Ada yang tertarik membahas topik ini? :-)

http://groups.yahoo.com/group/the_untold_stories/message/644

http://groups.yahoo.com/group/the_untold_stories/message/601

http://groups.yahoo.com/group/the_untold_stories/message/643

http://groups.yahoo.com/group/the_untold_stories/message/608

"..
Sebagaimana artikel *Wahyu Diturunkan 22 tahun 2 bulan dan 22
hari*<http://groups.yahoo.com/group/the_untold_stories/message/608>
posted satu sehari
sebelum kapal tenggelam, Feb 21, 2007 9:50 am atau untuk yang lain seperti :

*Pelajaran yang
Terabaikan*<http://groups.yahoo.com/group/the_untold_stories/message/598>posted
Feb 17, 2007 7:21 am
..
Sebelum itu,

  - 22:02:2007 Lavina I terbakar, puluhan tewas

.."

Dianggap klenik? egp.. :-P
CMIIW..

Wassalam,

Irwan.K

---------- Forwarded message ----------
From: diah ayu <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Mar 8, 2007 4:45 PM
Subject: [the_untold_stories] Fenomena 22 yang mencengankan

Aku tertarik sekali artikel pak Fuad *Fenomena 22 di
Garuda<http://groups.yahoo.com/group/the_untold_stories/message/644>
*  Sebelumnya sudah tersebut di artikel Bacalah Fenomena
22<http://groups.yahoo.com/group/the_untold_stories/message/615>
posted Feb 26, 2007 11 <javascript:void(0)>:18 pm  sebulan lalu , sebenarnya
aku endak ingat, namun aku coba telusuri yakni  : ......
******
Luar biasa dan sangat mencengankan setelah dimana tgl
22-2-2007<javascript:void(0)>memang hari berduka sebagai mana di
lansir oleh artikel Bilakah
22-2-2007 ? <http://groups.yahoo.com/group/the_untold_stories/message/601>
posted Feb 19, 2007 10 <javascript:void(0)>:10 am , salah satu kutipannya
adalah :

Bacalah 22/2/2005, jangan lupakan, Secara tegas dapat diambil kesimpulan
22.02.2005 atau 2 tahun lalu merupakan hari berkabung, dengan didahului,
longsor, gempa meningkat, masalah pesawat
*****

Aku perhatiin urutan musibah itu yang menuju hari berkabung

Longsor            : NTT             (3.3.2007)
Gempa Meningkat    : SUMBAR          (5.3.2007)
Pesawat            : Garuda - Yogya  (6.3.2007)

Luar biasa apa yang ditulis mungkin 'tidak' sengaja atau bagaimana ? Jelas
semua TV tadi malam sudah berduka bahkan di SCTV ada tajuk "Republik
Berduka" ......


ini Nih kebetulan lagi buat pak dien sam:

Ibunya yang lahir pada 22 Agustus 1936 di Maninjau, Sumatera Barat, itu
memang telah sebulan menjalani perawatan di rumah sakit. Baru tiga hari lalu
istri Nazroel Bernawi itu pulang dari Rumah Sakit Islam Jakarta. "Ibu
mengidap komplikasi ginjal dan paru-paru," ujarnya.

Aku rada curiga, banyak ndak  ya  yang lahir 2,11 dan 22 ?
Artikel JP edisi  8.3.2007

Kamis, 08 Mar 2007,
*Sehari, Din Syamsuddin Mengalami Dua Musibah
*<http://www.jawapos.co.id/index.php?act=detail&id=8284>

Pagi Lolos dari Maut, Sore Imami Salat Jenazah Mertua
Selamat dari musibah kecelakaan Garuda yang ditumpanginya, Din Syamsuddin
mendapat musibah lain. Ibu mertua yang sangat berjasa mendukung karir dan
sekolahnya meninggal dunia.

NAUFAL WIDI-A.K UMAM, Jakarta

SEBUAH pesan SMS (short message service) masuk ke telepon genggam Farazandi.
"Bagaimana keadaan Papa?" Begitu bunyi pesan dari gurunya. Sontak siswa
kelas tiga SMU Al-Azhar Jakarta itu bingung. Kebingungan pun semakin
menyelimutinya ketika banyak panggilan masuk menanyakan keadaan ayahnya.

"Saya bingung. Karena setahu saya, Papa baik-baik saja," ujar anak sulung
Din Syamsuddin itu kepada Jawa Pos kemarin.

Inisiatif membalas SMS pun dilakukannya. Dari gurunya itulah, remaja 17
tahun tersebut mendapat berita bahwa pesawat Garuda Indonesia Boeing 737-400
nomor penerbangan GA-200 rute Jakarta-Jogja tergelincir dan terbakar di
Bandara Adisucipto, Jogja. Pesawat itu mengangkut 133 penumpang. Salah
satunya ayahnya yang ketua umum PP Muhammadiyah itu.

Farazandi lalu menelepon ke rumah. Namun, suara di ujung telepon justru
mengabarkan hal berbeda. "Pembantu bilang kalau nenek meninggal dunia,"
katanya.

Farazandi pun bergegas pulang di kompleks Pejaten Elok F2, Warung Buncit,
Jakarta Selatan. Benar saja, sebuah tenda terpasang di depan rumah. Beberapa
sanak keluarga juga sudah berkumpul. Neneknya, Darnelis binti Thaher, yang
biasa dipanggil dengan panggilan "andung" telah berpulang.

Beberapa karangan bunga ucapan belasungkawa tampak terpajang di halaman dan
jalan menuju rumahnya. Di antaranya dari Menkes Siti Fadilah Supari,
Mendiknas Bambang Sudibyo, dan Pimpinan Komisi VI DPR. Bahkan, karangan
bunga dari Presiden SBY dan istri serta Presiden PKS Tifatul Sembiring
menyambut pelayat di teras rumah.

Namun, tanda tanya masih menyelimuti benak Farazandi tentang nasib sang
ayah. Tapi, dari ibunya, Fira Beranata, dia mendapat kepastian bahwa ayahnya
selamat. Dia hanya terluka ringan. "Papa sedang dirawat. Nanti siang kembali
ke Jakarta," katanya.

Farazandi mengaku paling dekat dengan neneknya itu. Bahkan, dialah yang
sering menemani saat neneknya sendiri di rumah. "Saya ini cucu pertama yang
seperti anak terakhirnya," katanya.

Fira mengungkapkan, dirinya tidak merasakan firasat apa-apa sebelum dua
musibah menimpa keluarganya. Kemarin pagi dia masih menemani suami berangkat
ke Jogja untuk bertemu Menlu Australia Alexander Downer di Universitas
Muhammadiyah Yogyakarta.

Anak pertama Darnelis itu menceritakan, dia bahkan membantu mempersiapkan
dua kopor berisi pakaian sebagai bekal suami. Rencananya, seusai pertemuan
dengan Downer, Din bersama beberapa orang dari PP Muhammadiyah bertolak
menuju Padang untuk mengunjungi korban gempa.

Ibunya yang lahir pada 22 Agustus 1936 di Maninjau, Sumatera Barat, itu
memang telah sebulan menjalani perawatan di rumah sakit. Baru tiga hari lalu
istri Nazroel Bernawi itu pulang dari Rumah Sakit Islam Jakarta. "Ibu
mengidap komplikasi ginjal dan paru-paru," ujarnya.

Malam (Senin malam, Red) sebelum Din berangkat ke Jogja, Fira dan suami
sempat ngobrol dengan Darnelis. "Waktu itu Pak Din bilang ke beliau supaya
cepat sembuh," kenangnya. Namun, Selasa pagi keadaannya memburuk. Sekitar
pukul 07.30 beliau dibawa ke RS MMC di kawasan Rasuna Said, Kuningan.
"Prosesnya cepat. Beliau seperti tidur, tapi tidak bangun lagi," jelasnya.

Meninggalnya sang Ibu, lanjut Fira, hampir bersamaan dengan terbakarnya
pesawat Garuda yang ditumpangi suami. Namun, dia tidak mengetahui pasti
nasib Din.

"Alhamdulillah, ketika saya menghubungi Bapak, beliau mengabarkan kalau
selamat. Beliau juga menyampaikan untuk sabar dan tabah karena ini sudah
takdir," cerita wanita berjilbab itu. Ibunya, lanjutnya, akan dimakamkan di
TPU Tanah Kusir blok AA2 di samping suaminya, Nazroel Bernawi.

Menjelang pukul 14.00, rumah bercat putih itu tampak semakin ramai. Para
pelayat berkerumun di depan rumah. Di dalam rumah juga penuh. Mereka
menunggu menantu pertama sekaligus yang dibanggakan Darnelis yang tidak lain
adalah Din Syamsuddin.

Di antara pelayat tampak Wakil Ketua MPR A.M. Fatwa, Sekjen PAN Zulkifli
Hasan, Teguh Juwarno, dan Bambang Harimurti. Dari kalangan artis juga tampak
melayat seperti Tarzan, Inneke Koesherawati, Astri Ivo, dan Ustadz Jeffry.
Beberapa wartawan juga menunggu sang empunya rumah.

Pukul 14.30 dalam kondisi hujan lebat yang disertai angin, Din tiba.
Farazandi menyambut ayahnya dengan pelukan. Matanya tak kuasa mengalirkan
air mata. Beberapa pelayat juga menyalami Din untuk mengucapkan
belasungkawa.

Din digiring menuju kamar diikuti sang istri untuk berganti kemeja. Usai
mengganti baju batiknya dengan baju koko putih, Din langsung memimpin salat
jenazah ibu mertuanya.

Dalam sambutan pelepasan jenazah, dengan suara terbata-bata Din
mengungkapkan bahwa mertuanya adalah sosok yang selalu mendukung karirnya.
Bahkan, ketika hendak mulai studi di Amerika hingga ketika akan mencalonkan
diri menjadi ketua umum PP Muhammadiyah. "Sejak awal kami memang sudah
berkomitmen untuk menjadi keluarga yang saling mendukung," kata Din yang tak
kuasa menahan air mata.

Din juga sempat menceritakan pengalamannya di pesawat Garuda yang celaka di
Jogja. Saat mendarat, dia merasakan pesawat terempas dengan keras dua kali.
Yang pertama ketika pesawat menyentuh landasan dan kedua ketika tergelincir
di sawah. Din yang duduk di kursi nomor 7 D -bersebelahan dengan mantan
Rektor UGM Prof Dr Koesnadi- di kelas ekonomi sempat tidak sadarkan diri.

"Ketika sadar, pesawat sudah gelap. Teriakan takbir dari penumpang juga
bersahutan. Saya lihat ada asap. Saya pikir pesawat ini hanya tunggu waktu
untuk meledak," tuturnya.

Saat itu Din berusaha segera menemukan emergency exit. Tepatnya tiga hingga
empat baris ke belakang. Namun, saat itu Din mendengar ada yang berkata, "Ke
kanan. Ke kanan". Ternyata "petunjuk" itu membawanya ke pintu darurat.

"Tahu-tahu di depan saya terdapat pintu darurat yang sangat lapang," kata
Din yang disambut ucapan takbir para pelayat. Din pun akhirnya melompat.
"Cukup tinggi karena tidak ada tangga darurat. Untungnya jatuhnya di sawah,"
sambungnya.

Ketika itu Din melihat pesawat mulai terbakar. Banyak penumpang tergeletak.
Ambulans dan pemadam kebakaran mulai berdatangan. Penduduk juga tampak
berdatangan untuk membantu. "Saya segera membuka HP dan menghubungi sopir PP
Muhammadiyah untuk minta dijemput," kata Din yang terluka memar di pelipis
dan pipi kiri karena terbentur ketika pesawat mendarat. (*)

Kirim email ke