*

Foke Diusung Koalisi, Adang Tak Terkejut
*

Jumat, 16 Maret 2007, 06:24:51
*

PKS: NKRI Dan Pancasila Sudah Final, Musuh Bersama Kemiskinan
**

Jakarta, Rakyat Merdeka. *Dukungan partai-partai besar terhadap Fauzi Bowo
dalam

Pilkada DKI tak mengejutkan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang resmi
mengusung bekas

Wakapolri Adang Daradjatun. Koalisi dalam politik adalah hal yang biasa.
"Koalisi besar dalam

demokrasi adalah lumrah dan biasa, karenanya, kami tak terlalu terkejut
dengan koalisi besar

mendukung Fauzi Bowo untuk Cagub DKI Jakarta," kata Ketua Tim Verifikasi
Cagub PKS DKI

Selamat Nurdin kepada *Rakyat Merdeka, *di Jakarta, kemarin.

Cuma, kata politisi muda PKS ini, ia dan teman-teman di PKS lainnya sedikit
geli mendengar

bahwa koalisi besar tersebut muncul karena PKS adalah musuh ideologis
bersama sebagaimana

dijelaskan teman-teman di PDIP DKI.

"Persoalan ideologis itu sudah selesai di PKS. NKRI itu final dan tak perlu
lagi mengotak atik

Pancasila sebagai ideologi negara. Musuh bersama kita adalah kemiskinan,
pengangguran dan

standar hidup rendah di Jakarta khususnya dan bangsa ini secara
keseluruhan," tandasnya.

Seperti diberitakan, PDIP dan Partai Demokrat yang disebut-sebut sulit
berkoalisi dalam Pilkada

DKI justru mengusung kandidat yang sama, yakni Fauzi Bowo. Menurut Ketua
Balitbang

DPD PDIP DKI Budi Aris Setiadi, koalisi ini dibentuk karena ada musuh
ideologis bersama.

"Kita berhadapan dengan musuh ideologis. Bagi kami Presiden SBY musuh
politik. Tapi ada lagi

yang lebih dari itu, yakni musuh ideologis," ujar Budi kepada wartawan di
kantor DPD PDIP

DKI, Jalan Tebet Raya, Jakarta Selatan, kemarin.

Soal pencalonan Fauzi Bowo, menurut Nurdin, sudah saatnya kini Fauzi selaku
*incumbent
*

mundur dari kursi Wakil Gubernur, karena dukungan partai kepada sudah
semakin jelas. Selain

itu, agar pertarungan dalam Pilkada DKI juga akan berlangsung fair dan
transparan. Sementara

itu menurut Wakil Ketua Fraksi PKS di DPR Zulkieflimansyah, generasi muda di
PKS adalah

bekas aktivis kampus yang kenyang asam garam ideologi yang ada di kampus.
"Pengalaman

sebagai pemimpin mahasiswa di lingkungan heterogen menghantarkan kami pada
kesimpulan

yang sederhana bahwa Indonesia yang plural, heterogen dan penuh toleransi
adalah keniscayaan

yang tak terelakkan. Musuh ideologis tak relevan lagi dibicarakan,"
tandasnya. *RM
*

Kirim email ke