Wah sorry Manneke, berarti aku orangnya ge-eran hehehehe....

salah satu yang membatalkan niatku masuk dunia kedukteran dan banting setir ke 
dunia psikologi adalah kecenderungan melihat masalah, bahkan masalah sosial 
dapat diselesaikan dari gen, otak dan DNA. Kenapa seseorang jadi kejam, karena 
ada gen-nya, sudah tertanam dalam otak. Saya hanya punya kecenderungan berusaha 
melihat manusia sebisa mungkin  tidak hanya dari gen, otak dan DNA saja (meski 
dalam ilmu psikologi ada ilmu klinis yang juga melihat otak sebagai inti dasar 
perilaku).

Anyway, aku tetap saja senang bahwa email saya ditanggapi, minimal saya tidak 
sedang  ngomong sendirian, terima kasih sekali lagi...

maria
GAYa NUSANTARA
Mojo Kidul I # 11A
Surabaya 60285
East Java-Indonesia

Phone/fax: + 62 31 591 4668


----- Original Message -----
  From: manneke
  To: [email protected]
  Sent: Wednesday, March 14, 2007 2:05 PM
  Subject: [mediacare] Re: Serem



  Hmm...tampaknya Anda salah paham. Saya bukan mengomentari tulisan Anda, 
melainkan posting di paling bawah dari Sdr. Ati Gustiati, yang Anda tanggapi. 
Yang saya lakukan adalah melanjutkan rantai tanggapan yang sudah Anda mulai.

  Dalam tulisan itu disebut bahwa ada narasumber bernama Taufik Nasihun, Dekan 
FK Universitas Islam Sultan Agung. Tapi, lepas dari itu semua, apa sih 
hubungannya dengan gen, otak dan DNA?

  manneke

  -----Original Message-----

  > Date: Tue Mar 13 20:50:17 PDT 2007
  > From: "GAYa NUSANTARA" <[EMAIL PROTECTED]>
  > Subject: Re: [mediacare] Re: Serem
  > To: [email protected]
  >
  > Perlu dipertanyakan juga zaman edan itu yang seperti apa? Menurut saya 
kalau menyikapi segala sesuatu dengan kacamata yang mempertahankan nilai-nilai 
dan norma yang perlu di up-date dan tidak bisa terbuka pada perubahan 
lingkungan, mungkin kita bukan masuk zaman edan, namun zaman purba.
  >
  > Saya senang ada yang memberikan reaksi pada pemikiran saya, meski 
bersebrangan. Jadi saya nggak cuma onani pikiran (maaf kalau istilahnya nggak 
enak untuk sebagian orang, karena saya belum menemukan kata yang mampu 
mengekspresikan sama dengan kata itu), ada yang mau merespon.
  >
  > Kalaupun pemikiran saya dianggap edan, saya merasa tidak, karena saya tidak 
menyarankan anak kecil dibekali kondom, namun perempuan yang sudah mengalami 
menstruasi perlu tidak sekedar dibekali pengetahuan bagaimana membersihkan diri 
saja dan konsekuensi dari perilaku seksnya, namun juga perlu tahu apa haknya 
atas tubuhnya. Bahwa seks itu sendiri adalah kenikmatan tidak bisa dipungkiri, 
lalu buat pada dibohongi apalagi ditakut-takuti, perempuan tidak perlu takut 
dengan hasratnya, namun dia harus tahu kenapa hasrat itu muncul dan bagaimana 
itu berhubungan dengan menstruasinya. Kalau dia sudah paham, maka dia sudah 
bisa berdiskusi untuk mengetahui hak atas tubuhnya, bagaimana dia ingin 
menghargai tubuhnya, dengan siapakah dia akan berbagi kenikmatan seksnya serta 
semua konsekuensinya termasuk aborsi dan segala konsekuensinya, bahwa dia pun 
punya hak atas kenikmatan itu dan kenapa seks yang lebih aman dengan 
menggunakan kondom itu penting bagi keselamatan nyawa dan tubuh dia serta hak 
tawar dalam menikmati tubuh serta seksualitasnya. Bukan dengan memberangus 
kenyamanan tubuh perempuan dan menjadikannya polisi moral dirinya dan laki-laki 
sekitarnya, kalo begini sih bagi saya seperti Taliban versi baru saja.
  >
  > nb: mungkin anda salah dengan orang lain, kebetulan saya belum pernah masuk 
fakultas kedokteran, karena saya (meski menghormati profesi dokter) tidak 
tertarik menyelesaikan masalah hanya dari seni gen, otak dan DNA, it's just not 
me. ;0)
  >
  > GAYa NUSANTARA
  > Mojo Kidul I # 11A
  > Surabaya 60285
  > East Java-Indonesia
  >
  > Phone/fax: + 62 31 591 4668

Kirim email ke