http://www.sinarharapan.co.id/berita/0703/20/nas04.html


Terorisme Dompleng Agama dan Kemiskinan  


Jakarta-Terorisme yang menggunakan ajaran agama sebagai alat penyebarannya 
lebih berbahaya dari penyebaran ideologi. Bahkan, ditengarai penyebaran 
terorisme melalui kedok agama ini akan makin intensif di Tanah Air. Oleh 
karenanya, pemerintah dan kalangan pemimpin agama harus ekstrahati-hati 
menangani hal ini. Apalagi, penyebaran ajaran ini kerap mendompleng kondisi 
kemiskinan yang dialami masyarakat. Demikian dinyatakan oleh mantan Panglima 
Laskar Jihad Jafar Umar Thalib dan pengamat intelijen Dr Wawan Purwanto, dalam 
kesempatan terpisah, Senin (19/3).

"Kelompok teroris ini sangat licik karena mereka menipu ajarannya dengan 
diberikan label-label Islam. Soal pendanaan kelompok ini akan melakukan apa 
saja termasuk perampokan akan dinyatakan halal dengan dalih demi Islam," tukas 
Jafar Umar.

Jafar menjelaskan kekerasan yang terjadi di Poso dan Ambon adalah wujud dari 
keinginan teroris menyebarkan ajarannya. Ia pun menuding adanya kelompok 
tertentu yang bertameng di balik dalil "penegakkan syariat Islam" untuk 
menyebarkan ajaran bernuansa terorisme yang tak sejalan dengan nilai-nilai 
Islam. 

"Kelompok ini sangat licik karena memperalat agama untuk tujuan tersembunyi. 
Rata-rata orang Islam di Indonesia sebenarnya tidak bisa menerima ajaran 
kekerasan yang dikembangkannya, tapi dalam jangka panjang, ajaran seperti ini 
tidak mustahil akan diterima meski sangat terpaksa," katanya.

Sementara itu, pengamat intelijen Dr Wawan Purwanto menjelaskan, maraknya teror 
melalui pesan pendek (SMS) yang kini melanda Jakarta dan sejumlah daerah adalah 
upaya uji coba kegiatan terorisme di sejumlah wilayah di Indonesia. Wawan 
mengingatkan, ancaman terorisme tersebut sebenarnya bisa diprediksi oleh aparat 
keamanan dan kalangan intelijen. "Kegiatan itu bisa diukur, biasanya terkait 
dengan ulang tahun aksi teror, yang jatuh pada bulan April," jelasnya.
(rikando somba)
  

Kirim email ke