Dear all...
Kata ´Spiritual´ ibarat buah yang baunya harum ditengah tengah dahaga, tapi
cuma bisa mencium baunya tanpa bisa memakan buahnya itu sendiri.
Dengan kondisi demikian ´Spiritual´ adalah sebuah ´kata´ yang akan laris
manis untuk dijajakan kemana mana.
Saya sependapat dengan anda bahwa seseorang tak bisa lepas dari aspek
´spiritual´ dan ´material´, jika ada seseorang yang menyatakan hanya butuh
salah satunya saja, hal itu mirip dengan pertanyaan ´Anda memilih teman atau
uang?´. Padahal dalam hidup kita tidak lepas dari keduanya, dan pertanyaan itu
hanya ada dalam ´state of mind´ saja...
Akan tetapi, dalam membawakan term ´spirituality´ demikian banyak
terminologi-terminologi yang tidak konsisten, salah satu contohnya adalah kata
´ego´.
Dalam aliran ´spiritual´ dikatakan bahwa ´ego´ harus ditinggalkan, sementara
dalam psikologi ´ego´ adalah -katanya- adalah mempunyai fungsi kontrol atas
´id´ dan ´super ego´. Yang didudukkan dengan manis diatas singgasana hirarki
tertinggi kesadaran manusia... Lho, kok oleh aliran spiritual disuruh
tinggalkan?... Jadinya, penggunaan penggunaan term itu menjadi rancu sedemikian
rupa...
Makanya, sejak bertahun-tahun lalu, saya menyusun dan membangun sendiri pola
dan mekanisme yang merupakan antitesis dari keduanya (psikologi dan
spiritualisme) Malahan bahkan saya ´mengocok ulang´ pemahaman pemahaman yg
menurut beberapa orang -katanya- bahwa ´pengocokan ulang´ itu cukup
mengkhawatirkan secara psikologis.
Tapi, nyatanya saya bisa aja survive, tanpa ada konflik internal dan
enjoy-enjoy aja dengan keadaan, apapun masalah yang saya hadapi...
May FUN be with you...
SeksPeare
http://kopitalisme.tk
http://kopitalisme.blogspot.com
verri DJ <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Spritual dan material, dua substansi yang berbeda.
Yang mana, apa bila kita memandang sesuatu dengan materi maka seolah-olah
spiritual menjadi tidak perlu. Dan ini adalah natural.
Menurutku, spiritual dan material itu dua kutub yang berbeda satu poros.
Apabila posisi kita pada mediocre atau tengah-tengah maka akan dirasa nyaman
dalam kesetimbangan.
Apriori terhadap spiritual hanya untuk yang memiliki keuangan besar adalah
tidak tepat, karena hakikatnya tubuh siapapun perlu.
Yang menjadi masalah adalah menjual spiritual hanya untuk mengeruk kantong
pribadi dengan harga tinggi sekali sehingga untuk si kantong cekak tidak mampu
mengabsorbnya.
Sebenarnya spiritual bisa dipungut di tempat-tempat yang menyediakan 'santapan
rohani'. Hanya saja pada tempat-tempat tersebut tidak bisa menyajikannya untuk
porsi kaum materialis, sehingga kita orang awam tak bisa menggalinya, apalagi
ditambahkan amunisi 'pencarian essoterik'nya pas-pasan.
Untuk itu dirasa perlu, para penyaji yang menjual dagangannya dalam 'porsi'
eksklusif, dihimbau sekali-kali juga menjual dengan harga yang murah dan
terjangkau untuk kantong cekak.
Kini timbul masalah, apa bila dijual dengan harga murah maka orang
menganggapnya 'murahan'. Jadi dilematis.
Memang untuk menjadi adil itu susah, tapi kalau memungkinkan diupayakan agar
bisa terwujud.
Sekian komentar,
Salam,
Ferry Djajaprana
At 06:16 PM 3/21/07 +0700, you wrote:
Maaf, Pak. Saya mungkin termasuk kategori malas bin sombong.
Empat kali tawaran ikut training ESQ dari kantor (kebetulan kerja sama barter
iklan dengan pelatihan ESQ untuk karyawan) tak pernah saya ladeni.
Bagi karyawan dengan gaji sangat pas-pasan seperti saya, pelatihan emotional
dan spiritual quotion saya anggap kurang pas saja. Orang-orang yang sudah
mencapai kemapanan finansial saya pikir memang jauh lebih membutuhkan training
seperti ini. Apa lagi toh yang dikejar di dunia ini?
Tapi bagi kami, We desperately need financial quotion !!
On 3/21/07, Goenardjoadi Goenawan < [EMAIL PROTECTED]> wrote:
Pelatihan-pelatihan yang menggugah inner power dan energi spiritual yang
diadakan penyelenggara lainnya pun setali tiga uang: diminati publik, khususnya
kalangan profesional. Tengok saja kelas-kelas publik yang dipandu Mario Teguh,
Andrie Wongso, Reza M. Syarif, Arvan Pradiansyah, Goenardjoadi Goenawan, dan
sebagainya.
Euforia Go Spiritual di Dunia Bisnis
Kamis, 01 Maret 2007
Oleh : Joko Sugiarsono
Gelombang spiritualitas makin kuat melanda kalangan pelaku bisnis dunia,
termasuk di Tanah Air. Apa tujuan mereka menerapkan nilai-nilai spiritual itu?
Bagaimana pula cara dan gaya mereka mewujudkannya?
Ruangan besar di Jakarta Hilton Convention Center yang dingin itu dipenuhi
900-an orang. Hampir tak ada ruang yang tersisa. Dalam suasana yang rada
temaram, ratusan orang peserta itu tekun menyimak pesan-pesan spiritual yang
disampaikan instruktur, yang dibantu dengan lima layar lebarnya. Sesekali,
diiringi musik Kitaro yang membuat suasana makin khusyuk, para peserta tampak
menundukkan kepala, terpekur, melakukan evaluasi diri. Dalam evaluasi diri ini,
tak sedikit dari mereka yang meneteskan air mata.
Anda mungkin sudah tahu, ini bukan acara pengajian, melainkan pelatihan
Emotional Spiritual Quotient (ESQ) untuk kelas eksekutif yang digelar ESQ
Leadership Training di bawah pimpinan Ary Ginanjar Agustian. Sebagian besar
dari ratusan peserta itu adalah para eksekutif dan profesional yang dikirim
oleh pelbagai perusahaan: BUMN, swasta nasional dan swasta asing. Mereka bukan
hanya dari kalangan manajer biasa, tapi juga eksekutif senior hingga sekelas
CEO perusahaan besar di Tanah Air. Di forum ini, semuanya membaur menjadi satu,
sebagai pribadi-pribadi yang duduk bersila sama rendah, untuk menggali
nilai-nilai keagungan dan menghidupkan suara hati mereka. Meski tidak gratisan,
pelatihan ESQ khususnya untuk kelas eksekutif -- tarifnya tergolong
menengah-atas -- yang digelar setiap bulan selalu dibanjiri peserta. Untuk
kelas ini, hingga saat ini sudah memasuki angkatan ke-57, dengan peserta
rata-rata 800-1.000 orang. Total jumlah alumninya, bisa Anda kira-kira sendiri.
Bahkan,
pelatihan yang digelar sejak 2001 itu kini telah go international, yakni ke
Malaysia, Belanda dan Amerika Serikat.
Bukan hanya pelatihan ESQ ala Ary Ginanjar itu yang tak kesulitan mencari
peserta. Dunamis yang juga rutin membuka kelas publik untuk pelatihan 7 Habits
dan yang terbaru Keagungan Insani (ala Stephen Covey) pun tak perlu kebingungan
mempromosikan program ini. Pelatihan 7 Habits dijalankan sejak 1992, sedangkan
Keagungan Insani baru dimulai pada 2007. Total alumni pelatihan Dunamis hingga
kini sekitar 100 ribu orang. Pelatihan-pelatihan yang menggugah inner power dan
energi spiritual yang diadakan penyelenggara lainnya pun setali tiga uang:
diminati publik, khususnya kalangan profesional. Tengok saja kelas-kelas publik
yang dipandu Mario Teguh, Andrie Wongso, Reza M. Syarif, Arvan Pradiansyah,
Goenardjoadi Goenawan, dan sebagainya.
Euforia dan antusiasme seperti itu memang makin kentara belakangan ini. Tak
salah bila ada yang menyebut kini demam spiritualisme makin meruyak di kalangan
bisnis kita. Bukan kebetulan, referensi pendukungnya pun makin berjibun. Anda
bisa menemukan buku yang sarat dengan nilai-nilai dan pesan-pesan spiritual,
seperti Good to Great karya Jim Collins, The Corporate Mystic buah tangan Prof.
Gay Hendrick dan Kate Ludeman, atau yang lebih mutakhir The 8th Habit dari
Stephen Covey dan Megatrend 2010-nya Patricia Aburdene. Meskipun tak mengusung
judul dengan kata "spiritual", niscaya Anda akan menemukan di buku-buku
tersebut betapa pentingnya nilai-nilai luhur (great values) sekarang lazim
disebut spiritual values -- diterapkan kalangan profesional dan dunia bisnis.
http://www.swa.co.id/swamajalah/sajian/details.php?cid=1&id=5632
--
Rahmad Budi H
Republika
Jl Warung Buncit Raya 37 Jaksel
0856 711 2387
---------------------------------
Don't get soaked. Take a quick peek at the forecast
with theYahoo! Search weather shortcut.