--- In [email protected], [EMAIL PROTECTED] wrote: > > Rekan Hafsah yang baik. > Saya menduga Anda hidup dalam sebuah lingkungan yang diisi oleh banyak > orang yang mengaku bergama islam yang tidak toleran terhadap keragaman > cara pandang.
Saya banyak teman2 Islam Ahmadiah, bahkan almarhum suami saya dulu adalah anggauta jemaah Islam Ahmadiah. Saya pribadi tidak suka kepada Islam Ahmadiah, namun mereka baik2 saja dan toleransinya cukup baik. Justru yang membuat saya marah adalah Islam di Indonesia yang membakari mesjid Ahmadiah dan menjarah umatnya. Memang dalam AlQuran ada ayat yang menyatakan bahwa mereka yang murtad, kafir, dan penyembah berhala halal dibunuh. Inilah ajaran biadab, jadi saya bukan mempermasalahkan umatnya, karena kalo umatnya salah gampang memperbaikinya dengan hukuman, tapi kalo ajarannya sudah salah, maka hukumannyapun lebih salah lagi. Semua tulisan saya tidak ada mengkritik umat Islam melainkan mengkritik ajaran2 Islam yang sudah menjadi pengetahuan umum didunia sebagai agama terorist yang merusak kehidupan semua bangsa didunia ini. Ny. Muslim binti Muskitawati. > Kalau memang benar begitu, saya turut bersimpati dengan Anda. > Tapi tentu Anda juga cukup terbuka untuk memahami bahwa pengalaman Anda > tidak bisa dijadikan rujukan utama untuk menggeneralisasi sikap semua umat > islam di bumi. Apalagi untuk mengambil kesimpulan yang sedemikian > definitif mengenai Islam itu sendiri. > Rekan Hafsah, tentu Anda tahu betapa berkembang sebenarnya tradisi > intelektual dalam sejarah islam selama ini. Sampai saat inipun kita di > indonesia, lazim berdebat tentang dan terus mengkaji banyak hal, termasuk > soal poligami atau bolehkah kawin antar pasangan berbeda agama, atau > bolehkah perempuan menjadi imam shalat, atau bisakah kita menggantikan > kewajiban haji dengan membayar zakat bagi orang yang membutuhkan atau > apakah bunuh diri dalam perang termasuk kategori jihad...dst. > Ini semua mengemuka, karena masing2 pihak memang diizinkan untuk > menyuarakan pendapat, bukan? > Dan apa yang terjadi saat ini adalah sekadar kelanjutan tradisi perbedaan > pendapat yang mencirikan sejarah islam selama berabad-abad. > Beruntunglah kita bahwa umat islam tidak pernah secara berasama-sama > bersepakat bahwa kita harus memberikan otoritas menentukan kebenaran itu > pada sekelompok pemuka agama tertentu saja. > Tentu saja selalu ada gerakan radikal yang mengupayakan penunggalan > penafsiran tersebut; tetapi itu kan hanya ada di sebagian wilayah pada > kurun waktu tertentu saja. > Selebihnya, perbedaan pendapat adalah kelaziman. > > Karena itu, kalau Anda menganggap islam melarang kebebasan berpendapat, > saya yakin Anda salah. > Bahkan dalam ajaran islam, hak untuk tidak dipaksa dalam hal keyakinan > adalah salah satu hak yang secara jelas disebut dalam Alquran. > Konsekuensinya, umat islam bahkan harus menghormati setiap orang yang > percaya bahwa tidak ada Tuhan. > Allah memeng sumber kebenaran, tapi kalau ada orang lain yang tidak > percaya bahwa Allah ada, umat islam harus menghormati keyakinan itu. > Dalam sejarah, tentu saja ada contoh2 penguasa islam yang tidak toleran. > Tapi bukankah sejarah setiap bangsa atau umat memang memiliki wilayah > kelamnya masing2? > > salam > > ade armando > > > Islam Melarang Kebebasan Berpendapat !!! > > Posted by: "Hafsah Salim" [EMAIL PROTECTED] muskitawati > > Date: Sun Mar 11, 2007 8:40 am ((PDT)) > > > > Islam Melarang Kebebasan Berpendapat !!! > > > > Dasar ajaran Islam adalah melarang umatnya berpendapat karena Allah > > sajalah yang memiliki pendapat dimana umatnya hanya menjalaninya > > sebagai kewajiban. Memang umat Islam secara terpimpin dibolehkan > > untuk mengeluarkan pendapat hanya terbatas kepada cara2 bagaimana > > mengimplementasikan kewajiban2 dari pendapat2 Allah itu sendiri. > > > > Misalnya, ada umat Islam berpendapat bahwa shalat harus pakai sajadah, > > tapi umat lain bilang bahwa tanpa sajadah juga shalatnya syah. > > Demikianlah pendapat umat hanya terbatas dalam cara2 > > mengimplementasikan perintah Allah maupun pendapat2 Allah yang bukan > > merupakan pendapat pribadi umat yang bebas tanpa batasan. > > > > Tapi kalo ada pendapat umat yang menganggap Allah itu tidak ada hanya > > merupakan angan2 masa lalu, maka pendapat ini harus diharamkan karena > > dosa, bahkan umat yang berpendapat seperti ini harus dibunuh karena > > merusak akidah islam. > > > > Kebebasan berpendapat yang dibabatasi, tidak pernah dinamakan > > kebebasan berpendapat. KEBEBASAN BERPENDAPAT ARTINYA PENDAPAT YANG > > BEBAS. Perdefinisi, arti "bebas" itu adalah "tidak terbatas". > > > > Lawan kata "bebas" adalah "tidak bebas". Istilah kata "tidak bebas" > > adalah "terbatas" atau "dibatasi". > > > > Disinilah prinsip dasar latihan "critical thinking" yang mencakup > > penggunaan bahasa yang benar bukan memutar balik arti kata itu sendiri > > seperti banyak dilakukan para ulama semua agama2. > > > > > > >
