Labeling : Keputusasaan Ilmupengetahuan Sosial Resmi Ditulis oleh: Vincent Liong
Beberapa waktu yang lalu ketika saya tampil di acara Kick Andy Show, bagi yang nonton tentu ingat bagaimana saya yang memposisikan diri untuk tidak mistik, dan berhadapan head to head dengan Psikiatri yang berpandangan jauh lebih mistik dibanding saya. Tulisan saya kali ini akan membahas lebih jauh bagaimana anggapan saya sebagai pendiri Kompatiologi, yang menganggap paradigma ilmupengetahuan sosial saat ini adalah metafisika alias mistik, bukan merupakan sesuatu yang bisa disebut science. Dalam pendidikan entah itu ketika SD hingga di bangku perkuliahan, siswa tingkat manapun selalu menemukan dua kelompok ilmupengetahuan; yang proses perkembangannya dimulai dari dari hal yang objective diusahakan agar mampu diaplikasikan di berbagai penerapan subjective (ilmu eksak), dan di sisi yang lain ilmu yang proses perkembangannya dimulai dari subjective dan berusaha semakin bersifat objective / berusaha menggeneralisasi (ilmu sosial). Kecenderungan ilmupengetahuan yang objective menuju subjective tampak pada ilmupengetahuan alam dan ilmupengetahuan yang berbasis pengukuran. Misalnya dalam matematika dari rumus penambahan yang paling sederhana, misalnya: 1 + 1 = 2 , maka berkembang menjadi: 2 x 1 = 2, lalu berkembang menjadi 2 : 2 = 1 dlst, dlst, berkembang semakin subjective hingga akhirnya menjadi rumus matematika yang lebih kompleks, spesifik & subjective misalnya: sin, cos, tan, dlsb. Sebuah rumus matematika hanya akan diakui kebenarannya bilamana mampu diurutkan prosesnya terhadap rumus penambahan yang paling sederhana yaitu: 1 + 1 = 2 . oleh karena itu alat hitung elektronik (kalkulator) yang untuk kegiatan hitung sehari-hari tidak perlu kemampuan menghitung terhadap rumus yang terlalu spesifik. Meski hanya mampu menghitung, penambahan, pengurangan, perkalian, pembagian saja maka sudah bisa digunakan oleh pedagang untuk menghitung, tidak perlu kalkulator yang super canggih. Kecenderungan ilmupengetahuan yang subjecitive menuju objective tampak pada ilmupengetahuan sosial. Dari pengalaman yang sangat individual yang dialami oleh penemu / pendirinya, maka ilmupengetahuan sosial tumbuh dengan berusaha semakin menggeneralisasi (objective), menstandarisasi pola / mode kebenaran yang ada. Maka dalam proses perkembangannya ilmupengetahuan sosial cenderung bersifat normatif, penuh pelabelan, membuat metode-metode yang standart dan diakui benar, tetapi sering lupa bahwa suatu standart kegiatan memiliki aturan kondisi ideal tertentu (tidak dapat disamaratakan di segala kondisi). Baik ilmupengetahuan yang bersifat objective menuju subjective atau yang subjective menuju objective akan semakin sempurna seiring dengan posisinya yang semakin mendekati tujuan. Semakin sempura suatu ilmupengetahuan artinya semakin bebas, kuat dan penuh kemampuan penguasaan kontrol dari user / pengguna ilmupengetahuan tsb. Pada ilmupengetahuan yang objective menuju subjective, maka ilmu semakin kuat bilamana dapat diterapkan ke bidang yang semakin spesifik (subjective). Pada ilmupengetahuan yang subjective menuju objective maka ilmu semakin kuat bilamana makin ditemukan sistem kontrolnya yang paling sederhana tetapi mendasar, seperti rumus yang spesifik (subjective) pada matematika, misalnya: sin, cos, tan juga harus dikoreksi dengan menemukan kesinambungan dengan rumus 1 + 1 = 2 . Yang menjadi masalah, di ilmupengetahuan sosial resmi adalah: para praktisinya cukup mudah mendapatkan kenyamanan-kenyamanan (gelar, ijasah, jabatan) tanpa benar-benar sampai pada rumusan dasar yang paling general / objective, seperti rumus 1 + 1 = 2 pada bidang matematika. Dengan membuat pelabelan dan norma-norma sehingga tidak perlu ada usaha lanjutan untuk berusaha menemukan rumus dasar yang paling sederhana, seseorang di lembaga pendidikan tinggi dengan mudah mendapatkan gelar S1, S2, S3 bahkan Doktor dan Profesor. Cukup menemukan norma baru, aturan main baru yang dianggap paling benar logikanya saja maka sudah menjadi penemu, sesepuh ilmupengetahuan sosial. Proses pencaharian kebenaran yang berhenti di tengah jalan pada ilmupengetahuan sosial dengan keputusasaan berupa peresmian norma, label, cara memilih keputusan yang dianggap paling sempurna, dlsb menimbulkan masalah yaitu pada pemenuhan tanggungjawab moral yang paling utama dari lembaga akademis yang adalah: Mempersiapkan mahasiswa untuk mampu bekerja mencari nafkah (tidak lulus untuk menambah jumlah pengangguran dan kemiskinan). Memang perlu bertahun-tahun untuk sekolah lalu kuliah hingga lulus, tetapi apakah sekian banyak resep masakan (norma, labeling, propaganda soal cara mengambil keputusan yang dianggap paling benar, dlsb) dapat digunakan untuk mengambil keputusan pada kondisi lapangan yang tidak pernah se-ideal di buku pelajaran. Koleksi resep masakan di ingatan memang banyak tetapi tidak tahu mana yang dipilih untuk dilakukan at the present time karena semuanya terlalu subjective. Makadari itu Kompatiologi ilmu non-sekolahan yang memperjuangkan usaha ilmupengetahuan untuk berproses dari normatif menuju adaptif melarang keras; pengajar, murid didik dan penggunanya untuk memberikan nasehat, konseling, dogma-dogma tertentu, sehingga sifat proses belajar kompatiologi seperti programmer komputer yang bekerja; dilarang untuk membuka atau mengutak-atik file interen / local wisdom perusahaan. Kompatiologi juga tidak menerapkan sistem ijasah, gelar, dlsb. Sebagai project penelitian yang tidak bertujuan untuk lulus dan mendapat ijasah, maka kompatiologi tidak terjebak pada kenyamanan ala praktisi ilmupengetahuan sosial resmi sehingga mencapai keputusasaan berupa peresmian norma, label, cara memilih keputusan yang dianggap paling sempurna, dogma-dogma, believe sistem, dlsb. Dalam perkembangan terakhir Kompatiologi telah mencapai tahap dimana hanya fokus pada proses instalasi operating sistem yang mendasar saja dimana dengan rumusan tertentu yang sifatnya hanya biologis saja (dengan meminum minuman botol yang bisa dibeli di supermarket terdekat) dengan rumus, pemposisian tertentu, maka dapat diinstall operating sistem / sistem pengambilan keputusan pada manusia, secara bebas bisa diinstall dan diuninstall dengan rumus yang bisa diganti-ganti sesuai kebutuhan. Ini dilakukan tanpa proses penanaman believe sistem tertentu, nasehat-menasehati, ceramah, dlsb, melainkan hanya murni fokus pada SOP (Standart Operating Prosedure) dan rumus-rumus yang dipilih sesuai dengan tujuan hasil. Semoga ini menjadi awal yang baik untuk menyadarkan para praktisi dan ilmuan sosial resmi (bergelar, berijasah) yang sudah keenakan pada kenyamanan gelar, ijasah lulus, sehingga bisa berputusasa dengan stop berproses, duduk santai di permainan pelabelan, norma, dogma-dogma, pengajaran believe sistem, dlsb. Bila mau bersaing, seorang manusia harus mengambil kontrol penuh pada dirinya sendiri, dari proses paling subjective harus menemukan rumusan yang paling objective yang paling sederhana tetapi menyeluruh. Tidak bisa membuat kondisi ideal, misalnya di Psikologi lebih suka menjadi polisi yang suka melakukan pelabelan untuk menyalahkan orang bermain peran ganda, sikofrenia, autis, indigo, ADHD, dlsb dengan sebutan sakit. Bagi ilmu Kompatiologi, hal-hal seperti bermain peran ganda, sikofrenia, autis, indigo, ADHD, dlsb hanyalah tools pilihan strategi yang digunakan manusia untuk meningkatkan pemenuhan kwalitas hidupnya. Kalau tidak munafik, setiap dari diri kita juga memiliki bagian-bagian seperti itu. Ttd, Vincent Liong Minggu, 18 Februari 2007 Send instant messages to your online friends http://au.messenger.yahoo.com
