Yang jelas bukan aku yang bilang. Tapi wartawan Kompas ini tidak menindak
lanjuti , dengan memopertanyakan karena apa manusia Indonesia ini jadi picik
dan tak mau kalah?
Aku akan mencoba meninjau soal ini walaupun ini adalah pandangan subjektip
tapi tidak lepas dari reference, baik yang kejadian di lapangan maupun pokok2
pikiran dari pakar2 yang ahli dalam mengamati perkembangan suatu bangsa dan
negara.
Rupanya watak karakter manusia Indonesia ini tidak jatuh dari langit.
Karakter ini lahir dan tumbuh karena keadaan yang mendasarinya.
Ada dua point yang bisa aku sebutkan untuk sementara ini.
Pertama: masyarakat Indonesia di hayati oleh kebudayaan feodal,
feodalisme yang ciri2nya selain masyarakat yang agraris
juga masyarakat yang di gumuli oleh "warna" feodal ini
kita bisa lihat adanya mentalitet ndoro-isme dan dayang/
kuli /batur. Menambahi mentalitet feodal macam ini, pen-
jajah Belanda selama 300 tahun lebih memperdalam men
talitet ini dengan meng-asorkan para pribumi sebagai
warga nomor dua/ketiga dalam konstelasi negara.
Kedua: kelanjutan dari feodalisme dan penjajahan selain me-"war-
nai" keseluruhan rakyat(Indonesia) juga pemimpin2nya
baik selama perjoangan kemerdekaan dan pasca perjoa-
ngan kemerdekaan, mewarisi mentalitas ndoro-isme ini.
Kenapa kita(bangsa Indonesia+pemimpin2nya) bisa mengambil dan menggumuli
sikap feodal ini, dan tidak mengurangi faktor ndoro-isme feodalisme ? albeit
kemerdekaan kita itu di serapi juga idee2 demokrasi? Disinilah letak kemunduran
psikologis se-tidak2nya dari bangsa dalam meninjau aspek wataknya.
Kenapa kita, terutama pemimpin2nya tidak merubah pattern cara berfikir mereka
dari sifat ndoro-isme dengan suatu idee yang lebih progresip seperti demokrasi,
persamaan hak antar warga dan supremasi hukum?
Rupanya kelengahan para pemimpin kita bisa kita temui bila kita rujuk dalam
perjoangan mereka mengantarkan bangsa Indonesia menuju kemerdekaan.
Apakah karena begitu mudahnya kemerdekaan ini bisa diraih bak disampaikan ke
ibu pertiwi ...on a silver plate? Apakah perjoangan kita kurang mendasari
kemerdekaan ini dengan pengorbanan yang besar sehingga mutu dari kemerdekaan
ini terasa agung? Rasanya melihat situasi dunia waktu itu setelah PD II, tanpa
mengecilkan pengorbanan para pejoang kemerdekaan, sejarah memberikan
pertolongan yang tidak sedikit ,dalam memuluskan kemerdekaan ini. Setelah PD
II, era pasca PDII ini bisa disebut sebagai era de-kolonisasi. Di benua Afrika,
Asia terutama para imperialis melepaskan cengkramannya sebagai penjajah. Ada
yang masih berniat bersikekuh bersikap sebagai imperialis/penjajah tapi tidak
sedikit yang dengan suka rela mundur dari koloni/jajahan2 nya.
Termasuk dalam kancah perjoangan kemerdekaan Indonesia ini rupanya faktor
politis berskala internasional membantu banyak dalam meraih kemerdekaan bagi
rakyat Indonesia. Bahkan waktu itu Amerika banyak memberikan tekanan kepada
Belanda untuk melepaskan Hindia Belanda.
Mungkin karena ini dimana perjoangan begitu "mudah" di dapat ,terutama
pemimpin2 waktu itu membangun watak(tanpa disadari mungkin) bahwa mereka itu
adalah...a can do....person ...and nation. Jadinya adalah euphoria yang
kebacutan/kebablasan dan akibatnya faktor pembangunan dan masa depan
terlupakan. Terutama pemimpin jadi semacam ndoro yang..... can do everything
menjadikan mereka itu jadi raja dalam negara feodal. Mentalitet Ndoro dan Batur
malahan men-jadi2. Akibatnya bukan pembangunan ekonomi bagi kemaslahatan
seluruh rakyat di gaungkan tapi membangun idee megalomaniak dan ingin
meng"hajar" semua orang dan negara yang tidak sepaham dengan kita. mentalitet
"yes man" men-jadi2 dan ini kiranya yang mendasari perbuatan korupsi itu
men-jadi2 karena ndoro itu punya impunitas...mau berbuat apa, adalah hak ndoro
ini.
Apakah ini adalah suatu gejala...bahwa pepatah ini tidak terpenuhi.....no
pain no gain? "Pain"nya terlalu sedikit sehingga "gain" yang kita raih itu
terasa.. ...sebagai sesuatu...yang mudah...sesuatu .yang....take it for
granted? Apakah mental ini yang mengakibatkan kita jadi picik dan terlalu
sensitip apabila kita di salahkan, dalam suatu kasus ,walaupun dalam bentuk
suatu kritik yang berlandaskan membangun?
Alhasil Ndoro-isme......perjoangan yang kurang ber-susah2..."pain" yang
terlalu sedikit....ber-euphoria dengan "gain" yang kita dapat,menjadikan kita
mempunyai watak yang kurang bisa menghayati suatu bangsa untuk melangkah maju
kedepan dengan idee2 yang positip. Idee2 modern seperti demokrasi, persamaan
hak, keadilan bagi semua, hak sama setiap manusia dimuka hukum, rupanya bangsa
ini di tengah euphoria ternyata tidak di-indahkan/ tidak di implemantasikan
sehingga kita tersungkur jadi manusia yang picik dan mengungkungi segala sifat
yang kurang memadai buat membangun masa depan.
Harry Adinegara
---------------------------------
Laporan Wartawan Kompas M Zaid Wahyudi
JAKARTA, KOMPAS--Manusia Indonesia dicirikan dengan karakter yang picik,
solidaritas rendah, serba instan, dan sulit menerima kekalahan. Kondisi
tersebut membuat keadilan dan kesejahteraan sosial di Indonesia sulit
diwujudkan.
Penggiat filsafat kebudaayan Tony Doludea di Jakarta, Jumat (16/3) sore
mengatakan karakter manusia Indonesia adalah mudah iri hati, picik, dan tidak
menyadari solidaritas untuk tujuan bersama. Mereka juga suka memperoleh sesuatu
secara instan, mengabaikan proses dan kerja keras, percaya terhadap klenik, dan
tidak dapat menerima kekalahan.
B Karakter itu ada dalam diri seluruh manusia Indonesia, mulai dari politisi,
akademisi, intelektual, pemimpin, tokoh agama, hingga orang awam dan rakyat
miskin,B kata Tony.
Mental manusia Indonesia tersebut membuat masyarakat tidak lagi percaya kepada
kebenaran, keadilan, dan kebaikan. Kondisi tersebut membuat keadilan dan
kesejahteraan sulit diwujudkan di Indonesia.
Send instant messages to your online friends http://au.messenger.yahoo.com
Send instant messages to your online friends http://au.messenger.yahoo.com