Wah Mas Yudi ini kayak baru tahu saja. Dari sononya teori keberadaan
televisi itu kan mencari keuntungan yang sebesar-besarnya buat
kantong mereka. Soal apakah penonton merasa puas dan terhibur dengan
program yang ada itu nanti dulu. Apalagi berbicara soal kepatutan
dan dampak yang ditimbulkan, itu pun masih jauh dari frame berpikir
pengelola televisi. Itu artinya apa? Selain masyarakat sebagai pihak
yang terus dijejali program tanpa pilihan, juga musti ada otoritas
yang mengambil tindakan soal itu...





--- In [email protected], wahyudi yudi <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:
>
> Hampir semua acara telivisi menayangkan film-film yang sudah
diputar/diulang-ulang lagi. Pemirsa televisi dianggap sebagai
pembantu rumah tangga hanya diam saja. Stasion televisi dengan
menayangkan ulang film-film yang dianggap laris dan tidak
menayangkan film-film baru, sangat menguntungkan stasion televisi
dengan kontrak batas waktu siar digunakan untuk menayangkan berulang-
ulang dan dapat pemasukan dari iklan-iklan. Penonton tidak dihargai
dan dihormati sebagai pemirsa telivisi dan peminat/pecinta film.
Daripada acara film-film yang diulang-ulang hanya membosankan
penonton lebih baik diisi iklan-iklan saja. Dan pencinta film
sementara ini dialihkan untuk membaca buku saja. Atau stasion
televisi sudah tidak kuat lagi untuk membeli film baru.
> salam
> yudi

>


Kirim email ke