Karena itulah kita mesti memakai kacamata Belanda, Budi. Ini serius. Bila kita hendak melihat kerusakan hutan, paling bagus naik helikopter melayang di atas hutan itu. Kalau kita berada di dalam hutan dan kebetulan berada di hutan yang tidak terbakar, masih hijau dan burung-burung masih berkicau, ya kita pasti bilang hutan itu bagus kok, mengapa diributkan?
Nyepi harus dijaga 7400 polisi, itu saya sitir dari Suara Pembaruan memakai kacamata Belanda. Lalu beberapa orang Bali plus beberapa orang yang kontra Danny Lim (alias memakai kacamata kuda? Ihik) berkata "Yang dijaga ogoh-ogoh, bukan Nyepi". Namun konteks yang saya bawakan memakai kacamata Belanda itu adalah "mengapa Kebaktian Natal juga mesti dijaga belasan ribu polisi, plus barisan pemuda muslim, plus metal detector?" Ogoh-ogoh menyangkut massa dalam jumlah besar, OK, tapi sebuah gereja 'kan cuma bisa menampung beberapa ratus orang saja. Ogoh-ogoh hiruk-pikuk sehingga kans untuk ribut besar, OK, tapi umat di gereja 'kan duduk tenang khusuk berdoa. Jadi mengapa harus dijaga (again) oleh belasan ribu polisi, barisan pemuda dan metal detector? Nah, ini semua terlihat dari Belanda sini memakai kacamata Belanda, namun tidak terlihat oleh orang di Indonesia yang memakai kacamata kuda. Kira-kira begitulah duduk perkaranya, Budi. Salam hangat, Danny Lim, Nederland --- In [email protected], [EMAIL PROTECTED] wrote: > > Ikutan juga dong.......... > > Menjawab 'tanya kenapa'nya mba Maya, > Sepertinya jawabnya bukan alasan yang diberikan mas Budi, > tapi lebih sebagai bentuk kebebalan yang terus dipelihara oleh > pihak-pihak yang terlalu fanatik dan pakai kacamata kuda...... > sehingga dia tidak melihat sisi positip dari agama lain diluar > agamanya sendiri.............. > kaum fanatik ini bisa berasal dari pemeluk agama manapun > yang ada di Indonesia, sedihnya, sudut pandang kacamata kuda > yang dipakainya menjadikan dirinya susah untuk melihat sisi > lain yang memungkinkannya memahami kebaikan......... > padahal, kebaikan merupakan salah satu syarat dlm beragama...... > > masih banyakkah kaum fanatik di negara kita? > > > salam, > > > > > "Devi" <[EMAIL PROTECTED]> > Sent by: [email protected] > 03/12/2007 05:05 AM > Please respond to > [email protected] > > > To > <[email protected]> > cc > > Subject > Re: [mediacare] SOS ! SOS ! Gereja-Gereja Bandung Diganggu > > > > > > > Ikutan Juga, > > Tidak perlu ijin untuk menghadap Sang Khalik, kecuali ada otoritas yg > lebih tinggi dari Sang Khalik > Kalau alasannya Mayoritas ,bagaimana dengan mesjid di Minahasa, Bali, atau > Flores > > > Dont just see WATCH > Dont just hear LISTEN > ----- Original Message ----- > From: Widi > To: [email protected] > Sent: Sunday, March 11, 2007 12:46 PM > Subject: Re: [mediacare] SOS ! SOS ! Gereja-Gereja Bandung Diganggu > > Ikutan nimbrung .... > Saya bantu alasan-alasan yang menurut mas Budi jadi sebab ditutupnya > gereja-gereja itu, terlepas dari nyambung/tidaknya contoh anak- anak kecil > nakal (kayanya saya pernah baca di bukunya Stephen Covey). > Pasti alasan yang dimaksud mas Budi : > - gereja tsb belum punya ijin > - gereja tsb didirikan di lingkungan yang mayoritas beragama lain > - dsb .... dsb ..... > Gitu kan mas Budi??? > > salam, > wid > > > > On 3/9/07, Maya Sianturi <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Halo Budi, > > Terimakasih untuk ceritanya yang baru kali ini saya dengar. > > Tapi saya pengen tahu apa anda pernah dengar tentang 1000 lebih gereja > dirusak dan dibakar > tanpa sekalipun pelakunya diusut ke pengadilan? Negara komunis aja tidak > pernah merusak > dan membakar sebegitu banyak gereja. TANYA KENAPA? > > Pernah dengar ada mesjid, kuil, klenteng, tempat keramat memerlukan ijin > 13 tahun untuk bisa > dibangun? Gereja saya memerlukan 13 tahun dan banyak gereje ditolak > ijinnya. TANYA KENAPA? > > Banyak cerita lain yang bisa saya ceritakan. Tapi setelah ini lebih baik > saya tutup saja. > > Saya hanya bisa berdoa semoga Tuhan Yesus terus berbelas kasihan. Itu > saja. > > Salam sejahtera, > Maya > > > > On 3/9/07, Budi P <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Halo Maya, > > Pernah dengar cerita dimana ada seorang bapak yang sedang naik kereta, > anak-anaknya bandel sekali lari kesana-kesini namun si bapak diem aja. > Orang disekitar nya bingung, kok bapak ini diam aja ya, kenapa dia gak > negur anaknya. Usut punya usut ternyata istri pria tersebut baru meninggal > dan dia habis dari pemakaman istrinya. > > > So, ada baiknya juga kita melihat alasan penutupan gereja tersebut. > Ada baiknya kita tanya ke masyarakat setempat kenapa gereja tersebut > ditutup. > > > > > On 3/8/07, Maya Sianturi <[EMAIL PROTECTED] > wrote: > > Prihatiin sekali dengan berita di bawah ini ... > > Saya dengar tadi malam juga asrama STT SETIA yang sedang dibangun dibakar > massa. Heran sekali, tempat-tempat yang tidak beres seperti pelacuran, > perjudian, diskotik dll dibiarkan bebas melakukan aktifitas mereka. Tetapi > sekolah teologi, gereja, tempat mengajar umat menjadi pribadi yang > melayani Tuhan dan sesama diteror, dibakar. Dan sampai hari ini tidak > satupun mereka yang membakar gereja di bawa ke meja pengadilan. Sangat > prihatiin dengan kebodohan dan kebebalan negara & bangsa ini yang tidak > mau tahu tentang kebebasan beragama yang dianugerahkan Tuhan. > > Untuk saudaraku seiman - mari kita berdoa terus supaya Tuhan Yesus > berbelas kasih atas bangsa ini dan menunjukkan kebenaran serta > keadilanNya. Kita terus berdoa supaya saudara seiman kita yang mengalami > penganiayaan boleh terus diteguhkan imannya. Dan mari kita terus > memperjuangkan kebebasan beragama yang merupakan hak asasi manusia. > > Untuk saudaraku sebangsa - mari kita upayakan pikiran dan wawasan yang > luas yang dapat menampung keragaman. Kalau bangsa ini ingin maju, kita > harus belajar bersikap adil dan benar. Karena yang saya takutkan, bukan > penindasan terhadap umat Kristen, tetapi cawan murka Tuhan yang siap > dituang atas kebebalan bangsa ini. Jangan-jangan sudah mulai dituangkan > dengan banyaknya bencana dan kecelakaan yang terjadi belakangan ini. > Pembalasan Tuhan jauh lebih mengerikan. Penindasan akan keKristenan hanya > membawa akibat positif bagi keKristenan yaitu: Semakin Berkembang. Sejarah > kekristenan sudah membuktikan hal ini. > > Mari kita semua saudara sebangsa setanah air, belajar saling menghargai > keberbedaan yang ada. Bhinneka Tunggal Ika. > > Merdeka! > MS >
