pantas sejak awal tahun kemarin terbitnya tidak teratur (setiap awal bulan) dan 
sebagai pembaca MATRA sejak 1991, saya berharap semua ini segera berakhir dan 
bisa terbit lagi dengan FORMAT MATRA dekade 90-an.

deddy
taatkokcumakaloadayangliat
tangakenapa?



  ----- Original Message ----- 
  From: radityo djadjoeri 
  To: [email protected] ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; 
[EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; 
[EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; 
[EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] 
  Sent: Wednesday, March 07, 2007 7:33 PM
  Subject: [mediacare] Diboikot wartawannya, majalah MATRA berhenti terbit



  Perubahan manajemen dan pergantian kepemilikan ternyata tidak selalu berbuah 
manis, seperti yang terjadi pada majalah pria Matra yang kini berhenti terbit 
menyusul konflik internal yang berlarut-larut di antara pemegang sahamnnya.

  Konflik internal antara pemegang saham mayoritas dan minoritas yang tak 
kunjung usai, kini mengimbas ke wartawan dan karyawannnya yang memboikot untuk 
tidak menerbitkan majalah yang telah berusia 20 tahun itu.

  Terbit 1986, majalah yang sempat bernaung dalam manajemen 
  Kelompok Tempo itu sempat mencapai tiras 90 ribu eksemplar. Sukses yang 
gemilang nampaknya membuat Matra tak sempat membuat skenario terburuk. Ketika 
krisis moneter terjadi, nyaris membuat Matra limbung. Dan majalah yang didorong 
oleh semangat yang berkobar untuk memberikan warna mozaik pers Indonesia tidak 
lepas dari dinamika kehidupan industri yang pasang surut.

  Seperti kata "matra", yang berarti ukuran atau dimensi, majalah  bulanan yang 
juga "majalah trend pria, di usia yang ke 15 tahun, dijual ke manajemen baru 
pada Februari 2001. Kepemilikan saham pun berubah ke PT Media Matra. Sejak 
itulah, persoalan demi persoalan terjadi dan menghantam majalah itu. Sejumlah 
wartawan dan karyawannnya hengkang satu demi satu. Sebut saja mulai dari Abror 
Rizky (kini menjadi fotografer SBY), S.S Budi Rahardjo (mendirikan majalah 
HealthNews dan kantor berita televisi di QTV), Jim Bari Aditya (mendirikan X 
magazine), lalu Nano Riantiarno lebih memilih aktif sebagai dramawan di Teater 
Koma-nya.

  Masuknya Sri ST Rusdi, isteri dari mantan Asrenum ABRI Marsekal Pertama 
(Purn) Tedi Rusdi (dikenal juga sebagai tangan kanannya Benny Moerdani, mantan 
Menhankam/Pangab) - ternyata berubah pola kerja. Politik adu domba, gaya 
"intel" dan politik kantor membuat kerja tak nyaman. Apalagi manajemen redaksi 
beroroma "tangan besi" tanpa memperhitungkan idealisme pers.

  Berbeda sekali gaya kepemimpinan di era Fikri Jufri atau Andi Noya, saat 
mereka masih di Matra. Atau ketika Hermien Kleden, Tantyo Bangun, Meike Malaon 
dan Ananda Moersid masih bergabung di Matra.

  Wina Armada yang juga Sekjen Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) dan anggota 
Dewan Pers ini berterus terang, sejak dirinya tak lagi memimpin Pemimpin 
Redaksi di Matra, tongkat komando sepenuhnya berada di tangan ibu Sri.

  Menurut narasumber, yakni karyawan dan wartawan di Majalah Matra, kisruhnya 
manajemen ketika kepentingan profesional dipinggirkan. "Ini konflik sebenarnya 
antara pemegang saham mayoritas dengan para wartawan," ungkapnya. Para 
wartawannnya menilai, tidak ada lagi transparansi dan kejelasan atas persoalan 
Matra. Makanya, para wartawan tidak bersedia menerbitkannya lagi. Apalagi Matra 
disebut-sebut lari dari khitahnya," lanjut Wina Armada ketika dikonfirmasi oleh 
beberapa wartawan, atas tidak terbitnya Matra. Lebih lanjut, "Saya di pihak 
karyawan dan wartawan."

  Hengkangnya Wina  Armada (pemegang saham 15 persen) yang kala itu sebagai 
Pemred, menambah ruwet konflik antar pemegang saham tersebut. Konsep Matra pun 
berubah-rubah seperti mencari bentuk yang sesuai dengan selera pasar, menyusul 
masuknya sejumlah orang yang tak paham konsep jurnalistik Matra. Antara lain, 
masuknya fotografer Hani Moniaga, mencatat sejarah menambah jatuhnya selera 
majalah ini hingga disebut-sebut berselera seronok.

  "Roh jurnalistik investigasi" yang selama ini membuat Matra menjadi terkenal 
mulai ditinggalkan. Puncaknya, di tengah Maret 2007 ini jajaran redaksi tak 
tahan dengan gaya Sri ST Rusdi dalam memimpin. Pekerja pers di situ tak setuju, 
ketika Matra dengan tiba-tiba mau diubah menjadi Matra Golf, bukan lagi menjadi 
majalah pria. Kini Matra memasuki konflik berat, tidak terbit lagi.

  Sungguh amat disayangkan............................








------------------------------------------------------------------------------
  Get your own web address.
  Have a HUGE year through Yahoo! Small Business.

   

Kirim email ke