Ada yang bilang, Ken Dedes lebih hebat dari Kartini. Ada yang bisa cerita tentang Ken Dedes, please? Terima kasih sebelumnya.
Sangat positif bila Indonesia mengangkat tokoh-tokoh wanita Indonesia, baik yang berasal dari periode kemerdekaan mau pun periode Hindia Belanda, bahkan periode sebelum orang Eropa menjejakkan kakinya di Nusantara. Soal pantas tidaknya tokoh-tokoh wanita itu diberi gelar pahlawan nasional, ogut tidak melihat relevansinya di sini. Yang penting semangat, buah pikiran dan kinerja nyata mereka yang mana saja yang bisa/layak dipanut oleh gadis-gadis remaja Indonesia sekarang? Milis Media Care ini menurut saya dapat melahirkan Kartini-Kartni baru, wong Kartini dulu kerjanya juga cuma menulis, bukan? Namun member wanita Media Care yang rajin menulis tampaknya hanyalah Hafsah Salim ini. Member wanita Media Care yang lainnya hanya menulis sporadis dan/atau reaktif saja. Okki dokki ya, saya nantikan tulisan-tulisan para Kartini Media Care yang orisinil, patriotis dan terutama memperjuangkan emansipasi, dan kalau bisa pemikiran yang mampu mendobrak budaya destruktif Indonesia "korupsi, jam karet dan gontok-gontokan". Sukses ya. Sebuah diskusi yang menarik dan bermanfaat, amat relevan menjelang peringatan Hari Kartini 21 April nanti. Salam hangat, Danny Lim, Nederland --- In [email protected], "Hafsah Salim" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > > Yang menetapkan Kartini sebagai Pahlawan adalah Bung Karno yang > merupakan the Founding Father of Indonesia. > > Jadi Kartini bukan pahlawan yang diangkat oleh Belanda, Jepang, > ataupun Amerika. Kalo kita menghormati Bung Karno, tentu juga kita > harus menerima nama2 yang oleh pendiri Indonesia ditetapkan sebagai > pahlawan bangsa ini. > > Saya pribadi tidak setuju kalo Diponegoro, Sentot, Untung Surapati > dianggap pahlawan, tetapi karena Bung Karno menetapkannya sendiri > dengan alasan2 yang jujur, meskipun saya anggap salah, tapi tetap saya > bisa menerimanya. Bung Karno menyatakan bahwa biarpun penjahat, asal > saja memusuhi dan dimusuhi Belanda, dan pernah dipenjara Belanda, maka > dia saya angkat jadi pahlawan. Karena katanya bangsa yang besar perlu > punya daftar nama2 pahlawannya. > > Yang menyesatkan adalah mereka yang menentang Kartini sebagai pahlawan > bangsa !!! Mereka itu menutup mata perjuangan Kartini terhadap > kebebasan wanita Indonesia. Kartini dilahirkan sebagai orang Jawa > dari keluarga Islam Kejawen, namun setelah mendapatkan pendidikan di > Belanda dia tertarik masuk Katolik meskipun dia juga tetap tidak > keluar dari agama keluarganya Islam Kejawen. > > Mereka yang menentang Kartini sebagai pahlawan tidak punya alasan lain > karena Kartini dianggapnya menentang cita2 menuju negara Syariah Islam. > > Oleh karena itu untuk mencegah Syariah Islam yang biadab ini, perlu > kita memiliki figur pahlawan wanita bagi bangsa ini sebagai Kartini > yang tidak pakai jilbab, cukup pakai kebaya jawa saja. Apalagi ajaran > islam melarang wanita keluar rumah sendirian untuk sekolah ataupun > cari kerjaan, meskipun suaminya sendiri seringkali mengizinkannya. > > Ny. Muslim binti Muskitawati.
