Gampang kok, untuk belajar resep Danny (dan mungkin Debby) tinggal 
datang ke Belanda dan belajar bagaimana orang Belanda ber-kebebasan 
beragama, ber-kemanusiaan, ber-kebangsaan, ber-kedaulatan rakyat dan 
ber-keadilan sosial. Bila ada keadilan, maka rakyat akan takut 
hukum, dus polisi cukup 200 orang saja yang menjaga-jaga lah yau. 
Polisi perlu juga sih berjaga-jaga, kalau ada yang semaput atau 
dompetnya dijambret, ya polisi akan turun tangan, namun di Belanda 
sini semua tindakan kriminilitas terbatas tuh.

Di Den Haag setiap tahun ada Parkpop gratis, tampil grup-grup band 
top, yang datang ratusan ribu remaja bukan dari satu agama tapi 
betul-betul majemuk. Lalu ada Pinkpop persis di hari Pinksteren, 
meski pun karcisnya bayar tapi yang datang juga ratusan ribu, ingin 
melihat grup-grup band pujaan mereka. Apa yang dilakukan polisi? 
Cuma terlihat ada puluhan polisi di pintu-pintu masuk, memeriksa tas 
pengunjung. Bir, ganja apalagi pisau pasti akan disita oleh polisi. 
Setiap tahun begitu kagak ada kerusuhan berarti 'tuh. Ada sih 
beberapa orang yang tertangkap, itu pun bukan karena berkelahi tapi 
karena kencing di bawah pohon, bukan di WC yang disediakan. He he.

Begitulah rekans, mengunggulkan pengawalan polisi menurut saya 
sebuah tindakan destruktif, tidak bagus buat kemajuan bangsa di masa 
depan. Remaja Indonesia mesti diajari/diperlihatkan bahwa kerukunan 
nasional BUKAN harus dicapai oleh pengerahan personil polisi besar-
besaran. Remaja yang melihat segala sesuatunya di Indonesia harus 
digacol oleh kekerasan polisi, justru akan trauma dan membekas di 
benaknya bahwa perdamaian di Indonesia mustahil terjadi tanpa 
polisi/tentara.

Tentu saja setiap negara merdeka, merdeka mengatur negaranya sendiri-
sendiri, termasuk Indonesia. Kitorang yang di LN cuma men-sharing-
kan apa yang kitorang lihat di LN dan bagaimana solusinya. Didengar 
atau tidak oleh anda-anda di Indonesia, ya kitorang EGP saja, bukan 
begitu? Ihik ihik .... :-).

Salam hangat, Danny Lim, Nederland

--- In [email protected], BeachBoy BaliAsli 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Memang pemikiran2 negatif dan trauma2 serta pengalaman2 masa lalu 
yang buruk dalam hidupnya terhadap seseorang seperti Debby dan 
Danny, akan menciptakan phobia2 berlebihan dan sangkaan2 negatifisme 
berlebihan terhadap sesuatu dan seseorang
> Kasian dan prihatin sekali melihat kondisi mereka berdua 
ini...hidup penuh kebencian dan ketakutan
> 
> Mungkin duet Debby doll dan Danny boy ini bisa menjelaskan kepada 
kami2 ini di Bali, metode pengamanan yang bagaimana yang harus 
dilakukan terhadap kumpulan ribuan manusia di sebuah tempat/event?
> Berapa kalikah anda melihat event seperti ini di Bali atau tempat 
lainnya?
> Apanyakah yang salah terhadap metode/cara pengamanan ini? 
Memalukankah dengan memberikan pengamanan dan melakukan tindakan 
antisipatif terhadap sesuatu dan seseorang?
> Hal yang bagaimana yang tidak memalukan?
> Yang ngga tau adat itu yang gimana sih?
> Manusia yang manusiawi yang gimana sih?
> 
> Danny Lim bilang perayaan idul fitri di negri londo sono penuh 
dengan kegembiraan, la...apakah anda tahu kalo kami di Bali gembira 
kok merayakan hari raya Nyepi atau perayaan parade sehari sebelumnya?
> 
> Pemikiran dari dua orang ini kok ya menjlimet dan membingungkan, 
saya heran apa ya pemikiran kotor penuh prasangka saja yang ada 
dalam kepala mereka?
> 
> Ato memang mereka punya pemikiran dan ide yang lebih jitu dalam 
melakukan sesuatu??? Let's see...
> 
> beachboy
> 
> ----- Original Message ----
> From: Debbie Sumual-Patlis <[EMAIL PROTECTED]>
> To: [email protected]
> Sent: Friday, March 9, 2007 8:10:13 PM
> Subject: Re: [mediacare] 7.400 Polisi Siap Amankan Nyepi di Bali
> 
> BETUL!
> Ini sangat memalukan, betapa tidak amannya kita beribadah di 
Indonesia, bangsa yang mengaku beragama dan mengagung-agungkan sopan-
santun sebagai adat ketimuran--padahal sih nggak tau adat. Terus 
terang gue MUNTAH tiap kali ada yang ngomong: Kita kan orang 
timur... Biasa aja deh, mendingan kita jadi orang yang MANUSIA dan 
MANUSIAWI, gak usah ribut dengan agama.
> 
> Seperti kata Gus Dur: TUHAN KOK DIBELA...
> 
> Mas, melanggar kode etik jurnalistik kalau seandainya Anda 
ngomong: ini artikel saya. Ini kan enggak. Lagian, milis ini --
walopun publik space-- tapi bukan media massa. Atau Anda hanya 
sedang sarkastik? :)
> 
> 
> ---- Original Message -----
> From: Danny Lim
> To: KincirAngin
> Cc: PMKRI Petojo ; Media Care
> Sent: Friday, March 09, 2007 3:15 AM
> Subject: [mediacare] 7.400 Polisi Siap Amankan Nyepi di Bali
> 
> 
> DL - Kebaktian Natal di Jakarta setiap tahun harus dijaga belasan 
ribu polisi, barisan pemuda dan metal detector. Perayaan Nyepi di 
Bali pun mesti dikawal 7400 polisi. Dan itu semua terjadi di negara 
yang hampir 100% penduduknya beragama. Di Belanda, penduduk yang 
beragama tinggal (barangkali) 60%, tapi merayakan Idul Fitri bisa 
dengan gembira 'tuh. What's wrong with (the people of) Indonesia? :-
(.
> 
> Pertanyaan teknis: copy paste artikel koran (Suara Pembaruan) 
untuk dikirim ke beberapa milis (Kincir Angin, Media Care, PMKRI 
Petojo)seperti saya lakukan sekarang ini, apakah melanggar tata 
krama jurnalistik? Mohon pendapat pakar media, terima kasih 
sebelumnya.
> 
> 
> SUARA PEMBARUAN DAILY
>


Kirim email ke