Rekan Hafsah yang baik.
Argumen Anda bahwa ajaran Islamlah yang menjadi sumber kebiadaban umat
islam yang menyerang Ahmadiyah dan kelompok-kelompok yang berbeda lainnya
sangat bisa dipersoalkan.
Anda memang bisa saja mengutip fakta2 sejarah yang menunjukkan bahwa dalam
banyak kasus, atas nama Islam, sebagian umat islam menjadi kaum yang
sangat jahat terhadap perbedaan keyakinan.
Namun bagaimana Anda bisa menjelaskan bahwa di banyak penggalan sejarah
lainnya, bahkan di masa-masa kejayaan penguasa Islam, toleransi terhadap
perbedaan menjadi ciri kas yang justru dikagumi dunia, sampai sekarang?
Contoh terbaik tentu saja adalah bagaimana penguasa Islam di Spanyol
memperlakukan kaum Kristen dan Yahudi.
Karena itu, saya percaya, yang jadi masalah adalah bagaimana cara kita
mempelajari teks Alquran.
Bila teks Alquran dibaca secara literal, kita memang akan menemukan sebuah
ajaran agama yang barbarik dan hanya pantas dianut di abad-abad sebelum
pencerahan.
Mereka yang menghancurkan kantor-kantor Ahmadiyah di Parung, misalnya,
saya percaya dibutakan oleh cara mereka menafsirkan Islam yang cenderung
sempit.
Kabar baiknya adalah dalam sejarah Islam yang sangat panjang, cara membaca
secara kaku dan taat pada teks itu tidak pernah menjadi cara yang
satu-satunya diyakini benar.
Bahkan sahabat-sahabat Nabi sejak awal sudah berani menafsirkan kembali
teks Alquran, tanpa merasa bahwa dengan demikian mereka mengkhianati
kesucian Alquran.
Begitu juga dengan teks-teks Alquran yang jelas-jelas menyatakan
peperangan terhadap kaum murtad, kafir dan bahkan Yahudi; tentu harus
dibaca dalam konteks historis yang spesifik.
Kalau Anda mau membaca buku-buku Karen Armstrong (betul begini
menulisnya?), saya percaya Anda akan menemukan Islam dalam wajah yang
lain.
Bagaimanapun, untuk menunjukkan apresiasi terhadap setiap perbedaan
pendapat, saya harus menyatakan bahwa saya menghargai pandangan Anda.

Salam

ade armando





>     Posted by: "Hafsah Salim" [EMAIL PROTECTED] muskitawati
>     Date: Mon Mar 12, 2007 5:03 am ((PDT))

> Saya banyak teman2 Islam Ahmadiah, bahkan almarhum suami saya dulu
> adalah anggauta jemaah Islam Ahmadiah.  Saya pribadi tidak suka kepada
> Islam Ahmadiah, namun mereka baik2 saja dan toleransinya cukup baik.
> Justru yang membuat saya marah adalah Islam di Indonesia yang
> membakari mesjid Ahmadiah dan menjarah umatnya.  Memang dalam AlQuran
> ada ayat yang menyatakan bahwa mereka yang murtad, kafir, dan
> penyembah berhala halal dibunuh.
>
> Inilah ajaran biadab, jadi saya bukan mempermasalahkan umatnya, karena
> kalo umatnya salah gampang memperbaikinya dengan hukuman, tapi kalo
> ajarannya sudah salah, maka hukumannyapun lebih salah lagi.
>
> Semua tulisan saya tidak ada mengkritik umat Islam melainkan
> mengkritik ajaran2 Islam yang sudah menjadi pengetahuan umum didunia
> sebagai agama terorist yang merusak kehidupan semua bangsa didunia ini.
>
> Ny. Muslim binti Muskitawati.
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>> Kalau memang benar begitu, saya turut bersimpati dengan Anda.
>> Tapi tentu Anda juga cukup terbuka untuk memahami bahwa pengalaman Anda
>> tidak bisa dijadikan rujukan utama untuk menggeneralisasi sikap
> semua umat
>> islam di bumi. Apalagi untuk mengambil kesimpulan yang sedemikian
>> definitif mengenai Islam itu sendiri.
>> Rekan Hafsah, tentu Anda tahu betapa berkembang sebenarnya tradisi
>> intelektual dalam sejarah islam selama ini. Sampai saat inipun kita di
>> indonesia, lazim berdebat tentang dan terus mengkaji banyak hal,
> termasuk
>> soal poligami atau bolehkah kawin antar pasangan berbeda agama, atau
>> bolehkah perempuan menjadi imam shalat, atau bisakah kita menggantikan
>> kewajiban haji dengan membayar zakat bagi orang yang membutuhkan atau
>> apakah bunuh diri dalam perang termasuk kategori jihad...dst.
>> Ini semua mengemuka, karena masing2 pihak memang diizinkan untuk
>> menyuarakan pendapat, bukan?
>> Dan apa yang terjadi saat ini adalah sekadar kelanjutan tradisi
> perbedaan
>> pendapat yang mencirikan sejarah islam selama berabad-abad.
>> Beruntunglah kita bahwa umat islam tidak pernah secara berasama-sama
>> bersepakat bahwa kita harus memberikan otoritas menentukan kebenaran itu
>> pada sekelompok pemuka agama tertentu saja.
>> Tentu saja selalu ada gerakan radikal yang mengupayakan penunggalan
>> penafsiran tersebut; tetapi itu kan hanya ada di sebagian wilayah pada
>> kurun waktu tertentu saja.
>> Selebihnya, perbedaan pendapat adalah kelaziman.
>>
>> Karena itu, kalau Anda menganggap islam melarang kebebasan berpendapat,
>> saya yakin Anda salah.
>> Bahkan dalam ajaran islam, hak untuk tidak dipaksa dalam hal keyakinan
>> adalah salah satu hak yang secara jelas  disebut dalam Alquran.
>> Konsekuensinya, umat islam bahkan harus menghormati setiap orang yang
>> percaya bahwa tidak ada Tuhan.
>> Allah memeng sumber kebenaran, tapi kalau ada orang lain yang tidak
>> percaya bahwa Allah ada, umat islam harus menghormati keyakinan itu.
>> Dalam sejarah, tentu saja ada contoh2 penguasa islam yang tidak toleran.
>> Tapi bukankah sejarah setiap bangsa atau umat memang memiliki wilayah
>> kelamnya masing2?
>>
>> salam
>>
>> ade armando
>>
>>
>> Islam Melarang Kebebasan Berpendapat !!!
>> >     Posted by: "Hafsah Salim" [EMAIL PROTECTED] muskitawati
>> >     Date: Sun Mar 11, 2007 8:40 am ((PDT))
>> >
>> > Islam Melarang Kebebasan Berpendapat !!!
>> >
>> > Dasar ajaran Islam adalah melarang umatnya berpendapat karena Allah
>> > sajalah yang memiliki pendapat dimana umatnya hanya menjalaninya
>> > sebagai kewajiban.  Memang umat Islam secara terpimpin dibolehkan
>> > untuk mengeluarkan pendapat hanya terbatas kepada cara2 bagaimana
>> > mengimplementasikan kewajiban2 dari pendapat2 Allah itu sendiri.
>> >
>> > Misalnya, ada umat Islam berpendapat bahwa shalat harus pakai sajadah,
>> > tapi umat lain bilang bahwa tanpa sajadah juga shalatnya syah.
>> > Demikianlah pendapat umat hanya terbatas dalam cara2
>> > mengimplementasikan perintah Allah maupun pendapat2 Allah yang bukan
>> > merupakan pendapat pribadi umat yang bebas tanpa batasan.
>> >
>> > Tapi kalo ada pendapat umat yang menganggap Allah itu tidak ada hanya
>> > merupakan angan2 masa lalu, maka pendapat ini harus diharamkan karena
>> > dosa, bahkan umat yang berpendapat seperti ini harus dibunuh karena
>> > merusak akidah islam.
>> >
>> > Kebebasan berpendapat yang dibabatasi, tidak pernah dinamakan
>> > kebebasan berpendapat.  KEBEBASAN BERPENDAPAT ARTINYA PENDAPAT YANG
>> > BEBAS.  Perdefinisi, arti "bebas" itu adalah "tidak terbatas".
>> >
>> > Lawan kata "bebas" adalah "tidak bebas".  Istilah kata "tidak bebas"
>> > adalah "terbatas" atau "dibatasi".
>> >
>> > Disinilah prinsip dasar latihan "critical thinking" yang mencakup
>> > penggunaan bahasa yang benar bukan memutar balik arti kata itu sendiri
>> > seperti banyak dilakukan para ulama semua agama2.
>> >
>> >
>> >

Kirim email ke