Kamu
sajalah yang jadi, kamu sajalah yang jadi...!" Tapi fenomena belakangan ini
sudah berubah. Susunan kepengurusan malah jadi ajang perebutan dan target,
sehingga ada upaya-upaya sengaja untuk menguasai masjid. Itulah yang tadi
saya sebut gejala bergesernya orientasi *ussisa alat taqwa* menjadi *ussisa
alas siyasah*. Ketika berhasil menguasai suatu masjid, kelompok ini akan
mengeliminasi pengurus lama yang dianggap tak sehaluan, tak sepemikiran, dan
tak seubudiyah. Tema-tema khutbah pun mulai berubah. Karena itulah muncul
kekhawatiran-kekhawatiran di kalangan NU. Semangat *ussisa alas siyasah* itu
sekarang lebih dominan daripada *ussisa alat taqwa*-nya.

*Berapa banyak masjid di bawah LTMI-NU yang sudah berubah orientasi seperti
itu?*

Kita belum punya data validnya. Namun gejala-gejala ini sudah terlihat makin
meluas. Sekarang sudah ada beberapa laporan soal berubah-fungsinya beberapa
masjid yang dulunya kita kelola. Ada yang *full*, separo-separo, dan ada
yang masih dalam perencanaan. Karena itu, tugas kita adalah mengembalikan
fungsi masjid seperti semula; berorientasi *ussisa alat taqwa*. Itu saja
yang ingin kita pertahankan. Selama ini, kita bukannya lengah. Masjid memang
selalu jadi milik masyarakat. Jadi kalau ada yang ingin memakmurkan, ya *
monggo*, silakan.

Bagi kita, siapa saja yang mau mengurus masjid, silakan, asal pada rel *ussisa
alat taqwa*. Jangan dibelokkan. Nah, pembelokan-pembelokan ini rupanya punya
modus operandi macam-macam. Pada awalnya, sang oknum jadi tukang sapu masjid
dulu. Lama-lama, dia mulai menyodorkan nama-nama khatib. Dia lalu mulai jadi
muadzin. Lama-kelamaan, tugasnya jadi lain sama sekali.

Ada juga kasus pengerahan massa dari luar ketika pemilihan Dewan
Kepengurusan Masjid (DKM). Biar suaranya banyak. Padahal, pemilihan DKM
sebuah masjid, lazimnya ditentukan jamaah sekitar. Tapi karena ingin merebut
masjid, mereka mengerahkan massa dari luar. Karena ketidaklaziman ini, maka
banyak yang sudah mengkhawatiran. Masjid yang dulu dikelola secara alamiah *
kok* kini jadi rebutan?! Karena itu, wajar kalau Ketua Umum PBNU, Bapak KH
Hasyim Muzadi mulai *warning*. Sebab mulai ada gejala-gejala yang tidak
sehat.

*Masjid di bawah LTMI-NU kadang memang dinilai kurang semarak. Karena itu
direbut. Tanggapan Anda?*

Faktanya, selama ini memang ada masjid-masjid yang masih dikelola kalangan
tua, sehingga paradigmanya masih pemikiran tua dan tidak ikut pemikiran
sekarang. Tapi sudah banyak juga yang berbenah dan mulai mengakomodasi
aspirasi tua-muda. Persoalannya *kan* masjid tidak hanya untuk
semarak-semarakan, tapi bagaimana ia tetap jadi ruang batin masyarakat.
Dengan begitu, ketika ke masjid, selain bisa melaksanakan *hablun minallah,
hablun minannas *seseorang* *juga* *jadi baik. Kalau datang dengan keresahan
dan eliminasi terhadap pihak-pihak yang dulu sudah nongkrong di situ, itu
tidak semarak namanya. Semaraknya sebuah masjid itu tergantung bagaimana ia
meningkatkan *hablun minallah* dan *hablun minannas*.

*Apa yang dilakukan LTMI-NU untuk membenahi persoalan itu?*

Sekarang, LTMI merencanakan program masjid sebagai pusat peradaban dan
kesejahteraan masyarakat. Sebab masjid adalah ruang yang sangat potensial
kalau dimaksimalkan potensinya. Menurut catatan statistik, desa di Indonesia
itu berjumlah 800-an, tapi masjidnya berjumlah 800.000-an. Kami pernah
melakukan kalkulasi kemiskinan di Indonesia yang berjumlah sekitar 80 juta
jiwa. Kalau masjid mau diberdayakan untuk program pengentasan kemiskinan,
setiap masjid akan kebagian seribu orang miskin.

Nah, masjid-masjid ini *kan* sarana yang sudah ada dan tiap Jumat ada banyak
orang yang berkumpul. Sebenarnya, kalau dilakukan program-program yang
positif, itu akan sangat membantu. Bagi kita, silakan masjid digunakan
sebaik-baiknya untuk kebajikan. Namun harus berfondasikan takwa, bukan
siyasah. Fondasi takwa akan menelurkan program-program yang positif. Itulah
yang sedang diupayakan LTMI. Sekarang kita sedang mengembangkan pendidikan
berbasis masjid lewat kerjasama dengan Diknas, terutama di daerah terpencil.


Itulah yang pernah diteladankan Rasulullah. Ketika Rasulullah hijrah ke
Madinah, beliau segera mendirikan masjid, lalu pasar. Masjid berfungsi untuk
mengokohkan hubungan dengan Allah dan silaturrahmi antara Muhajirin dan
Anshar. Dari situlah lahir kekuatan ukhuwah, toleransi, dan keragaman,
sehingga melahirkan Madinah baru. Kita berharap masjid juga bisa menjadi
kekuatan seperti yang pernah dicontohkan Rasulullah, tentu dengan konteks
dan dinamika yang berubah dan berbeda. Tapi semangat dan rohnya tidak boleh
berubah.

*Bung Baso, apa makna strategis masjid dalam konteks sosial-politik
Indonesia mutakhir sehingga diperebutkan?*

*Ahmad Baso:* Sebetulnya dari dulunya masjid merupakan benteng pertahanan
umat Islam terhadap derasnya proses perubahan-perubahan di luar. Secara
kultural, masjid juga terikat dengan masyarakat sebagai lembaga pendidikan,
madrasah, pesantren, dan juga pasar. Namun kini, masjid beralih-fungsi
sebagai benteng pertahanan kelompok tertentu untuk menjaga identitas
kelompoknya. Dan itu muncul beriringan dengan menguatnya kelompok-kelompok
Wahabi dan puritan Timur Tengah. Salah satu agenda mereka adalah bagaimana
menguasai masjid, madrasah, atau sekolah agama. Dan masjid yang mereka danai
selama ini adalah tempat strategis untuk menyuburkan ajaran-ajaran mereka.

Kita tahu, di tahun 1980-an banyak sekali aliran dana dari Arab Saudi untuk
pembangunan masjid di Indonesia. Alasan pertama adalah untuk syiar. Tapi
setelah masjid dibangun, mereka mulai menginginkan orang-orang mereka untuk
masuk kepengurusan, atau minimal memasukkan ajarannya untuk didakwahkan
kepada jamaah. Belakangan, masjid juga menjadi tempat kaderisasi
kelompok-kelompok militan Islam. Bahkan beberapa masjid di negara-negara
Barat yang dulu dibangun bersama-sama oleh para imigran dari berbagai ragam
etnis dan ras, kini menjadi basis baru bagi kelompok militan.

*Apa implikasi perebutan ruang masjid itu?*

Masjid akhirnya terlepas dari dinamika masyarakat di sekitarnya. Apalagi
kalau yang merebut masjid sudah tinggal di dalam masjid tersebut. Dulu,
gejala yang meresahkan orang adalah munculnya kelompok Jamaah Tabligh yang
terkadang datang merebut masjid dan tinggal di situ. Karena meresahkan
masyarakat, cara-cara itu lalu mereka tinggalkan. Mereka bukan lagi merebut
masjid dengan cara tinggal di situ, tapi dengan cara merebut
kepengurusannya. Setelah itu barulah mereka membangun pengaruh kepada
masyarakat sekitarnya.

Dengan begitu, mereka tidak diganggu lagi dan ternyata hasilnya lebih
efektif. Dengan aliran duit Timur Tengah, mereka bisa mengembangkan jaringan
dan mensyiarkan majid. Misalnya dengan menyediakan Alquran dan bacaan-bacaan
Islam. Dulunya, banyak masjid yang tidak punya bacaan-bacaan agama. Nah,
mereka juga mensuplai bacaan-bacaan itu.

*Adakah yang dirugikan dari proses infiltrasi semacama itu? *

Yang jelas, masyarakat banyak yang dirugikan. Terutama komunitas keagamaan
seperti NU dan Muhamadiyah yang selama ini sudah mengelola masjid. Secara
kultural, praktek keagamaan masyarakat dalam bentuk zikir dan tahlil, ketika
direbut kelompok itu, mulai ditinggalkan. Masyarakat kecewa dengan perubahan
tersebut. Ada juga kerugian pada aspek materil.

Biasanya, sebuah masjid dibangun secara swadaya oleh masyarakat. Bahkan di
beberapa daerah seperti Cirebon dan Makasar, masjid yang megah dibangun
secara maksimal oleh masyarakat melalui bantuan dan swadaya. Tapi sayang,
dengan mudah kelompok tertentu datang untuk merebut dan dengan sepele
menyatakan bahwa ini masjidnya umat Islam, bukan masjid kelompok tertentu.
Ketika mereka berhasil merebutnya, secara ekslusif mereka mengklaim
kepemilikan dan tidak lagi mewadahi komunitas yang selama ini mentakmirkan
masjid tersebut. Mereka menguasai masjid itu sesuai dengan faham mereka.
Akhirnya masyarakat juga dirugikan secara material.

*Apakah peranan masjid masih cukup vital dalam kontestasi politik di
Indonesia saat ini?*

O, masih sangat penting. NU itu dari dulu adalah bagian dari bangsa ini. Dan
peranannya makin kuat karena masih mengandalkan basis kultural yang ada
selama ini, yaitu masjid, surau, dan pesantren. Tapi sekarang, banyak
generasi muda NU yang meninggalkan masjid untuk masuk ke dalam
gerakan-gerakan demokrasi yang bicara di café-café dan hotel-hotel.
Akibatnya, masjid terbengkalai. Padahal, masjid merupakan eleman vital untuk
membangun pergerakan bangsa ini. Kalau semuanya berantakan, bangsa ini akan
kehilangan jatidiri dan ruhnya.

NU kini sudah mulai konsen dengan isu itu. Karena ternyata, masjid yang
mulai ditinggalkan NU ikut juga merugikan bangsa ini. Buktinya, banyak
kasus-kasus kekerasan dan terorisme belakangan ini. Itu jelas-jelas
merugikan bangsa kita. Bangsa kita diseret ke dalam pertarungan yang
sebetulnya bukan milik mereka, seperti konflik agama. Terkadang, itu muncul
dari masjid-masjid politis yang yang ikut memanas-manasi situasi itu. Dan
yang runyam adalah ketika ada orang luar yang datang dan merebut masjid,
lalu memanas-manasi masyarakat untuk melakukan jihad dan seterusnya. Jadi
jelaslah kalau pertaruhannya sangat besar ketika masjid sudah direbut oleh
orang-orang yang tidak tahu kondisi masyarakat sekitarnya.

*Adakah langkah-langkah yang disiapkan PBNU untuk mengantisipasi makin
meluasnya politik perebutan masjid ini?* Sebenarnya sudah ada pembagian
tugas untuk itu. LTN-NU selama ini bertugas menyediakan strategi dan
materinya. Misalnya lewat pendekatan kiai-kiai. Masjid-masjid itu
*kan*masih banyak yang mengandalkan peranan ketokohan kiai. Masyarakat
juga masih
mengharapkan beberapa kiai untuk berceramah. Nah, itulah yang kita
manfaatkan; agar kiai NU juga tahu bahwa ada masjid NU yang direbut oleh
kelompok luar.

Kedua, lewat distribusi bahan-bahan atau materi dakwah seperti buletin
Jumat. Kita sudah melakukan itu. Selama ini sudah ada 50 masjid sekitar
Jakarta yang kita masuki. Dan sekarang perkembangannya makin bagus.
Masyarakat makin tahu bahwa alternatif Islam yang dibawa kelompok-kelompok
semacam itu lebih banyak meresahkan daripada mengajak kedamaian. Dan itulah
yang kita manfaatkan. []

Kirim email ke