Quote:
Wujud perjuangan kita adalah dengan tidur larut malam dan bangun kesiangan,
dengan lebih memilih bermain bersama anak-anak ketimbang bekerja menghasilkan
untung, dengan melakukan doing tanpa tendensi keuntungan, dan lain-lain.
Hal-hal semacam ini memang tidak nampak seperti perjuangan kelas karena sifat
alami dari perjuangan itu sendiri.
End of quote.
W. SeksPeare:
Yang di atas itu disebut ½perjuangan½ atau ½pemalasan½?... Kalau
kesimpulannya cuman segitu, kok nulisnya sampe panjang-panjang?...
Jadinya, si anak-anak tempat Anda melarikan diri, hanya Anda jadikan mereka
sebagai objek mainan, dong?... Lalu mereka mau makan apa dengan model
½perjuangan½ semacam itu?...
Kopitalistic Code: Ideology is an opium... So, bangunlah bung, matahari udah
tinggi... ...
May FUN be with you (and the kids, too...)
Kopitalisme
http://kopitalisme.tk
http://kopitalisme.blogspot.com
T Chandra <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Tulisan yang menggelitik banget tapi juga membuat beberapa orang
pasti tersenyum simpul. Apalagi akhir atao kesimpulannya. Kite ngorok aje yuk
(tentu lebih baik sama bini), biar kapitalis gak punya buruh! Hihihi, di
Indonesia aja ada katanya 40 juta menganggur.
Terserah deh apa namanya tapi perjuangan kelas enggak usah dong dijadikan
momok "kiri".
Tapi biar begitu esai ini lucuu banget deh, juga ada paedahnya untuk mulai
bicara lagi sekait diskursus class straggle kan 30 tahun dilarang Suharto,
lama-lama bisa ketemu
hakikatnya apa sih PK itu?
Mbak May, tolong dong kirim salam buat bung Shohib,
dan seringanlah kirim postingan begini untuk umpan diskusi
TCh
May Teo <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Perjuangan Kelas, Masihkah relevan?
Oleh: Shohib Masykur
(Mahasiswa Jurusan Ilmu Hubungan Internasional, FISIPOL, UGM, salah satu
anggota Tim Kerja Lafadl)
Maret 16th, 2007 - Dalam tulisannya yang termuat dalam buku Ilmu Sosial dan
Kekuasaan di Indonesia (Vedi R. Hadiz dan Daniel Dhakidae, ed.: 2006) dengan
judul Masalah Kelas dalam Ilmu Sosial Indonesia, Hilman Farid mengatakan bahwa
selama ini analisis berbasis kelas tidak mendapatkan tempat dalam diskursus
ilmu-ilmu sosial di Indonesia. Dia menyebut tiga alasan untuk ini. Pertama,
adanya sentimen anti-komunisme yang amat kuat pada diri para intelektual Orde
Baru. Kedua, adanya pembagian ilmu sosial ke dalam berbagai disiplin yang
berbeda di mana masing-masing memiliki garis-garis pembatas yang jelas dan
pasti (ekonomi, sosiologi, ilmu politik, hukum, dan lain-lain). Ketiga, adanya
embedded statism dalam ilmu sosial yang mengasumsikan negara-bangsa sebagai
unit analisis sehingga terdapat kecenderungan untuk mengarahkan pembahasan pada
kebijakan nasional ketimbang kenyataan sosial konkret yang tidak terpaku secara
rigid dalam garis-garis batas administratif.
Pengabaian kelas ini tentu saja patut disayangkan mengingat dalam sejarah
perjuangan kemerdekaan Indonesia isu kelas menjadi salah satu motor penggerak
bagi perlawanan yang muncul dari kaum pribumi terhadap pemerintah kolonial.
Mengutip Sjahrir, Dita Indah Sari dalam Prisma (No. 7-1995) mengatakan bahwa
gerakan buruh yang berwatak kelas telah memberikan watak kelas dalam
perjuangan pembebasan nasional di Indonesia. Namun, lanjutnya dengan mengutip
Vedi R. Hadiz, gerakan buruh itu tidak memungkinkan untuk menjadi kekuatan
pokok karena kurangnya basis material. Pasalnya, mayoritas rakyat Indonesia
waktu itu masih hidup di sektor pertanian dan terbelakang. Lebih jauh dari
sekedar persoalan kondisi obyektif sebagaimana dipahami Hadiz, Dita mengatakan
bahwa kegagalan dari gerakan buruh tersebut juga terutama disebabkan oleh
adanya kesalahan pokok kaum kiri saat itu dalam melihat tahapan perjuangan
kelas buruh negeri-negeri jajahan. Menurutnya, kelas buruh di Indonesia
waktu itu terlalu bersifat kekiri-kirian karena terlalau banyak dipengaruhi
oleh ide-ide sosialisme. Watak yang terlampu kiri ini membuat mereka tidak
sadar bahwa tahapan perlawanan pembebasan nasional adalah muara dari perjuangan
pembebasan nasional Indonesia. Dalam programnya, PKI menempatkan perjuangan
menuju sosialisme sebagai esensi dari perjuangan pembebasan nasional.
Akibatnya, mereka gagal menggalang dukungan yang lebih luas dari masa di luar
buruh. Inilah yang menurut Dita menjadi penyebab utama gagalnya gerakan buruh
pada waktu itu.
Saat ini, dengan munculnya jargon-jargon semacam the end of history dan the end
of ideology, agaknya banyak orang beranggapan bahwa analisis kelas tidak lagi
relevan untuk membaca fenomena ekonomi-politik kontemporer. Kemenangan
neo-liberalisme dalam sebuah proses globalisasi neo-liberal membuat buruh
semakin tidak memiliki daya tawar di hadapan pemilik modal. Pasalnya, pemilik
modal bisa dengan mudah memindahkan lokasi produksinya guna mencari buruh yang
lebih sesuai dengan keinginan mereka, yakni buruh yang apolitis dan mudah
ditundukkan. Di samping itu, kemenangan demokrasi liberal juga dipandang
membuat diskursus mengenai kelas tidak lagi menarik hati. Alih-alih melalui
konflik, perjuangan kepentingan saat ini lebih menggairahkan jika dilakukan
melalui proses dialog. Munculnya gerakan sosial baru (new social movement) juga
mengiringi peminggiran politik kelas. Gerakan sosial baru ini tidak lagi
memelandaskan perjuangannya pada sentimen kelas, tetapi lebih kepada isu-isu
yang sifatnya spesifik: gerakan lingkungan, gender, kaum homosexual/lesbian,
difabel, dan lain-lain. Rangkaian beberapa hal di atas membuat politik kelas
menjadi barang antik di masa lampau, seperti museum. Orang yang
membicarakannya pun dianggap orang aneh.
Pada kenyataanya memang sentimen kelas ini tidak pernah mewujud dalam
demonstrasi-demonstrasi kaum buruh selama ini. Hal ini nampak dari isu-isu yang
diusung oleh para buruh tersebut: kenaikan upah, perbaikan kondisi kerja,
pemberian ganti rugi, kenaikan tunjangan, pemberian gaji yang tertunda, dan
lain-lain. Juga, tidak terdapat persatuan antar kaum buruh sebagaimana yang
diteriakkan dengan berapi-api oleh Marx, Kaum buruh di dunia, bersatulah!.
Jika demikian, apakah memang politik perjuangan kelas tidak lagi relevan?
Dengan modifikasi pemahaman tentang class struggle, saya termasuk orang yang
percaya bahwa politik kelas masih relevan, dan perjuangan kelas sampai saat ini
masih terus terjadi. Bahkan bisa jadi tanpa sadar kita sendiri juga sering
melakukannya.
Toward another (new) understanding of class struggle
Untuk pemahaman kelas yang saya katakan modified tadi, saya merujuk pada John
Holloway dalam tulisannya Where is Class Struggle?. Dia memberikan pemahaman
yang menggelitik tentang makna perjuangan kelas kontemporer.
Mengutip Marx, dia mengatakan bahwa hakikat manusia adalah sebagai subjek yang
melakukan (doer) dan bukan melulu subjek yang ada (being). Berbicara soal
melakukan sesuatu (doing), berarti juga berbicara soal orang lain atau orang
banyak, alias social. Apapun yang kita lakukan tidak akan pernah terpisah dari
apa yang dilakukan oleh orang lain. Our doing is always part of a social flow
of doing. Misalnya, saya bisa menulis karena ada orang lain yang sudah
terlebih dahulu membuat komputer, menulis buku-buku bacaan yang saya jadikan
acuan, membangun kamar yang saya tempati, membuat meja yang saya guanakan, dan
lain-lain. Jadi, untuk memahami masyarakat (society), kita harus memahami
bagaimana perilaku manusia (human doing) diorganisasikan.
Selain bersifat sosial, perilaku manusia juga bersifat projective (memiliki
bayangan akan masa depan). Menurut Marx, inilah yang membedakan perilaku
manusai dengan perilaku hewan. Seorang arsitek dan seekor lebah sama-sama
membuat rumah. Lalu apa bedanya? Yang membedakan seorang arsitek terburuk dari
seekor lebah terbaik, dan karenanya membuat arsitek bagaimanapun tetap lebih
baik ketimbang lebah, adalah bahwa arsitek membangun rumah dengan berbekal
bayangan tentang akan seperti apa rumah yang nanti dihasilkannya. Jadi dalam
akhir tahap setiap proses doing-nya, manusia menghasilkan sesuatu yang
sebelumnya sudah berada dalam imajinasinya. Itu berarti dalam proses doing-nya
dia sedang merealisasikan apa yang sudah menjadi tujuannya.
Dengan munculnya kapitalisme, masalah mulai timbul. Seorang kapitalis pemegang
modal dengan seenaknya mengatakan kepada para manusia yang bekerja bahwa hasil
pekerjaan mereka adalah miliknya. Secara tiba-tiba, hasil doing manusia berubah
menjadi labor yang sepenuhnya berada di bawah kendali kapitalis. Mau diapakan
hasil pekerjaan itu? Mau dijual alias diuangkan. Jadi doing manusia kemudian
hanya direduksi menjadi uang. Maka, saat itu pula doing manusia mengalami
keterputusan dengan social flow of doing. Demikian pula, karakter projective
dari doing manusia menjadi hilang. Apa yang akan dihasilkannya tergantung pada
permintaan orang lain, para kapitalis. Manusia kemudian menjadi mirip dengan
lebah. Manusia teralienasi dari pekerjaannya.
Bagaimana proses itu terjai? Melalu struggle. Setiap saat kapitalis selalu
mengatakan kepada kita: lihatlah di sekeliling mu, lihatlah semua benda yang
menakjubkan itu. Itu semua adalah milikku. Jika kau ingin menikmatinya, maka
carilah uang untuk membelinya. Tapi untuk mencari uang, kau harus menjadi
pekerjaku, menuruti segala perintahku, dan hentikan bayangan tentang berbuat
sesuatu sesuai dengan yang kau kehendaki. Maka kau akan kuberi uang untuk
menikmati semua yang menjadi milikku.
Untuk memastikan bahwa Itu semua adalah milikku, kapitalis juga harus
berjuang. Setiap saat mereka membujuk dan memaksa kita untuk menjadi
pekerjanya. Setiap hari mereka harus membuat kita bangun pagi, memaksa kita
bekerja, mengatur segenap aktivitas hidup kita sehari-hari. Mereka juga harus
menghadapi persaingan dari para kapitalis lainnya. Dan ini tidak mudah. Setiap
saat setiap waktu, selalu ada kesempatan bagi kita untuk melakukan sesuatu yang
tidak menyenangkan bagi kapitalis.
Di sinilah letak perjuangan kelas kontemporer. Perjuangan tentang apa yang kita
pikirkan, tentang bagaimana kita bertindak, tentang kapan kita harus tidur dan
kapan kita harus bangun. Perjuangan antara dua pola perilaku (two ways of
doing), antara dua bentuk hubungan sosial (two forms of social relation). Wujud
perjuangan kita adalah dengan tidur larut malam dan bangun kesiangan, dengan
lebih memilih bermain bersama anak-anak ketimbang bekerja menghasilkan untung,
dengan melakukan doing tanpa tendensi keuntungan, dan lain-lain. Hal-hal
semacam ini memang tidak nampak seperti perjuangan kelas karena sifat alami
dari perjuangan itu sendiri.
Pemahaman termodifikasi dari perjuangan kelas ini membuat spektrumnya menjadi
lebih luas. Saya bisa jadi sudah melakukan perjuangan kelas tanpa saya sengaja
maupun sadari. Dengan demikian, untuk melakukan perjuangan kelas tidak harus
menjadi kiri.
Sumber Sirus online : http://lafadl.wordpress.com
Penulis : Shohib Masykur
http://lafadl.wordpress.com/2007/03/16/perjuangan-kelas-masihkah-relevan/#more-112
---------------------------------
New Yahoo! Mail is the ultimate force in competitive emailing. Find out more at
the Yahoo! Mail Championships. Plus: play games and win prizes.
[Non-text portions of this message have been removed]
---------------------------------
Don't pick lemons.
See all the new 2007 cars at Yahoo! Autos.
---------------------------------
Never miss an email again!
Yahoo! Toolbar alerts you the instant new Mail arrives. Check it out.
---------------------------------
Looking for earth-friendly autos?
Browse Top Cars by "Green Rating" at Yahoo! Autos' Green Center.