DL - Kebaktian Natal di Jakarta setiap tahun harus dijaga belasan ribu polisi, 
barisan pemuda dan metal detector. Perayaan Nyepi di Bali pun mesti dikawal 
7400 polisi. Dan itu semua terjadi di negara yang hampir 100% penduduknya 
beragama. Di Belanda, penduduk yang beragama tinggal (barangkali) 60%, tapi 
merayakan Idul Fitri bisa dengan gembira 'tuh. What's wrong with (the people 
of) Indonesia? :-(.

Pertanyaan teknis: copy paste artikel koran (Suara Pembaruan) untuk dikirim ke 
beberapa milis (Kincir Angin, Media Care, PMKRI Petojo)seperti saya lakukan 
sekarang ini, apakah melanggar tata krama jurnalistik? Mohon pendapat pakar 
media, terima kasih sebelumnya.


SUARA PEMBARUAN DAILY 
--------------------------------------------------------------------------------

7.400 Polisi Siap Amankan Nyepi di Bali
[DENPASAR] Sebanyak 7.400 polisi siap mengamankan Nyepi di Bali dan pawai 
ogoh-ogoh yang melibatkan massa sehingga berpotensi terjadi keributan. Selain 
menyiapkan tim berkekuatan sekitar 7.000 personel, masih ada 400 anggota Brimob 
yang stand by di markas. Kesepakatan antardesa pakraman diyakini mampu mencegah 
keributan di lapangan. 

"Polri lebih banyak siaga di markas, menunggu komando operasi jika terjadi 
keributan. Fungsi pecalang diefektifkan, namun tetap kita back up untuk 
mencegah tindakan anarkis," tegas Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Bali Irjen 
Pol Paulus Purwoko pada acara tatap muka dengan para wartawan, di Denpasar, 
Rabu (7/3). 

Sistem pengamanan yang menerjunkan kekuatan penuh di lapangan dinilai kurang 
efisien. Kehadiran polisi terlalu berlebihan di tengah-tengah masyarakat juga 
terkesan mengganggu kegiatan ritual. Pola yang diterapkan Kapolda, mengandalkan 
kekuatan intelijen dan menyiagakan pasukan di markas. 'Petugas di lapangan 
secukupnya, sementara kekuatan di markas bisa diterjunkan tiap saat, tambahnya. 

Upaya yang dilakukan Polri menjaga Kamtibmas saat Nyepi 2007 bukan hanya 
mengandalkan kekuatan 7.000 personel plus dua kompi pasukan Brimob. Polda 
justru sudah membahas pengamanan pawai ogoh-ogoh bersama instansi terkait, 
seperti Majelis desa pakraman, Kanwil Agama, Forum Komunikasi Umat Beragama 
(FKUB), para pemangku, Muspida Denpasar, Badung, dan seluruh Bali. 

Ada lima kesepakatan yang dihasilkan terkait perayaan Nyepi 2007 yang jatuh 
pada tanggal 19 Maret mendatang, antara lain pengusungan ogoh-ogoh agar 
dilakukan di desa pakraman masing-masing. 

"Jika ada yang ingin pawai ogoh-ogoh keluar dari wilayah desa pakraman, agar 
berkoordinasi dengan desa pakraman yang dilalui," ucapnya. 

Mengantisipasi perayaan Nyepi, pihaknya memerintahkan seluruh jajarannya untuk 
melakukan operasi pemberantasan minuman keras (miras) sampai ke pelosok desa. 
Peredaran miras, khususnya miras lokal jenis arak banyak dikonsumsi anak-anak 
muda dan dikhawatirkan mereka akan meminumnya saat terjadi pawai ogoh-ogoh. 

"Kami berharap dan mengimbau supaya generasi muda di Bali jangan mabuk-mabukan. 
Apalagi hal itu dilarang agama," katanya. 

Kepala Kepolisian Kota Besar (Kapoltabes) Denpasar Kombes Pol Ari Dono Sukmanto 
mengaku telah mensosialisasikan pola pengamanan pawai ogoh- ogoh. Wilayah 
Denpasar dibagi beberapa titik, seperti Kuta, Kuta Selatan, Sanur, dan kota. 
Kekuatan polisi yang diterjunkan hanya mem-back up pengamanan yang dilakukan 
satuan pecalang. Sudah ada 150 ogoh-ogoh yang terdaftar. [137] 



--------------------------------------------------------------------------------
Last modified: 9/3/07 

Kirim email ke