Bung Kukuh, saya mendukung apa yang anda tulis. Di bawah ini adalah tambahan saya. Kesadaran rakyat Indonesia untuk berjuang melawan neoliberalisme (bersama-sama cecunguk dan begundalnya di Indonesia) yang telah memelaratkan bangsa dan negara Indonesia membuat kaum neoliberal untuk menghidupkan kembali taktik kuno dengan mencari apa saja yang bisa mendiskreditkan Bung Karno. Sebab Bung Karno inilah yang selalu mengajarkan dan melancarkan perjuangan melawan nekolim/neoliberalisme. Karena ajaran Trisakti Bung Karno disadari merupakan senjata ampuh untuk melawan nekolim/neoliberalisme, maka disebarlah virus anti Soekarno melalui orang-orang yang memang sudah menderita penyakit anti Soekarno. Dan anehnya penderita penyakit tersebut telah meluas kepada orang-orang yang dulu menganggap orang "kiri" yang paling revolusioner (Maocetungisme). Dalam dunia internet (di Milis Apakabar-Mac Dougall, tahun 1966) saya juga masih ingat bagaimana konfrontasi sengit antara Jusfiq Hajar gelar Sutan Maradjolelo (anti Soekarno) dengan M.D.Kartaprawira (pengikut Soekarno). Kalau tidak salah kedua-duanya bermukim di Negeri Belanda. Bahkan karena kebenciannya terhadap Soekarno yang begitu memuncak Jusfiq sampai mengatakan: Pancasila dan UUD 45 harus dibuang ke kakus dan dikencingi. Sedang mengkorek-korek apa saja yang dapat dikorek untuk menjelekkan Soekarno dan memberi cap diktator terhadap Soekarno adalah suatu hal yang biasa dia koarkan. Saya setuju dengan Bung Kukuh bahwa para cecunguk dan begundal nekolim/neoliberlisme di mana saja berada (di Negeri Belanda, Amerika Serikat, dll) dewasa ini dikerahkan kembali untuk mendiskreditkan Soekarno dan ajaran-ajarannya. Sebab ajaran Soekarno membahayakan kepentingan kaum nekolim/neoliberlisme. Mereka ini beraksi dengan bermacam-macam langgam: halus, kasar dan setengah kasar, berupa tulisan kampungan maupun psedo-ilmiyah (Prof. Dake). Saya kira kecintaan rakyat Indonesia terhadap Soekarno dan ajarannya yang memihak rakyat marhaen - wong cilik tidak bisa digoyahkan oleh para cecunguk dan begundal nekolim/neoliberlisme. Maka dari itu seharusnya seluruh kaum nasionalis patriotik semua, yang tergabung dalam PDIP, PNI-PNI, PKB dll., bersatu padu menghadapi kaum nekolim/neoliberalisme. Salam, J.Surendro -------Original Message------- From: Kukuh Manggala Date: 03/06/07 19:33:53 To: [EMAIL PROTECTED] Cc: [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [email protected] Subject: Re: Re: [nasional-list] Berapa sebenarnya Isteri Bung Karno? (Pertanyaan berbisa neoliberalisme) Pak Harsutedjo, Pak Budi dan Mbak Maria, Saya kira kita semua tahu bahwa setiap orang mempunyai segi-segi kelemahannya. Manusia tidak ada yang sempurna. Mempelajari dan mengkritisi segi kelemahan dari pemimpin bangsa -- Bung Karno -- memang perlu kita ketahui untuk melangkah kedepan memperbaiki kelemahan tersebut. Tetapi dalam mengkritisi tersebut kita tidak boleh asal-asalan. Apalagi kalau sudah dilatar-belakangi rasa permusuhan. Yang terakhir ini biasanya akan menuju ke pembunuhan kharakter. Dalam situasi politik di Indonesia dewasa ini, di mana bangsa Indonesia sedang menghadapi merajalelanya kaum neoliberal/globalisme kita seyogyanya lebih mengetengahkan segi positip Bung Karno dan ajarannya, misalnya Trisakti yang masih relevan saat ini. Mengkorek-korek, mencari-cari kelemahan Bung Karno praktis akan menguntungkan golongan anti-Soekarno. Mereka prioritasnya untuk menjatuhkan nama B ung Karno. Sedang rakyat Indonesia mempunyai prioritas bagaimana ajaran-ajaran Bung Karno bisa dikiprahkan untuk melawan kaum neoliberal/globalisme. Posting pancingan yang mempertanyakan tentang istri-istri Bung Karno adalah salah satu contoh usaha untuk merendahkan Bung Karno. Agaknya sindrom penghinaan terhadap Bung Karno yang ditebar pada jaman Milis Apakabar (Mac Dougall) dulu yang dipelopori oleh anggota milis Jusfiq Hajar gelar St Maradjolelo, akan dibangunkan lagi oleh Sato Sakaki di milis Nasional dll. Mereka tidak lelah-lelah mencari-cari segi kelemahan Bung Karno, dalam bahasa Jawanya: "Entek amek". Saya kira pancingan orang-orang semacam itu tidak perlu dilayani. Tidak ada manfaatnya!!! Kukuh M. --- In [EMAIL PROTECTED], "harsutejo" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: BUNG KARNO DAN KRITIK < DIV>Pak Budi dan Mbak Maria, Terimakasih atas masukan anda. Mudah-mudahan saya masih dilimpahi kesehatan dan umur untuk dapat menyimak dan menuliskannya sebagai yang anda sarankan yang mungkin bermanfaat. Dalam buku saya tentang G30S (Hasta Mitra 2003) saya telah menyinggung tentang kelemahan BK dalam titik yang amat kritis yang sangat menentukan perkembangan situasi. Kita kadang secara subjektif menghendaki terlalu banyak dari orang lain, dalam hal ini dari pemimpin seperti BK. Tentu saja BK sebagai bagian sejarah Indonesia terbuka untuk kritik juga seperti halnya terhadap DN Aidit, Sudisman dan yang lain, sebagai pemimpin dan pribadi mengandung sejumlah kekurangan. Saya juga mengutamakan penekanan terhadap ajaran BK yang disebutnya dengan Trisakti, bebas dalam politik, berdikari dalam ekonomi dan berkepribadian dalam kebudayaan yang tetap amat relevan. Selama empat dekade ini ajaran tersebut dijungkirbalikkan dengan kenyataan Indonesia dewasa ini yang tergantung hampir dalam seluruh segi. Beberapa tahun yl seorang menteri RRT diwawancarai seorang wartawan Indonesia, kemajuan RRT dikatakannya karena menjalankan ajaran BK Trisakti tersebut. Lumrah saja jika kita masing-masing berbeda pendapat, berbeda dalam membuat penilaian apa pun, bisa kecil-kecil bisa mendasar dan bertolakbelakang. Salam, Harsutejo.-
--------------------------------- Expecting? Get great news right away with email Auto-Check. Try the Yahoo! Mail Beta.
