SUPERSEMAR
(Buku De Stille Genocide, Lambert J. Giebels)

"De Stille Genocide", de fatale gebeurtenissen rond de val van de Indonesische 
president Soekarno, karangan Lambert J. Giebels. Di halaman 207 ada bab 
Supersemar sbb.:

Menurut Soeharto, Soekarno tidak mau membubarkan PKI sebab takut kehilangan 
muka. Soekarno adalah pemimpin negara bertaraf internasional dan pencetus 
konsep Nasakom, mana mungkin membubarkan PKI? Maka Soeharto bilang ke Soekarno 
"No problemo, kasih saja saya mandat, saya akan sikat PKI". Soekarno kemudian 
menyelenggarakan rapat kabinet pleno, sementara mahasiswa berdemonstrasi di 
luar istana. Anehnya, tentara bukan menjaga istana melainkan malah mem-backing 
gerakan mahasiswa. Jenderal Saboer kemudian menyisipkan secarik kertas ke 
kolong meja yang diterima oleh Soekarno, bunyinya "Ada pasukan tak dikenal 
menyusup ke istana". Membaca itu Soekarno panik dan buru-buru menyerahkan palu 
sidang ke wakil perdana menteri Leimena. Soekarno bergegas meninggalkan istana, 
menumpang helikopter yang stand by, bersama wakil perdana menteri Soebandrio 
dan Chaerul Saleh. Soebandrio yang di saat rapat asyik membuka sepatunya di 
kolong meja, tidak sempat memakainya kembali sebab sudah ditarik oleh Soekarno 
naik helikopter ke Bogor. Jadi Soebandrio naik helikopter tanpa sepatu dan kaos 
kaki. Istana Bogor dijaga oleh marinir yang setia kepada Soekarno. Tiga puluh 
tahun kemudian Soebandrio berkata kepada Lambert J. Giebels "bak pahlawan tanpa 
sepatu dan kaos kaki, saya mengikuti Soekarno ke istana Bogor".

Soeharto sendiri tidak menghadiri rapat kabinet pleno karena flu. Meski pun flu 
berat, Soeharto tokh menerima kedatangan tiga jenderal di rumahnya, yaitu 
jenderal Basoeki Rahmat, jenderal Mohamad Yusuf dan jenderal Amir Mahmud, 
setelah tiga jenderal itu menghadiri rapat kabinet yang ditinggal oleh Soekarno 
di tengah jalan itu. Berempat mereka menganalisa situasi. Menurut mereka, ada 
bahaya terjadinya bentrokan antara pasukan Angkatan Darat yang anti Soekarno 
versus pasukan Marinir yang pro Soekarno. Juga ada bahaya mahasiswa menguasai 
ibukota setelah melihat presiden Soekarno lari terbirit-birit ke Bogor. 
Akhirnya mereka berempat sepakat bahwa Soeharto sebagai panglima Kostrad harus 
mendapat mandat dari Soekarno untuk membereskan keamanan di ibukota dan 
sekitarnya. Bertiga (tanpa Soeharto) jenderal-jenderal Angkatan Darat itu ke 
Bogor, meninggalkan Soeharto yang flunya makin menjadi-jadi.

Apa yang terjadi di istana Bogor antara jenderal Basoeki Rahmat, jenderal 
Mohamad Yusuf dan jenderal Amir Mahmud dengan Soekarno dan tiga wakil perdana 
menteri: Soebandrio, Chaerul Saleh dan Leimena (yang menyusul belakangan)? 
Tidak ada yang tahu persis. Begitu juga teks Supersemar sendiri tidak jelas. 
Yang pasti Supersemar ditanda-tangani oleh presiden Soekarno seusai pembicaraan 
di istana Bogor itu.

Belakangan baru diketahui bahwa pasukan yang menyusup ke istana saat rapat 
kabinet adalah pasukan RPKAD pimpinan Sarwo Edhi. (DL - Sarwo Edhi kalau tidak 
salah mertua presiden SBY, bukan?).

Kirim email ke