Well, ada baiknya jangan pukul rata soal seks. Bagiku yang awam soal seks cuma sebagian dari milyaran bagian hidup yang harus dijalani dan di hadapi. Dan, tanpa seks kita bisa hidup. So...buat apa meributkan soal seks. Itu kan prifasi banget. Toh kita lebih butuh makan daripada seks. Jadi, adalah (menurutku) asumsi yang salah menjadikan seks sesuatu yang luar biasa.
Maria: memang seks itu sebagain kecil dari berbagai kegiatan yang dilakukan manusia. Namun sayangnya seks itu sendiri merupakan bagian kecil yang dapat berpengaruh secara meluas dan mendampak pada bagian lain dari manusia. Karena itu kemudian seks dikekang oleh aturan, moral dan norma. Lagipula yang saya bicarakan bukan sekedar seks sebagai pertukaran cairan kelamin belaka, namun seksualitas yang berarti juga secara sosial. Perselingkuhan dapat berdampak pada carok, bahkan pembunuhan pada pasangan (barusan saja ada berita mengenai perwira polisi yang membunuh mertua, itri, PIL dan dirinya sendiri dengan alasan tidak terima istrinya selingkuh). Saya banyak menampung kasus ibu rumah tangga yang ternyata terinfeksi HIV karena suaminya jajan tanpa kondom dan menularinya, ini berdampak luas pada si ibu karena dia sakit, namun harus merawat anak-anaknya dan suaminya yang sakit, padahal dia juga sakit. Kalau mau tahu sebenarnya masih banyak hal yang dapat saya sampaikan mengenai seksualitas dan dampaknya pada sosial, namun sebaiknya japri saja supaya saya tidak menuh-menuhin mediacare. Mengenai kondom (maaf bicara)..... Siapa sih yang meneliti dan mencetuskan bahwa kondom itu aman? Maria: karena itu saya tidak pernah menggunakan istilah safe sex namun safer sex, yaitu seks yang lebih aman. Penggunaan kondom yang salah karena kurangnya pengalaman, pengunaan pelicin bukan berbahan dasar air, kondom lepas dan tertinggal di dalam tubuh pasangannya, pengunaan kondom lebih dari dua kali (maksudnya setelah orgasme dan refraktori, lalu melakukan lagi sampai dengan tiga kali hingga lebih) sehingga kondom sobek ataupun kondom yang bocor atau udah kadarluarsa memang meningkatkan resiko perpindahan baik itu IMS ataupun HIV. Kondom tidak bisa dipastikan membuat freeseks menjadi aman. Adapun yang menilai "aman", dari persepsiku itu cuma penilaian relatif. Sampai hari ini tak ada penelitian yang mencetuskan kondom safe 100%. Penggunaan pelindung fisik seperti kondom latex dianjurkan untuk mengurangi penularan HIV melalui seks (http://id.wikipedia.org/wiki/HIV) Maria: salah satu yang sangat saya perhatikan dalam seksualitas, terutama dalam seksualitas hetero adalah kurangnya posisi tawar perempuan dalam menentukan hubungan seks seperti apa yang ingin dia lakukan maupun bagaimana melakukan dengan baik untuk dirinya bukan untuk sang cowok, baik itu dengan pacar, suami maupun sebagai pekerja seks. Mengurangi tidak berarti membebaskan 'kan? Jika mengurangi, lalu selebihnya apa? Ini sama saja bermain-main dengan api yang besar yang siap membakar. Dalam hal ini saya juga menyayangkan sikap aktivis HIV/AIDS melakukan aksi menekan penyebaran HIV/AIDS dengan membagikan kondom. Akan lebih bijaksana bila HIV/AIDS ditekan dengan sosialisasi seks yang sehat yaitu kesetiaan pada pasangan, bukan membagikan kondom! Maria: Wah kebetulan banget saya adalah salah satu aktivis HIV dan AIDS yang sangat mendukung penggunaan kondom, bahkan saya mendukung kondom 100%. Karena (maaf kalau kata-kata saya kasar) bull shit banget dengan kesetiaan pasangan, kenyataannya di lokalisasi kata-kata itu tidak berlaku dan jumlah mereka ratusan (apa perlu saya jelaskan pula bahwa beberapa dari mereka yang muncul itu saya ketahui sebagai pemuka agama yang "saleh" ketika di depan umatnya?) setiap hari. Bisa dibayangkan berapa kemungkinan tertulas IMS dan HIV setiap harinya? Belum lagi kata kesetiaan pasangan ini sering disalahgunakan oleh oknum laki-laki yang tidak bertanggungjawab untuk berhubungan seks dengan pacarnya, kalau kamu setia dan sayang tentu kamu mau ML (Make Love) denganku, ini kata umum yang membawa remaja perempuan (apalagi yang pengetahuan seksualitasnya sangat minim) mudah terbuai, justru kata setia pada pasangan ini yang mendorong mereka (saya konselor SMU sudah 5 tahun dan spesialisasi saya memang HIV dan AIDS untuk kaum muda) melakukannya. Kalau hamil kan tinggal nikah, ini juga yang jadi bumbu penyedab, seolah pernikahan itu solusi (kalau nggak ditinggal lari maksud saya). Padahal tidak sedikit mereka yang menikah muda karena hamil diluar nikah, akhirnya berakhir dengan perasaan telah dijebak dan muncullah KDRT dalam rumah mereka. Sudah banyak kasus, meskipun dengan penggunaan kondom PMS masih menyebar. Bahkan kehamilan tidak bisa dicegah dengan penggunaan kondom. Jika ada yang mengatakan bahwa kondom adalah 'safe', agaknya harus disertakan dengan data pembuktian melalui penelitian. Dan setahu saya, sampai hari ini tidak ada! Maria: Sudah saya sampaikan mengenai safer sex kan... bisa coba ke journal of sex research http://www.findarticles.com/p/articles/mi_m2372 untuk mendapatkan pencerahan lain, sekedar menambah wawsan dan masukan kan nggak ada salahnya. Dalam hal ini saya tidak bicara dengan pendekatan emosional saya. Tapi, saya menyuarakan isi buku "Why condoms arent safe" penerbit Andi. Dari buku itu saya simpulkan bahwa ketidaktahuan kita atau informasi yang salah mengenai safe aman (maria: safe sex you mean?) dengan kondom dimanfaatkan oleh industri farmasi. Di mana ketika orang melakukan seks dengan sembarangan, mereka membeli kondom pada industri farmasi. Dan begitu mereka terjangkit PMS (maria: ?? setahu saya saat ini kata penularan sudh berubah menjadi infeksi), mereka membeli obat pada industri farmasi. Ini adalah politik marketing. Dibodohi!!HANYA ORANG SEMBARANGAN YANG BERHUBUNGAN SEKS SEMBARANGAN Maria: Kalau mau bicara kapitalisme, well semua sudah dikapitalismekan, bahkan agama (believe it or not) juga sudah dikapitalismekan, lalu masalahnya apa? Terus terang salah satu penyebab sulitnya memberikan informasi mengenai HIV dan AIDS, IMS serta safer sex adalah selain kurangnya dukungan pemerintah adalah pandangan yang justru memandang orang yang seks sembarangan, adalah orang nggak bener jadi wajar dia terkena penyakit-penyakit itu. Pandangan seperti ini yang justru membuat tidak akan ada perubahan pada masyarakat kita, selain pandangan ini bagi saya terkesan naif dan sangat terpusat pada diri sendiri, pandangan ini membuat orang berpikir, kalau aku bukan orang yang suka jajan dan selalu baik di rumah pasti nggak akan tertular. Sudah saya sampaikan dari awal, jumlah ibu rumah tangga yang tidak tahu apa-apa mengenai HIV bahkan tidak pernah berhubungan seks kecuali dengan suaminya, namun tertular HIV meingkat tajam tahun 2006 ini. Jadi ini bukan masalah sembarang orang atau bukan, ini masalh kita semua. Saya sangat merekomendasikan buku itu pada teman-teman. Bukunya kecil. Bagus isinya. Dan saya merasa manfaat setelah membacanya. Di mana saya tercerahkan secara seksual. Maria: saya senang jika anda sudah tercerahkan secara seksual, namun akan lebih senang lagi kalau tercerahkannya diiringi dengan perubahan perilaku dan sikap terhadap IMS, HIV&AIDS serta seksualitas itu sendiri. Boleh saya tahu bagaimana saya bisa mendapatkan buku tersebut? Btw, kurasa buat apa ya? Kita meributkan soal seks. Cobalah kita renungkan, apakah itu hanya sekadar obsesi? Kalau cuma sekadar menejar obsesi, apakah itu akan mencerahkan kehidupan. Persoalan hidup kita banyak yang harus dihadapi. Negara belum beres, masih banyak yang kelaparan, masih banyak pengemis....dan ini tidak bisa safe dengan seks dengan kondom. Maria: wah koq diakhiri dengan masalah yang menurut saya tidak terkait. Seolah kalau negara beres, cukup makan, tidak ada pengemis (apakah itu mungkin, kapan itu ya.. 10 abad lagi?) maka masalah safer sex dengan kondom tidak diperlukan lagi? Bagaimana kalau saya katkan justru karena too many sex, jadinya too many children, terlalu banyak mulut yang minta makan naun makanan nggak ada jadinya kelaparan, terlalu banyak orang namun lapangan kerja tidak berubah jadinya penggaguran dan jadi pengemis, nah gimana mau selesai coba... Apalagi masalah safe sex dengan kondom dikaitkan dengan persoalan sosial lain yang jelas solusinya bukan dengan kondom...wah ada-ada saja Sulfiza ini, kalau kondom bisa mengentas kemiskinan, memberi makan yang lapar dan membereskan negara, lalu kita jadi nggak butuh beras dan pemerintah dunk...hehehehehe. kondom bisa bantu mengurangi kehamilan yang tidak diinginkan dan mengontrol jumlah penduduk sehingga memberi kesempatan perkembangan lapangan kerja dan mengurangi mulut yang butuh diisi. Ini menurut saya lho... Salam, Sulfiza http://sangtimur.multiply.com/
