[EMAIL PROTECTED]
  created by : Arief & Ira
   
  

  Pengantar :
  Isu kemungkinan adanya soal reshuffle kabinet mungkin sudah basi dan 
terlupakan. Itu Cuma “guyonan” dari partai non-pemerintah yang justru ketika 
mereka berkuasa malah tidak mengerjakan apa yang mereka sarankan sendiri. 
Berhubung baru saja beberapa hari yang lalu diselenggarakan “Academy Awards” 
untuk insan perfilman Amerika, kita jadi punya ide bagaimana kalau “acting” 
para menteri di layar program berita televise nasional kita berikan apresiasi. 
Penilaiannya mungkin bersifat subyektif, tiap orang punya opini yang berbeda2 
untuk kategori maupun nominasi menteri yang “layak” diberi penghargaan atas 
bagusnya “acting” mereka dalam media pers yang kita lihat, dengar, dan simak. 
  Tulisan dibawah ini hanya just joking saja loh, tapi kalau Panasonic Awards 
berminat membuat polling soal nggak mutu begini, kita dukung banget dech ! 
Bosen liat artis maupun selebritis yang menang tiap tahun dia lagi dia lagi. 
Berikut 3 gelar yang diberikan sebagai contoh kasusnya, mungkin ada pembaca 
yang berminat menambahkan ? Buruan juga kirim sms polling-nya ke presiden, yach 
!
  Note : artikel ini terdiri dari 2 edisi yang dibagikan secara komplet di 
milis [EMAIL PROTECTED] makanya gabung aza biar nggak ketinggalan.
  …….
  

  

  # Gelar menteri tersial ( katro )
  Nominasinya adalah :
  

  Menteri perhubungan. Mengapa kecelakaan transportasi begitu bertubi-tubi saat 
dijabat Hatta Radjasa ? Apakah itu berarti dia tidak “berjodoh” dengan posisi 
tersebut ? Sempat ada guyonan bahwa siapapun yang bisa menangani simpul 
kemacetan di Jakarta, kayaknya dia layak jadi menteri perhubungan. Kalo gitu 
kami mendukung Sutiyoso ? Tidak juga, busway okelah tapi ketika penangangan 
soal banjir, boleh dibilang reaksi tanggap daruratnya dianggap serius saat 
saling lempar tanggungjawab untuk urusan buka pintu air Manggarai.
  

  Menteri kesehatan. Kasus yang paling menyedot perhatian pastinya flu burung, 
disamping tentunya ada juga kasus demam berdarah, diare, sampai gizi buruk. 
Soal harga obat yang masih tak terjangkau warga miskin dan akses rumah sakit 
hanya untuk kalangan yang bisa nyetor uang muka jutaan rupiah masih menjadi 
momok. Tentang rumah sakit, fungsi sosialnya nampak sudah tergantikan dengan 
fungsi bisnis, dengan alasan investasi alat2 kesehatan khan mahal. Belum lagi 
sekarang rata2 tampang dokter bukan sebagai pelayan masyarakat, tetapi sebagai 
“preman” medis, pasien tak mau bayar, silakan cek dokter sebelah.
  

  Menteri pendidikan. 20% APBN untuk pendidikan yang diamanatkan oleh UUD masih 
juga belum tercapai, sementara negara2 tetangga begitu giatnya “mengeruk” warga 
Indonesia dengan tawaran beasiswa dan kesempatan melangkah jenjang pendidikan 
yang nyaris tak terbatas. Sekolah2 masih banyak yg ambruk, kondisinya 
memprihatinkan. Tiap tahun selalu terjadi kasus pungli lewat pos yang namanya 
“sumbangan bangunan”, ditambah lagi dengan urusan buku yang terus berganti. 
Juga dilemma Ujian Negara dengan patokan angka kelulusan yang meningkat setiap 
tahun. Layakkah kelulusan dihargai oleh 3 mata pelajaran saja, sedangkan tidak 
semua siswa “pakar” dalam ketiganya ? Mungkin para menteri perlu ikut UN juga ? 
  

  

  !!! Gelar menteri ternyebelin (kutukupret) & menteri terlucu ('ndeso)
  Bersambung di part 2 …
  

  

  

  &&&
  Untuk bergabung / berlangganan, silakan kirim email kosong via : [EMAIL 
PROTECTED]
  Saran, masukan, ide, kritik, maupun opini anda, mohon dilayangkan via japri 
ke : [EMAIL PROTECTED]
  Terima kasih. 
  

  


 
---------------------------------
Expecting? Get great news right away with email Auto-Check.
Try the Yahoo! Mail Beta.

Kirim email ke