KOMPAS
 Jumat, 09 Maret 2007 

  
Musibah dan Pariwisata Indonesia 


AB Susanto 

Hampir serentak bencana menerpa, longsor di Manggarai, gempa di Sumatera Barat, 
kecelakaan pesawat Garuda di Yogyakarta. Daerah-daerah itu boleh dikata sebagai 
tujuan wisata. Adakah bencana beruntun itu memengaruhi pariwisata Indonesia 
meski bukan untuk menjadi kambing hitam? 

Keadaan ini justru menjadi pelajaran berharga untuk mengantisipasinya. Kegiatan 
strategis public relation untuk luar negeri harus digalakkan. Apalagi sebagian 
korban pesawat Garuda adalah warga Australia dan Jepang yang merupakan pasar 
tradisional pariwisata kita. 

Menurut Badan Pusat Statistik, selama 2006, kunjungan wisatawan ke Indonesia 
turun 2,61 persen menjadi 4,87 juta dibanding tahun sebelumnya. Pemasukan juga 
turun 2,22 persen menjadi 4,4 miliar dollar AS. Sementara Malaysia justru 
mengalami pertumbuhan 6,8 persen dengan menerima 17,54 juta kunjungan dan 
kenaikan pendapatan 13 persen. Singapura menerima 8,1 miliar dollar AS dari 9,7 
juta kunjungan. Tahun ini Singapura menargetkan 10,2 juta kunjungan, bahkan 
tahun 2015 targetnya 17 juta kunjungan. Sementara untuk 2007 Departemen 
Kebudayaan dan Pariwisata (Depbudpar) menargetkan 6 juta kunjungan. 

Struktur mengikuti strategi 

Upaya yang dikaji Depbudpar di antaranya membentuk Badan Pariwisata Indonesia 
atau Badan Promosi Pariwisata Indonesia yang berarti berbicara mengenai 
struktur organisasi. Saat berbicara mengenai struktur, kita harus membahas 
strategi. Structure follow strategy. Bagaimanakah strategi pariwisata kita? 
Kita simak strategi Singapura yang memakai Badan Pariwisata dan Malaysia yang 
memakai Badan Promosi Pariwisata. 

Badan Pariwisata Singapura dibentuk untuk mengembangkan pariwisata sekaligus 
sebagai key driver ekonomi. Terlahir dengan nama Badan Promosi Pariwisata 
Singapura untuk mengoordinasikan hotel, maskapai penerbangan, dan biro 
perjalanan dalam mempromosikan gambaran keseluruhan dari sebuah destinasi. 
Tahun 1997 menjadi Singapore Tourism Board sebagai refleksi dari perannya yang 
lebih luas. Enam tahun kemudian mereorganisasi strukturnya dengan pembentukan 
delapan unit pariwisata strategis. 

Singapura memang cerdik, dan strategi mereka berhasil. Berdasar International 
Congress and Convention Association, tahun 2006 Singapura menempati peringkat 
kedua tuan rumah 125 konferensi, sedikit di bawah Vienna (129 konferensi). Dan 
Singapura berambisi jadi nomor satu. Badan Pariwisata Singapura menyediakan 
dana besar untuk mendorong perkembangan industri BTMICE (Business Travel, 
Meetings, Incentive Travel, Conventions, and Exhibitions). Mereka meningkatkan 
program pemasaran global agar Singapura menjadi tujuan utama BTMICE dan terus 
menambah fasilitasnya. 

Cetak biru strategis Badan Pariwisata Singapura tahun 2015 menjadikan BTMICE 
sebagai pendorong utama pertumbuhan pariwisata. Tahun lalu, 26 persen kunjungan 
wisatawan terkait BTMICE dan kontribusinya mencapai 30 persen penerimaan 
pariwisata, yang akan ditingkatkan jadi 55 persen tahun 2015. 

Jika mencermati langkah- langkah Singapura, awalnya mereka lebih menekankan 
pemasaran fasilitas melalui Badan Promosi Pariwisata. Sejak menjadi Badan 
Pariwisata Singapura, mereka mendapat kewenangan melakukan strategic turn 
arround dengan merevitalisasi "wisata tradisional" dan memperluas cakupannya, 
terutama BTMICE, bahkan kesehatan dan pendidikan. Pemikiran yang jeli. 

Di negara seluas Singapura, jika sekadar jalan-jalan dan melihat atraksi 
wisata, berapa lama wisatawan akan tinggal dan kembali lagi? Dengan sekitar 
7.000 perusahaan multinasional yang berkantor di Singapura, tepat menjadikan 
BTMICE sebagai tulang punggung pariwisata. 

Malaysia sukses menangguk wisatawan karena lebih menekankan wisata 
"tradisional" dan memakai "kendaraan" Badan Promosi Pariwisata. Misinya 
memasarkan Malaysia sebagai destinasi wisata unggul dan menjadikan sebagai 
kontributor utama pembangunan sosial-ekonomi. Tujuannya, menimbulkan kesadaran 
tentang budaya, atraksi, dan "keajaiban yang unik" Malaysia. Sasarannya 
meningkatkan kunjungan wisatawan dan memperpanjang waktu tinggal. Sederhana, 
tetapi efektif. Tiga perempat wisatawannya berasal dari Singapura, Thailand, 
Indonesia, dan Brunei Darussalam! 

Bagaimana dengan kita? Jika ditelusuri, masalah yang mendesak adalah menurunnya 
kunjungan. Artinya, "pekerjaan rumah" yang utama adalah memanfaatkan "kapasitas 
terpasang". Tingkat hunian banyak hotel rendah. Kehadiran Badan Promosi 
Pariwisata Indonesia yang lebih fokus pada kegiatan pemasaran berdampak lebih 
nyata, termasuk menghadapi kasus-kasus bencana di Sumbar dan Yogyakarta. 
Kegiatan lain dipegang Depbudpar. Di masa datang, ketika "kapasitas terpasang" 
termanfaatkan, dikaji perlunya Badan Pariwisata Indonesia. 

Kita tidak perlu wacana yang canggih, tetapi minim aksi. Kita dapat berpikir 
sederhana seperti Malaysia, tetapi diikuti aksi nyata. Misalnya bisa memulai 
dari "wisatawan tradisional", seperti Australia dan Singapura. Sebagai 
perbandingan sekitar 9,6 juta kunjungan ke Malaysia berasal dari Singapura. 
Bukankah ini mirip Singapura-Batam dan Australia- Bali? 

Biaya lebih kecil, hasil besar 

Investasi dan ekspor yang didengungkan hanya meningkat gradual, dengan upaya 
dan biaya besar. Sementara pariwisata, dengan upaya dan biaya lebih kecil akan 
memberi hasil besar. Hasil studi UNDP bersama USAID meneguhkan, pariwisata 
merupakan sektor unggulan perekonomian Indonesia dengan multiplier effect 
terbesar. Pariwisata harus menjadi pilar ekonomi, seperti tetangga. Kesempatan 
kerja yang tercipta akan mengurangi pengangguran. Diperkirakan pada 2020 
perjalanan wisata dunia mencapai 1,6 miliar orang, 438 juta orang di antaranya 
akan ke kawasan Asia Pasifik. Prospek yang menantang bagi kepariwisataan 
Indonesia dan berbenah untuk menyongsongnya. 

Terlepas dari musibah yang terjadi, potensi pariwisata Indonesia amat besar, 
dengan keanekaragaman sumber daya alam dan budaya. Negara dengan 17.500 pulau 
dan 81.000 kilometer garis pantai amat potensial jadi wisata bahari. Semua 
mendukung keunikan dan keunggulan kompetitif pariwisata Indonesia. 

Dengan potensi ini, titik berat pengembangan pariwisata kita adalah wisata 
"tradisional". Fokusnya, menarik wisatawan liburan dan penikmat atraksi wisata. 
Meski demikian, kita tetap membenahi industri BTMICE. Strategi kita akan lebih 
mirip Malaysia daripada Singapura. 

AB Susanto Managing Partner The Jakarta Consulting Group, Pemerhati Manajemen 
Pariwisata 

Kirim email ke