http://www.harianbatampos.com/index.php?option=com_content&task=view&id=15354&Itemid=75


      Kambing Hitam      
      Sabtu, 10 Maret 2007  
      Oleh: M Rusli*)

       
      Tulisan di bawah ini tidak bermaksud menguraikan ana tomi seekor kambing 
berwana hitam. Atau mengangkat kenikmatan sate  ari kambing berwarna hitam.  
Judul ini  saya angkat   dalam rangka memberikan pilihan kepada pembaca yang 
suka mencari kesalahan pada orang lain, lingkungan atau sistem. Kalau pembaca 
punya waktu luangkanlah waktunya untuk membaca artikel ini.  Saya ingin 
mengawali perhatian pembaca dengan menggiring kepada kebiasaan menonton  TV.   
Melalui layar kaca televisi   dan media cetak serta percakapan sehari-hari di 
lingkungan kita  sering dipertontonkan kisah, cerita atau adegan "Kambing 
Hitam." Seperti kisah di bawah ini.  


      Pada awal tahun 2007 pesawat komersial Adam Air  hilang. Musibah  
hilangnya bersamaan dengan  cuaca yang buruk.  Cuaca buruk dijadikan kambing 
hitam.


      Agus lulusan sekolah SMA, mendaftar  ke sebuah perusahaan swasta. Saat 
pengumuman namanya tidak tertera di list  karyawan yang lulus, Agus kecewa.  Di 
antara nama yang lulus termuat tertera nama Amir, sahabat Agus. Amir mempunyai 
kakak yang juga manajer HRD di perusahaan tempat Agus melamar kerja.  Agus  
bilang ke Amir,  "pantas kamu diteima  bekerja Mir, kakakmu kan  manajer HRD di 
perusahaan ini!" Kambing hitamnya adalah Agus tidak mempunyai Kakak Manajer HRD.


      Pada kesempatan lain  seorang pelajar tidak naik kelas. Sang murid dengan 
kesal  menyalahkan gurunya. Ah dasar guru brengsek, umpat sang siswa. Guru 
menjadi kambing hitam.
      Saat melintas di jalan  depan Bukit Sentosa  (jalur Tanjungpiayu -Muka 
Kuning) terjadi banjir  lumpur, para pejalan kaki  secara berjamaah  mengeluh. 
Banjir ini terjadi  karena  hutan di sekitar Bukit Kemuning telah rusak demi 
kepentingan  pembangunan perumahan. Beberapa orang pemakai jalan  menyalahkan 
pengembang. Pengembang sebagai Kambing Hitam.


      Ketika  keseblasan  Sepak Bola Indonesia  kalah dalam pertandingan  
dengan negara lain. Kambing hitam adalah kepemimpinan wasit yang tidak becus. 
Atau honor yang kurang.


      Seorang sahabat yang rutin bermain bola di lapangan  Bola Community 
Center saat pertandingan persahabatan. Usai pertandingan persahabatan  
kesebelasannya kalah 5 kosong. Sang kawan lalu mengkambing hitamkan sepatunya.
      Begitu sering kita mendengar keluhan  yang terlontar  dari seseorang   
yang merasa  gagal. Penyebab kegagalan tersebut dialamatkan kepada orang lain, 
sistem atau lingkungan. Misalnya gagal mendapatkan pekerjaan lalu yang 
dipersalahkan adalah sanga manager personalia. Gagal ujian sekolah yang 
dipersalahkan adalah guru.  Jalan raya banjir dan berlumpur  yang disalahkan 
pengembang, atau pemerintah.  Tidak naik jabatan yang dipersalahkan adalah 
atasan.


      Gagal,  lalu menyalahkan  orang lain atau lingkungan atau sistem, begitu 
mudah  keluar dari mulut manusia. Begitu mudah diperbincangkan. Begitu mudah 
mencari kambing  hitam. Begitu gampang  melempar tanggung jawab. Budaya 
menyalahkan orang lain, menyalahkan lingkungan atau sistem di negeri ini 
semakin subur  karena dipupuk oleh pemimpin dan rakyatnya.


      Lalu kalau dibalik, tanpa mencari kambing hitam.  Ternyata  banyak  kisah 
sukses yang bisa berhasil mencapai cita-citanya   meski dengan keterbatasan.


      Ada orang yang berhasil meraih gelar sarjana meski anak yatim piatu. Ada  
banyak orang yang  diterima  bekerja karena tidak punya  koneksi dengan orang 
dalam. Ada orang yang naik pangkat dengan mudah meski atasannya  galak. 
Beberapa negara Afrika bisa  berjaya  di dalam pentas sepak bola dunia meski 
negera  mereka lebih miskin dibanding  bangsa Indonesia yang kaya sumber daya 
alam ini.  


      So  What,  kalau mau maju sudah saatnya tidak mencari kambing hitam. 
Menyalahkan sistem, menyalahkan orang lain. Kegagalan hanya bisa diatasi dengan 
solusi (kerja keras, belajar keras dan doa)
      Ian Pavlov seorang Psikolog yang mengembangkan Teori Determinisme.  Ia  
membagi menjadi tiga. Determinisme  Genetik, Determinisme Phisik, dan 
Determinisme  Lingkungan. 


      Determinisme Genetik maksudnya adalah perilaku seseorang  ditentukan  
oleh faktor keturunan. Kalau orang tuanya  hebat maka anaknya otomatis juga 
menjadi hebat. Bahwasanya kakek-nenek andalah yang  membawa sifat,  kalau 
kekek-nenek anda suka marah, itulah sebabnya anda punya tabiat seperti itu.  
Kakek-nenek anda membawa DNA tersebut.


      Determinisme  Pshisik maksudnya perilaku seseorang ditentukan oleh  pola 
asuh dari orang tua sejak kecil hingga besar. Pengasuhan anda, pengalaman masa 
kanak-kanak pada  dasarnya membentuk  kecendrungan pribadi dan susunan karakter 
anda.


      Determinisme Lingkungan maksudnya adalah  perilaku seseorang ditentukan 
oleh  lingkungan. Seseorang atau sesuatu di lingkungan anda bettanggungjawab 
atas situasi anda.


      Terori Determinisme  dari Ian Pavlov di dasarkan pada penelitian pada 
binatang.  Teori di atas oleh Steven Covey dalam bukunya 7 Kebiasaan Efektif 
Manusia  diperbaharui. Covey mengatakan bahwa   seseorang mengambil sebuah 
tindakan  (inisiatif) dan ia bertanggung jawab dengan  tindakannya.  Inisiatif  
dan mengambil tanggung jawab.  Atau biasa juga disebut proaktif. 


      Dasar pemikiran proaktif  adalah  teori S dan R   dari  Teori  
Determinisme-nya  Ian Pavlov. Pada teori Stimulus dan Respon  Ian Pavlov, 
dimana  antara Stimulus dan  Respon  tidak ada jarak  atau ruang untuk memilih. 
 Menurut  Covey  justru berkata lain,  antara Stimulus dan Respon ada jarak 
atau ruang  yang berisi pilihan, inisiatif, suara hati, Kesadaran diri, 
kehendak bebas. 


      Covey  mengembangkan  teoari Proaktif  berdasarkan pengalaman Viktor 
Frankl yang  lolos  dari siksaan dari Camp Nazi. Selama dalam Camp Nazi 
beberapa tahanan mengalami penderitaan akhirnya meninggal. Sementara Viktor  
Frankl berusaha untuk menemukan makna hidup. Bahwa  diantara  stimulus  dan 
respon  ada pilihan.  Viktor memilih untuk tetap  optimis  hingga  akhirnya ia 
betul-betul keluar dari penjara dengan selamat, ia bahkan mengiinspirasi para 
sipir penjara bertindak optimis.


      Kembali membahas Kambing Hitam.  Mencari kambing hitam di negeri ini  
mudah ditemui. Ia ada di mana-mana. Ada kantor swasta, di sekolah, di pasar, di 
kantor pemerintah, di rumah, di layar kaca, di koran, di majalah, di masjid, di 
gereja. Mencari kambing hitam adalah sama dengan melepas tanggung jawab. 
Melepas tanggung jawab sama dengan reaktif. Mereka tergantung dan dikendalikan 
lingkungannya.


      Lalu apa jadinya bila kambing hitam dipupuk.  Orang akan bermain silat  
terus alis  menghindar dari tanggung jawab. Orang  akan  terus melemparkan 
persoalan atau masalah pada sistem, orang lain atau lingkungan.  Setelah 
melempar tanggung jawab ke orang lain apakah masalah selesai? Tidak. Masalah 
akan kian subur. Kalau bangsa ini diisi dengan pemimpin  yang bermental kambing 
hitam (reaktif) maka  bangsa ini akan menggali kuburnya sendiri.


      Arah kesana sudah ada di depan mata. Contohnya dapat dilihat setiah hari 
di depan kaca televisi. Bagaimana rajinnya  mahasiswa melakukan  unjuk rasa 
kepada pemerintah atau anggota dewan. Apakah mahasiswa bertanggung jawab dengan 
perbuatannya (inisiatifnya)? Jawabya nol.  Setelah unjuk  rasa ke  pemerintah 
atau ke anggota dewan, sang mahasiswa  dengan  bangganya meninggalkan  
pekerjaan  berat bagi petugas cleaning service.  Petugas cleaning service harus 
bekerja keras  untuk mengumpulkan  sisa alat peraga (Sampah) untuk  berunjuk 
rasa  berupa  poster, karton,  botol plastik air mineral, sampah plastik 
pembungkus makanan.  


      Bahkan  tindakan  sang mahasiswa  tidak hanya tidak bertanggungjawab tapi 
juga anarkis. Contohnya juga sering dipertontonkan di TV, unjuk rasa berakhir 
dengan pengrusakan pagar, kaca bangunan,  pintu gerbang, pengrusakan pot taman 
kota, pengrusakan  meja dan kursi hingga  pembakaran  gedung. Di mana 
tanggungjawabnya. Yang ada hanya kebebasan.


      Kalau  sistem  yang diterapkan  pengunjuk rasa (mahasiswa, buruh, LSM, 
petani, nelayan, guru dan kalangan mana saja di negeri ini yang suka berunjuk 
rasa)  efektif, harusnya frekuensi unjuk rasa berkurang  karena  masalah  dapat 
diselesaikan. Nyatanya semakin banyak  unjuk rasa  dan  demonstasi di negeri  
yang  kaya sumber daya alam ini. Masalah  makin  tumbuh subur. Kenapa itu 
terjadi  jawabnya sederhana, negeri ini dipenuhi penganut aliran kambing 
hitam.***


      * )M Rusli, anggota FLP Batamindo, Staf Redaksi Tabloid Etos
     

Attachment: emailButton.png
Description: PNG image

Kirim email ke