KOMPAS
Jumat, 09 Maret 2007 

  
Hidup di Negeri Petaka 


Aloys Budi Purnomo 

Negeri kita yang selama ini dikenal sebagai gemah ripah loh jinawi telah 
berubah wajah. Siapa pun kita yang hidup di Indonesia ternyata ada di bawah 
bayang-bayang maut! 

Maut terus merenggut bukan sebagai kewajaran, tetapi dalam skala besar dan 
massal akibat bencana dan musibah. 

Negeri maut 

Tahun 2004, gempa dan tsunami di Nanggroe Aceh Darussalam menewaskan hampir 
200.000 orang. Ratusan ribu hektar sawah lumat. Ribuan sekolah, masjid, rumah 
penduduk, dan rumah sakit rata tanah. 

Tahun 2005, gempa 8,7 skala Richter menimpa Pulau Nias menyusul gempa empat 
bulan sebelumnya. Ratusan warga tewas. Tahun 2006, gempa menimpa Yogyakarta dan 
Jawa Tengah. Lebih dari 5.000 warga direnggut maut. Lebih dari 100.000 rumah 
warga ringsek. 

Tahun 2007, bencana tanah longsor di Manggarai, Nusa Tenggara Timur, merenggut 
puluhan orang. Disusul gempa di Sumatera Barat, yang menewaskan sedikitnya 70 
orang. 

Maut bukan hanya melalui bencana alam, tetapi juga kecelakaan lalu lintas di 
darat, laut, dan udara. Belum hilang trauma akibat musibah di laut yang terjadi 
akhir tahun 2006 dan awal tahun 2007, kita dientak terbakar (dan tenggelamnya 
bangkai) KMP Levina I, yang merenggut belasan orang. Sebelumnya, KMP Senopati 
merenggut puluhan jiwa. 

Duka akibat kecelakaan dan hilangnya AdamAir pada awal 2007 belum sirna, kita 
diguncang musibah Garuda yang menghanguskan 21 orang di Yogyakarta (7/3). 

Setiap bencana dan musibah terjadi, puluhan orang serentak direnggut maut. Maut 
yang merenggut jiwa manusia seketika dalam jumlah yang "fantastik", bagi kita 
bukan hal baru. Maut merenggut bukan hanya karena bencana dan musibah 
kecelakaan, tetapi juga karena kekerasan dan kesewenang-wenangan. 

Kita mencatat, dalam rentang lima tahun, 1998-2003, di masa transisi demokrasi 
pada era reformasi, maut merenggut 12.651 orang mulai dari Sabang (Aceh) hingga 
Merauke (Papua). 

Jumlah angka maut itu menegaskan, betapa kita sebenarnya hidup di negeri maut. 
Maut merenggut karena bencana, musibah, maupun kekerasan! Maut terjadi karena 
faktor alam (bencana) maupun faktor manusia (musibah dan kekerasan). Data maut 
yang merenggut jiwa rakyat akibat kekerasan dan kesewenangan masih dapat 
dilengkapi dengan jumlah korban rezim Orde Baru terhadap mereka yang mendapat 
stigma PKI dan harus "dihabisi"! 

Hargai kehidupan 

Fenomena maut yang dengan mudah merenggut masyarakat warga (civil society) 
menantang kita semua, terutama elite politik dan pemerintahan negeri ini, untuk 
memikirkan strategi mengubah ancaman maut menjadi budaya menghargai kehidupan. 
Strategi ini dapat ditempuh minimal melalui dua cara. 

Pertama, kian kita sadari, betapa kita tidak hanya hidup dalam Ring of Fire 
(Lingkaran Api geografis) yang sewaktu- waktu dapat mendatangkan bencana, 
khususnya gempa dalam skala besar. Kesadaran ini mestinya mendorong pemerintah 
membuat berbagai persiapan yang diperlukan dalam menghadapi bencana agar bila 
bencana terjadi, pemerintah dapat bereaksi cepat, tanggap, efisien, dan efektif 
demi keselamatan rakyat. 

Persiapan menghadapi bencana alam tidak hanya sebatas konsientisasi 
(penyadaran) terhadap warga, tetapi juga antisipasi dana melalui RAPBN. Dengan 
demikian, seperti kerap kita dengar, tidak perlu ada alasan pemerintah 
kehabisan dana untuk mereka yang tertimpa bencana. Juga tidak perlu terjadi, 
pemerintah "ingkar janji" memberikan santunan kepada rakyat yang tertimpa 
bencana. 

Kedua, mencermati bahwa musibah alam yang terjadi kerap kali disebabkan oleh 
faktor manusia, maka pemerintah perlu bertindak tegas terhadap oknum personal 
maupun institusional yang sewenang-wenang merusak alam demi kepentingan 
ekonomis pribadi maupun kelompok. 

Untuk menunjang upaya ini, kepada seluruh masyarakat perlu diserukan pentingnya 
menjaga dan meningkatkan keutuhan alam ciptaan. Sebagaimana ditengarai oleh Jay 
B McDainel dalam Earth, Sky, Gods and Mortals, Developing an Ecological 
Spirituality, kita perlu peka menangkap tanda-tanda alam. Manusia tidak akan 
memiliki masa depan tanpa mendengarkan suara alam. Dengan mendengarkan 
tanda-tanda alam, kita mulai menghargai masa depan kehidupan. 

Ketiga, terkait maut yang merenggut akibat kekerasan, kita semua secara lintas 
agama perlu kian saling bersatu untuk menjadikan republik ini sebagai republik 
yang beradab dan berperikemanusiaan. 

Dengan cara-cara itulah, kita dapat mewujudkan damai sejahtera meski kita hidup 
di negeri maut! 

Aloys Budi Purnomo Rohaniwan; Pemimpin Redaksi Majalah INSPIRASI, Lentera yang 
Membebaskan, Semarang 

Kirim email ke