http://www.equator-news.com/berita/index.asp?Berita=Utama&id=58601

Kamis, 15 Maret 2007

Robok-robok, Persatuan Semua Etnis 
Dihadiri Para Raja dan Ratu se-Indonesia


 Pontianak,-  Aset wisata budaya dan juga ritual yang layak dikembangkan. Perlu 
menggali kembali warisan adat budaya yang diturunkan menjadi lebih gampang 
dikenali masyarakat. 

Tradisi robok-robok yang terus ditingkatkan pelaksanaannya, diyakini sarat 
dengan pesan persatuan dari semua etnis dan agama yang ada di Kalbar. Pesan itu 
warisan itu ditinggalkan Opu Daeng Manambon ketika mendirikan Kota Mempawah. 

Pangeran Ratu Istana Amantubillah Mempawah, DR Ir. Mardan Adijaya Kesuma 
Ibrahim,MSc mengungkapkan makna robok-robok sebagai napak tilas kedatangan Opu 
Daeng Manambon. Para pengikut Opu Daeng Manambon, kata Mardan, terdiri atas 
berbagai etnis dan agama. 

"Mereka berkumpul pada hari Rabu akhir bulan Safar. Bersama-sama mereka 
membangun negeri ini (Mempawah, red). Dengan ini (robok-robok, red) kita 
melihat, bahwa kita ini sama. Kita ini satu. Dan mampu untuk bersama-sama maju, 
tidak untuk terpecah belah. Ada makna harmonis dalam etnis di sini," kata 
Pangeran Ratu Mardan. 

Ia menuturkan, di kompleks pemakaman Opu Daeng Manambon terdapat banyak bukti 
harmonis dalam etnis yang telah melekat dengan masyarakat Mempawah. "Kalau mau 
tahu apa yang telah dilakukan oleh Opu, lihat saja di makamnya. Di sana ada 
Panglima Hitam orang Dayak, Patih Humantir dan Damarwulan orang Jawa, lalu Lo 
Tai Pak orang Tionghoa. Ada berbagai etnis di sana," jelasnya. 

Sedangkan tradisi saprahan, kata Pangeran Ratu, merupakan cara makan khas 
masyarakat yang tinggal di pesisir. "Tetapi sebetulnya yang lebih menarik 
adalah makan di bawah langit pada pagi hari. Dahulunya waktu Opu datang, tidak 
ada rumah di sini (Mempawah). Mereka gembira, lalu duduk di tepi sungai, lalu 
makan beramai-ramai. Ini yang diperingati oleh masyarakat Mempawah secara turun 
temurun," tandasnya. 

Perayaan tradisi robok-robok pada tahun ini agak berbeda dibanding tahun-tahun 
sebelumnya. Pada tahun ini, perayaan yang dipusatkan di Sungai Mempawah 
dihadiri Raja dan Ratu serta perwakilan dari sejumlah keraton di Indonesia yang 
tengah mengikuti Festival Keraton Nusantara II. Mereka menjadi tamu istimewa 
yang disertakan melihat langsung perayaan tradisi tersebut. 

Wisata Ritual 

Prosesi robok-robok kemarin dimulai dengan ritual buang-buang atau tolak bala, 
yang dilakukan Pangeran Ratu dari Istana Amantubillah di tengah laut. Ketika 
memasuki muara Mempawah, Pangeran Ratu dijemput oleh putra mahkota dan sejumlah 
punggawa keraton yang menaiki perahu lancang kuning. 

Di muara Mempawah, seorang punggawa kemudian mengumandangkan azan di atas 
kapal. Dilanjutkan dengan ritual buang-buang yang dilakukan oleh putra mahkota. 
Selanjutnya, Pangeran Ratu dan permaisuri mendatangi para undangan, sementara 
putra mahkota kembali ke keraton. 

Setelah mengikuti acara seremonial pembukaan Pagelaran Seni Budaya Keraton 
Nusantara II dan Festival Seni Budaya Melayu IV se-Kalbar, para raja, ratu dan 
undangan dijamu oleh Pangeran Ratu makan siang di istana. Prosesi makan siang 
ini menggunakan ritual saprahan atau makan bersama. 

Gubernur Kalbar H Usman Jafar dimintai komentarnya mengatakan, robok-robok 
merupakan aset pariwisata Kalbar. "Dengan peringatan robok-robok, yang kita 
satukan dengan Festival Melayu dan Festival Keraton Nusantara ini, adalah dalam 
rangka memberi warna baru atau kegiatan baru meningkatkan seni budaya," 
katanya. 

"Seperti kita ketahui, seni budaya ini adalah salah satu bidang pembangunan, 
yang terus kita pupuk dan kembangkan di seluruh aspek kehidupan masyarakat. 
Khususnya pada saat ini adalah, keraton dan budaya Melayu," imbuhnya. 

Sementara itu, H Alwi Hamu yang sudah belasan tahun pergi pulang ke Kalbar 
mengaku hari ini (kemarin-red) merasa puas setelah ziarah ke makam Upu Daeng 
Manambon seusai mengikuti rentetan upacara. 

"Saya plong, setelah berdoa di makam Opu Daeng Manambon. Dan saya banyak 
mendapat masukan, di sini bukan hanya orang Bugis saja yang datang tapi semua 
etnis. Termasuk orang-orang Tionghoa menjalankan ritual atau melakukan hajatan 
dan berdoa dengan caranya. Ini menandakan sebenarnya kita semua sama," ungkap 
Alwi Hamu, staf khusus Wakil Presiden RI kepada Equator, sesaat sebelum menaiki 
pesawat kembali ke Jakarta, kemarin. 

Karena itu Alwi akan berusaha bagaimana makam Opu Daeng Manambon bisa dipugar 
agar para peziarah, para wisatawan ritual, bisa lebih nyaman bila di kompleks 
tersebut ditata. "Kita perlu lanskap dan fasilitas yang baik. Seperti warga 
Malaysia yang ketemu di sana, dia khusus datang dan berdoa namun terasa kurang 
sreg karena tempat itu kurang terawat," tambahnya. (pri) 

<<attachment: 01-Robo-robo.jpg>>

Kirim email ke